Umat Paroki Mbata mengikuti misa perayaan Natal, Selasa, 25 Desember 2018.


Borong, Floresa.coUmat Stasi Munda di Paroki Mbata, Kevikepan Borong, Keuskupan Ruteng, Flores, NTT, rela berjalan kaki sejauh kurang lebih tujuh kilometer demi mengikuti perayaan natal di pusat paroki tersebut.

Stasi dengan jumlah umat yang menghampiri 500-an jiwa itu berada di wilayah administrasi Desa Gunung Baru, di sebelah selatan pusat Paroki Mbata, Desa Rana Mbata, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur (Matim).

Di sekitar wilayah itu, hampir setiap perayaan natal selalu diguyuri hujan. Akibatnya, jalanan cukup sulit dilintasi mobil dan sepeda motor karena berlumpur dan licin.

Selain itu,topografi yang bebukitan juga menambah deretan kesulitan. Apalagi umat dari stasi itu juga harus melintasi derasnya aliran sungai Wae Mokel yang membatasi wilayah desa Rana Mbata dan Gunung Baru.

Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri bagi umat stasi Munda sejak terbentuknya Paroki Mbata pada 2007 lalu.

“Perayaan natal jadi tantangan tersendiri untuk kami. Kadang, iman kita diuji. Rela jalan kaki dan seberangi sungai atau tidak ikut natal,” ujar Fensi San, salah satu ketua kelompok basis gereja (KBG) dari stasi Munda, kepada Floresa.co usai misa natal diGereja Paroki Mbata, Selasa, 25 Desember 2018.

“Kita butuh waktu, satu sampai dua jam untuk sampai disini (pusat paroki),” katanya.

Walaupun demikian, setiap perayaan natal, mereka selalu antusias.

“Kami yakin dan percaya bahwa Tuhan pasti selalu melindungi kami, meskipun sungai Wae Mokel banjir,” tutupnya.

Rosis Adir/Floresa