"Sabana" adalah novel dengan latar situasi di Pulau Timor, karya Misel Gual, seorang jurnalis yang kini bekerja di Jakarta. (Foto: dok. Misel Gual)

DR MARSEL ROBOT M.Si, Sastrawan NTT

Sabana. Permulaan penulisan dimulai dengan pertengkaran dengan keadaan. Realitas dibongkar pasang menurut persepsi, terutama menurut logika imajinatif. Atau penulis yang membangun bukit­-bukit di tengah belukar penuh debu dan horor, kemudian dihirup dengan caranya yang unik.

Terkadang ada radang dalam kegembiraan, ada ironi di bawah nestapa. Sampai bulan dan bintang ingin direbus di jantungnya. Terserah apa mau penulis. Dari sanalah skandal imajinatif menghajar penulis muda.

Misalnya, di suatu sisi ia ingin melampiaskan nafsu dan ada rasa tak sabar mengisap pentil susu realitas yang disentuh oleh jari­-jari imajinasinya. Pada sisi lain, terjadi kerepotan atau setidaknya belepotan di sana­ sini daya ungkapnya yang kadang sarat deskripsi. Persis percakapan usai minum arak. Maka terjadi pendarahan secara naratif. Itu juga kita sebut sebagai gerakan kreatif.

Novel “Sabana, Janji Sebuah Permainan Cinta” karya Misel ini termasuk dalam garda pengecualian itu. Sabana muncul dengan lagak literer yang konvensional. Sobekan-­sobekan kisah harian ditenun menjadi lembar­-lembar cerita bernas dan spontan. Tokoh-­tokoh begitu hidup dan berkarakter. Tokoh­-tokoh itulah yang memegang benang cerita sehingga terhubung satu dengan yang lainnya.

Dengan kata lain, Misel menjahit kisah­-kisah melalui tokoh yang dihidupkannya. Terkadang pembaca dibuat kapok oleh nama tokoh. Misalnya, bila kita paralelkan nama tokoh dengan latar Timor, tentulah nama Amanatun menjadi tipikal Timor, tetapi ia juga menggunakan nama Fatima atau Basty, nama-nama impor.

Inilah cara Misel untuk menceritakan problem pekerja di tambang mangan yang separuh orang Timor dan separuh orang Jawa. Dan, yang paling penting makna nama tokoh itu adalah klasifikasi antara kelas borjuis (yang direpresentasi oleh orang Jawa) dan kelas proletar (yang direpresentasi oleh orang Timor).

Leko misalnya, tokoh yang berdiri di tepi perbatasan, yaitu perbatasan masa lalu di desa yang adem ayem, di mana ada jagung yang belum diluruh di sudut tungku, ada lenguh sapi di belakang dapur, ada kokok ayam di dahan samping rumah. Sekarang Leko mengenal ekskavator, suatu makhluk aneh yang bisa mengeruk perut bumi dan mengeruk peradaban. Ekskavator memindahkan orang dari ritual berkebun ke ritual di gua batu mangan.

Posisi ini diperkuat oleh sudut pandang penulis (Misel Gual) sebagai “dia­an” (penulis sebagi observer) sehingga dengan bebas memberikan karakter tokoh-­tokohnya. Dengan demikian, terhindar dari narsistis (aku lirik­ penulis novel) dalam watak tokoh-­tokoh novel ini.

Keistimewaan lain novel Sabana adalah kemampuan penulis melengketkan persoalan khas yang sedang dihadapi masyarakat: masalah tambang dan kehancuran yang ditimbulkannya. Suatu protes imajinatif, lebih perih dan mengandung makna lain.

Misalnya, Misel melihat bukan sekadar tambang yang merusak lingkungan, lantas ekskavator menjadi monster yang mengeruk perut bumi, tetapi keadaan itu dapat mengerutkan peradaban. Bekerja di tambang mangan mengarahkan masyarakat ke peradaban pragmatis dan rutinitas tanpa ritual. Nyaris pekerja-­pekerja yang datang dari rumah adat dan ritual­-ritual yang berhubungan dengan pertanian disapu eskavator. Misel membicarakan hal yang serius dengan senda gurau.

Memang sulit dikatakan Sabana dinikmati sebagai sebuah novel yang runtut dari segi plot atau tematiknya. Atau, bagaimana sebuah novel dalam kepustakaan kesastraan (mengisahkan sejak awal hingga akhir kehidupan seorang tokoh).

Misel tidak mengikuti cara itu. Ia membuat semacam kebun lama yang ditanam apa saja. Orang ke kebun dan ke sudut mana saja selalu disuguhkan suasana lain. Misel adalah pengebun yang rajin menanamkan banyak tema di dalam novelnya agar pembaca dapat melegokan hasrat avonturistiknya dalam novel ini dan dapat dibaca dari mana saja, tidak mengganggu stabilitas emosi pembaca.

Misel melukiskan tokoh dengan cara ekstrim. Dalam cerita “Kepala Desa Baru” misalnya, Misel mengisahkan tokoh Agus Amanatun yang meninggal. Amanatun adalah penduduk desa yang menjadi sopir ekskavator, suatu pekerjaan yang dia sangat suka, bergengsi dan dibangga­-banggakan oleh penduduk di desa itu. Kisah bertambah unik ketika Agus Amanatun menerima ekskavator sebagai suatu keajaiban. Ia menerima teknologi dalam akal mitologis. Meski Amanatun sudah terjebak dalam mitologi modern tentang sopir ekskavator sebagai pekerjaan bergengsi, dielukan oleh masyarakat di kampungnya.

Namun, untung dan malang ditentukan oleh dukun di kampungnya itu. Ekskavator tidak lebih ampuh dari seorang dukun. Ia masih percaya pada mimpi, arwah nenek moyang yang sering dan selalu berhubungan dengan mereka. Ekskavator telah mengeksekusi arwah dan membuatnya sakit­-sakitan. Bagi orang Timor, arwah adalah wakil konstitutif antara orang hidup dan Uis Neno, sebutan untuk Tuhan. Ia bisa mendatangkan keuntungan, tetapi juga bisa mendatangkan kemalangan. Karena itu, harus dipelihara komunikasi yang harmonis dengannya.

Novel Sabana menjanjikan kenikmatan tema alternatif dalam memandang persoalan. Sabana, sebuah perjalanan imajinatif di pelataran kenyataan yang mengusik Misel. Ia membiarkan pembacanya berjalan dalam semak dan belukar oleh karena imajinasinya yang liar, atau melegokan rasa avonturistik di ladang tradisional.

Misel mampu membuat kisah sederhana menjadi unik dan terasa gurih. Inilah pengakuan penulis Misel atas kenyataan yang bermakna dan diolahnya menjadi Sabana. Janji terkadang lebih menyakitkan dari suatu perpisahan. Dan perjamuan hanya menjadi sia-­sia kalau kita dalam keadaan kebisingan di bawah alunan kabut senja yang merenda matahari dengan gerimis. Lenguh sapi yang disapu lenguh ekskavator yang menggusur roh-­roh leluhur di tanah penuh kenangan. Selamat membaca.

[Jika Anda tertarik menikmati novel ini, hubungi Misel Gual via WhatsApp 082298189140 atau Facebook “Mizelo Gual”.]