Ilustrasi Pembangkit Listrik.

Floresa.co – Perusahaan Listrik Negara (PLN) menargetkan tiga pembangkit listrik beroperasi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah ini ditempuh untuk meningkatkan rasio elektrifikasi di wilayah tersebut.

Pasalnya, dibandingkan dengan seluruh provinsi lain di Indonesia, NTT masih menempati rasio eletrifikasi yakni 61,90%.

Pembangkit tersebut yakni Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Maumere, PLTMG Peaker Kupang, dengan kapasitas 40 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sokoria, dengan kapasitas 30 MW.

“Doakan bisa beroperasi tahun ini,” kata Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Timur, Bali dan Nusa Tenggara PLN Djoko Rahardjo Abumanan, seperti dilansir Katadata.co.id, Sabtu, 11 Januari 2019.

Sementara itu, Direktur Infrastruktur Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Noor Arifin Muhammad menjelaskan penyebab rendahnya elektrifikasi di NTT.

Menurutnya, hal itu terjadi karena kontur tanah yang keras.

Agar masyarakat bisa tetap menikmati listrik, PLN dan Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan konservasi Energi (EBTKE) telah berkoordinasi untuk menyalurkan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE).Tahun 2019. Targetnya ada 98.481 LTSHE yang disalurkan kepada masyarakat NTT.

Target penyaluran lampu itu menurun dibandingkan pada tahun lalu sebesar 172.996 LTSHE. Alasannya, karena adanya pembangkit PLN yang akan beroperasi tahun ini.

“Ada pembangkit PLN yang kapasitas jauh lebih besar,” kata Arifin.

Tidak hanya tahun ini, pada 2017 lalu, Ditjen EBTKE juga menyalurkan 79.556 LTSHE serta pada 2018 sejumlah 172.996 LTSHE.

Katadata/Floresa