Lon Lee Allc (50 tahun) , Warga Singapura yang digigit komodi di Taman Nasional Komodo, Rabu 3 Mei 2017. Korban sudah dievakuasi ke kota Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat (Foto: Ferdinand Ambo/Floresa)

Labuan Bajo Floresa.co – Pelaku wisata di Manggarai Barat mengusulkan perlunya upacara adat di Taman Nasional Komodo (TNK), merespons masih sering terjadinya kecelakaan yang menelan korban jiwa.

Rafael Todowela, Ketua Forum Pemerhati Pariwisata Manggarai Barat (Formapp Mabar) mengatakan, semua pihak perlu memikirkan digelarnya teing hang, upacara adat Manggarai berupa pemberian sesajian kepada lelulur.

“Di dalam kaca mata budaya dan adat istiadat Manggarai, tempat di mana kita mencari makan wajib diberikan sesajian,” katanya.

Seperti halnya di kebun, kata Rafael, ada upacara teing hang, maka TNK yang juga lahan mencari nafkah atau dalam Bahasa Manggarai, kawe sewung tepo bagi banyak orang, perlu diadakan upacara serupa.

“Semua sesajian itu dipersembahkan kepada Ema Jari agu Dedek (Tuhan Sang Pencipta) dan para leluhur di alam baka agar  hasil pekerjaan kita memuaskan dan tidak terjadi bencana kelaparan. Sebaliknya, kita mendapat banyak rejeki atau dalam Bahasa Manggarai, kete api one, tela galang peang, mboas neho wae woang, kembus neho wae teku, “ katanya.

“Pertanyaan refleksinya adalah apakah kita pernah memberi rasa syukur kepada TNK? Atau kita hanya ambil hasil di sana,” lanjut manajer Komodotop Tour and Travel ini.

Rafael Todowela, kordinator Forum Masyarakat Penyelamat Pariwisata Manggarai Barat (Formapp Mabar) sedang berorasi di depan kantor DPRD Mabar, Senin, 6 Agustus 2018. (Foto: Floresa)

Pertanyaan itu, jelasnya, mesti menjadi refleksi bersama orang-orang Manggarai.

Hal ini, kata Rafael, juga berkaitan dengan mitologi orang Manggarai, di mana diyakini ada leluhur di darat dan ada leluhur di laut.

“Mereka adalah penjaga dan penopang hidup orang-orang Manggarai dan biasanya diberi sesajian sebagai tanda terima kasih kepada mereka,” katanya.

Ia mengusulkan perlunya upacara itu dengan menyembelih hewan kurban sebagai rasa syukur atas kekayaan alam TNK.

“Unsur yang terlibat adalah seluruh masyarakat sipil Manggarai, pemerintah dan Balai TNK,” katanya.

Kasus kecelakaan terakhir di TNK terjadi pada Minggu, 23 Desember, di mana kapal wisata KM La Hila terbalik di dekat Pulau Padar setelah dihantam gelombang. Dua orang masih dinyatakan hilang, yakni satu wisatawan domestik dan pemandu wisata.

Pada tahun lalu, seorang wisatawan asal Singapura juga digigit Komodo di bagian kaki yang membuatnya harus segera dilarikan ke rumah sakit di Labuan Bajo. Seorang turis yang diving di wilayah TNK juga dikabarkan hilang pada tahun lalu.

Selain itu, ada deretan peristiwa naas lainnya, termasuk terbakarnya speed boat milik Alba Cruise dan kandasnya kapal di Selat Rinca.

ARL/Floresa