Jalan kabupaten Jalur Lete-Lait, Kota Komba, Manggarai Timur sudah muali rusak. Padahal baru selesai dikerjakan pada Desember 2018. (Foto: Floresa).

Borong, Floresa.co – Aspal jalan kabupaten jalur Lete, Desa Gunung menuju Lait, Desa Gunung Baru di Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), NTT, kini mulai rusak. Padahal, ruas jalan itu baru selesai diaspalkan pada Desember 2018 kemarin.

Pantauan Floresa.co Kamis, 10 Januari 2019, di beberapa titik pada ruas jalan tersebut, tampak aspal sudah mulai retak dan terkelupas, mebentuk lubang-lubang kecil pada badan jalan.

Selain itu, terlihat juga aspal jalan yang mulai menggelembung.

Salah satu sumber Floresa.co dari desa Gunung Baru mengatakan bahwa sejak awal pengaspalan jalan tersebut memang kualitasnya sudah diragukan warga.

Pasalnya, kata sumber tersebut, penyiraman aspal oleh para pekerja pernah dilakukan di tengah guyuran hujan.

“Makanya jangan heran kalau aspalnya mudah terkupas,” kata sumber yang tidak mau namanya ditulis itu.

Sebelumnya, Erasmus Eman, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Gunung Baru asal Lait juga pernah menyoroti penggunaan batu lima-tujuh pada proyek itu yang hanya disusun pada titik-titik tertentu saja.

Menurutnya, batu lima-tujuh mestinya disusun pada seluruh badan jalan yang akan diaspalkan.

Ia menduga, pengerjaan lapen jalan tersebut tidak sesuai petunjuk teknis (Juknis).

Selain itu, Erasmus juga melaporkan soal penyiraman aspal yang dilakukan saat hujan mengguyuri wilayah itu.

Menurutnya, ketika penyiraman aspal dilakukan saat hujan, maka aspal akan membeku dan tidak lagi berfungsi dengan baik untuk merekatkan batu, kerikil dan pasir.

Selain Erasmus, salah seorang warga Gunung Baru, Vinsensius Joman juga mempertanyakan soal proyek pengaspalan jalan itu yang dikerjakan pada bulan November. Pasalnya, kata Vinsensius, setiap November, di wilayah itu pasti selalu diguyuri hujan.

Hal tersebut, lanjut Vinsensius, tidak akan mendukung kualitas jalan.

Ia mengaku kesal dengan langkah pemerintah mengatur jadwal pengerjaan proyek pengaspalan jalan itu tepat pada musim hujan karena akan berdampak buruk pada kualitas jalan.

“Lebih baik jalan ini tidak diaspalkan saja. Karena, di mana-mana itu, kalau pengaspalan jalan dikerjakan pada musim hujan begini, pasti tidak bertahan lama,” pungkasnya.

BACA JUGA: Lapen Dikerjakan Musim Hujan, Warga Ragukan Kualitas Jalan Lete-Lait di Kota Komba

Kala itu, Gaspar Enduk, Kontraktor CV Mixuse yang mengerjakan proyek tersebut  membantah laporan warga yang menyebutkan bahwa hanya di titik tertentu saja digunakan batu lima-tujuh. Ia menegaskan bahwa, dirinya sudah mengerjakannya sesuai dengan Juknis.

“Saya rasa itu tidak benar itu. Semua pake batu lima-tujuh. Kalau kita tidak pake batu lima tujuh, lapennya tidak bagus,” katanya.

Badan jalan yang sudah pecah dan bergelembung walaupun baru berusia sebulan. (Foto: Floresa).

Ia juga membantah dugaan kualitas jalan yang buruk akibat aspal baru disiram pada bulan November yang sudah memasuki musim hujan. Pasalnya, dugaan warga, jika penyiraman aspal dilakukan saat hujan, kualitasnya tidak terjamin.

“Kita kerja berdasarkan kontrak. Dan kontraknya masih lama yakni hingga Desember. Kalau kerja lewat dari masa kontrak, memang saya salah. Tetapi, masa kontrak belum selesai selama 150 hari,” ujarnya.

“Kalau soal hujan dan tidak, kita mengerti, kita tau. Dan, kami masih punya tanggung jawab dalam masa pemeliharaan selama satu tahun setelah masa kontrak,” tambahnya.

ARJ/Floresa