Blandinus, salah satu penyadap enau di Kampung Kobok, Wae Rana, Kecamatan Kota Komba, Matim.

OLEH: Willy Matrona, Wartawan Majalah Hidup dan Ketua Komunitas Lingko Ammi Jakarta

“Ayahku seorang penyadap nira. Ia kekuatanku. Denyut jantungku dan masa depanku. Jika engkau menemuinya katakan, begitu dalam cintaku padanya.”

***

 Liburan semester empat yang lalu, aku meninggalkan Yogyakarta setelah dua tahun berada di sana. Sebab pula tiga tahun sebelumnya aku menghabiskan waktu jadi kuli bangunan di Surabaya. Jadi, aku hampir lima tahun meninggalkan kampung halaman. Aku rindu wajah kampungku. Rindu Nuca Lale tanah kelahiranku di Flores sana. Aku rindu ayah, ia yang bergulat dengan kesendirian semenjak ditinggal ibu tujuh tahun lalu. Aku rindu rumah dan kebun-kebun yang tak pernah lekang kukunjungi dulu. Ayah merawat semuanya sendirian, dari fajar merekah hingga menyingsing. Aku selalu berpikir bagaimana ia mengusir kebosanan rutinitasnya, entahlah.

Saat kutiba dan membuka pintu rumah, sepi mencuat keluar. Aku menengoki setiap sudut ruangan namun tak mendapatkannya. Ayah tak ada di rumah. Intuisiku mencoba memastikan bahwa ayah sedang di ladang. Hari sudah petang, sebentar lagi ia akan pulang. Di depan rumah, di atas lesung yang rebah aku duduk menanti. Para tetangga menghampiriku, mereka turut menyambut kedatanganku.

Lama aku menungu ayah hingga temaram senja selimuti kami. Ia muncul juga, pria kekar yang selalu ku kagum, kini datang dari balik layar penantianku. Di bahu kanannya seikat kayu, sebuah mbere (tas tradisional yang terbuat dari anyaman)menyilang di depan dada tempat menaruh sirih, pinang dan tembakau. Ia tambahkan pula sebuah teong (tabung bambu biasanya berisi ari dan air nira) berisi air nira. Sedang mulutnya tak habis-habis memamah puah. Ayahku tak pernah berubah!

Krasa dan Lio mengikutinya dari belakang. Adalah anjing kesayanganya yang menemani hari-hari dan kesendiriannya. Krasa adalah anjing betina yang selalu menghasilkan anak yang banyak dan sebagaian besar adalah anjing pemburu. Dalam tradisi kami, mitos tipe anjing dapat diketahui dari kelahiran. Anjing yang lahirnya di dalam rumah akan menjadi penjaga rumah dan tidak pandai berburu. Sedangkan anjing yang melahirkan anak-anaknya di luar rumah, di hutan, gua, liang, pohon besar, batu besar dankebun akan menjadi anjing pemburu.Begitulah yang terjadi dengan Krasa. Anak-anaknya sering lahir di luar rumah.Karena itu anak-anaknya merupakan anjing pemburu.

Sedangkan Lio ialah anjing jantan, Raja pemburu yang garang dan selalu berhasil menyeruduk buruannya. Ia begitu lincah, taringnya kokoh, bulunya coklat tebal, mata menyalak mirip srigala. Ia pernah bergulat sendirian dengan Ular Sawa sebelum ditolong.

Saat bepergian sepanjang jalan ayahku akan berteriak “Ong Lio! Ong Krasa!” (Panggilan untuk anjing). Anjing-anjing itu akan mengibaskan ekornya dan mengikutinya.

Aku mendekati ayah, melepaskan kayu dari bahunya dan teong. Tak ada sepatah katapun mengalir dari bibirnya. Ia menatapku dan senyum bekunya mencair. Melelehlah air mata kami sambil berpelukan, melepaskan kerinduan yang menua dan menumpuk bertahun-tahun.

“Apa uangmu cukup dalam perjalanan anak?” Aku mengangguk-angguk kepala. Hanya sepenggal pertanyaan itu, setelah itu ia kembali diam. Ayahku jarang bicara banyak. Bila berbicara hanya hal-hal yang penting saja.

Kepulanganku sontak membuat warga kampung berbondong-bondong mendatangi rumahku. Mereka adalah kerabat-kerabat dan keluarga besarku yang juga menaruh kerinduan terhadapku. Rumah menjadi ramai mengusir kesepian yang juga bertahun-tahun.

***

Sebelum fajar mereka dan temaram pagi masi menari-nari,kami sudah beranjak dari rumah menuju ke kebun. Embun menetes ria di atas dedaunan dan ranting-ranting memberi kesegaran di pagi buta.  Sekarang aku yang membawa teong dan bekal. Sedangkan ayah membawa mbere dan memamah puah. Ayah masih seperti dulu. Mulang dan Krasa tak pernah absen dalam penjelajahan kami. Ialah anjing kesayangan yang selalu menemani ayah.

Tahun ini kopi tidak menghasilkan buah yang banyak, apalagi kemiri, semua menjadi semakin resah.

Ia kemudian mengambil tabung bambu yang disiapkan dan menaiki bambu itu.

“Ketika engkau menaiki pohon nira, bersikaplah seperti lelaki sejati dan seolah-olah memasuki pelaminan. Engkau seakan-akan membelai seorang perempuan!” Ia terbahak-bahak.

“Engkau seperti pria yang pandai merayu,mengelus dan membelai kekasihmu. Maka engkau akan mendapat kelimpahan darinya.”

“Ikutilah fase alam, jangan semaumu dan jangan senafsumu, agar ia juga memberimu kelimpahan”

“Engkau harus menaikinya dua kali sehari, memukul coko (batang produksi nira) tepat pada waktu dan dengan cara yang sama. Engkau juga harus mengiris batang coko dengan tepat, semuanya memiliki aturan. Jadi perlakukan dia seperti kekasihmu, bersikaplah sebagaimana ada keterikatan batin. Terkadang aku memperlakukan dia seperti manusia atau sebagaimana diriku”

“Pohon tuakku memberiku air di segala musim. Ia seperti menguji kesetiaanku. Entah mengapa akhir-akhir ini produksinya menurun. Tapi ia tetap memberikan kepadaku meski hanya setetes saja. Aku dengan sabar melakukannya. Setiap subuh aku bersama ternak-ternakku ke kebun, lalu mengunjunginya. Senja hari aku harus melakukan pekerjaan yang sama sehabis bekerja kebun. Begitulah kehidupan para petani yang terkadang ritmenya membosankan. Tetapi kami bekerja sendiri, membanting tulang dan mengucurkan keringat.”

Ia memandangku seksama. Anak, takdir kita berbeda. Kami menakluki bumi dengan menanam dan meramu. Kalian adalah generasi yang berbeda dan menakluki bumi dengan pengetahuan kalian. Kalian pergilah belajar. Kalian panjatlah pohon pengetahuan itu dan mendapatkan buahnya. Dapatkan benih pengetahuan itu, tanamlah dan tanamlah terus hingga kamu menikmati buahnya.

Dari bawa pohon nira aku memandangnya. Ia memukul-mukuli coko itu berkali-kali dengan ritme yang sama. Tiba-tiba ia turun dalam keadaan sedih.

“Sudah bertahun-tahun aku bersamanya dan kali ini dia berhenti. Anak, sudah waktunya tibatugasnya sudah seesai.” Ia memeluk pohon aren itu.

Teong itu kosong. Ini adalah enau terakhir yang aku sadap.” Ia menatapku dengan saksama.

“Jangan cemas dan takut. Masih ada enau lain yang dapat kita sadap nak”

Ia kini duduk bersimpu di bawa pohon nira di atas bale-bale bambu yang dibuat tangannya sendiri. Tangannya merogoh mbere dan mengambil meracik tembaku untuk dijadikan sebatang lisong. Ia membakar ujungnya dan perlahan-lahan mengisap lisong.

Aku menatapnya, ia tampak tegar dan wajahnya lebih bercahaya meskipun kulitnya sudah keriput. Menatapnya seperti menghisap kekuatan yang luar biasa. Aku ingin berbicara kepada orang-orang bahwa dia adalah Pahlawanku. Pria yang pergi pagi dan pulang petang. Ia yang hari-harinya nampak kesepian. Ia membiayai kuliah anaknya dari hasil menyadap nira, membeli-beli buku yang mahal dan makanan di Jawa, memberikan cahaya yang menghalau kegelapan dan mengusir kabut-kabut yang menghalangi masa depan anaknya.

Ayahku seorang penyadap nira. Ia kekuatanku. Denyut jantungku dan masa depanku. Jika engkau menemuinya katakan, begitu dalam cintaku padanya. Bajunya compang-camping dan memerdekakan anaknya dari kegelapan budi. Ia melepaskan aku dari perbudakkan dan belenggu ketidaktahuan. Meski hari-harinya dirantai kesepian, tulang-tulang dan daging-dagingnya sudah rentah, ia tak pernah menyerah.  Ia berjuang dari tetesan nira untukku.

***

Ema pahlawanku adalah kamu

Yang menyadap nira di kala embun pagi merekah

dan kala kolep menyembunyikan mentari

Ema, dengan kakimu yang rentah

 Engkau memapaku melintasi jalan fajar budi

Dan  tidak menelantarkanku pada kegelapan zaman

Apalagi kesepian di tengah kebisingan abad ini

Ema, suapi aku setetes nira

Tetesan yang memerdekakanku!!

*Ema: Panggilan untuk ayah dalam dialeg Manggarai

*Kolep: Saat mentari menyingsing