Ellen bersantai menggunakan hammock bersama teman perjalanannya di salah satu perhentian yang berlatar Kampung Wae Rebo. (Foto: Istimewa).

Di tengah-tengah kesibukan kuliahnya di Malang, Elen Madul sudah sangat merindukan pertualangan. “Sudah tiga bulan belum jalan-jalan lagi,” kata gadis asal Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini.

Elen begitu ia disapa, amat menyukai eksplorasi bentangan alam dan budaya terutama di daerah asalnya, NTT. Menurutnya, alam dan budaya NTT sangat beragam, alami dan masih terjaga dengan baik.

Karena itu, tiap liburan ia selalu menyempatkan dirinya untuk jalan-jalan. Berbagai tempat wisata di NTT sudah ia kunjungi, antara lain di Sumba, Timor, dan Flores pada umumnya. “Saya menikmati perjalanan dan suasana alam di NTT,” kata putri kedua dari lima bersaudara ini.

Jika hendak jalan-jalan, ia tak mesti bersama teman-teman. Terkadang ia berinisiatif jalan sendirian. “Saya suka bepergian ke alam walaupun sendirian,” ujar gadis kelahiran Juli 1996 ini.

Kini ia mulai menyadari, ia juga perlu menuliskan pengalaman dan kesannya tentang pesona alam dan budaya di NTT. Melalui tulisannya berikut ini, ia ingin membagikan pengalamannya saat berkunjung ke kampung tradisional Wae Rebo, salah satu tempat wisata favorit di Manggarai. 

***

Wae Rebo merupakan kampung terindah yang pernah saya kunjungi, setidaknya dibandingkan dengan kampung-kampung lain di Manggarai, Flores, NTT. Mungkin juga tidak berlebihan jika saya menempatkannya sebagai kampung terindah di Indonesia. Mengapa?

Kampung yang masuk di wilayah administrasi Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai itu terletak di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Hal itu membuat wisatawan menjulukinya sebagai kampung di atas awan.

Untuk sampai ke Wae Rebo, butuh perjuangan yang ekstra keras. Namun, dijamin lelah dan letih selama perjalanan akan terbayar saat Anda menginjak halaman kampung itu.

Banyak jalur yang bisa dilalui menuju Wae Rebo. Jika bertolak dari Ruteng, ibu kota Kabupten Manggarai yang terletak di bagian utara kampung itu, menempuh perjalanan kurang lebih lima jam. Dua jam pertama, Anda akan hanya bisa sampai di Kampung Dintor.

Ellen dalam perjalanan ke Kampung Wae Rebo. (Foto: Istimewa).

Lalu, dari Dintor, perjalanan dilanjutkan menuju Kampung Denge, yang merupakan kampung terakhir yang bisa diakses kendaraan. Setelahnya, Anda harus berjalan kaki hingga ke halaman Kampung Wae Rebo.

Sesampai di Denge, Anda bisa menanyakan informasi tentang perjalanan kepada masyarakat setempat. Nanti, mereka akan mengantarkan Anda ke pos pertama yang terletak di kampung itu. Dan, dari kampung ini, Anda akan trekking selama kurang 3 hingga 4 jam untuk sampai ke pos kedua. Bisa saja lebih cepat, tergantung kekuatan stamina dan fisik Anda.

Sepanjang perjalanan, Anda akan disuguhi bentang alam nan indah. Pohon-pohon rindang dan bunga anggrek hutan akan memanjakan mata Anda. Selain itu, udara yang berhembus sejuk beserta air pancur yang tumbuh dari gunung juga dengan cuma-cuma akan Anda dapatkan.

Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, Anda akan segera tiba di pos kedua yang letaknya di ketinggian. Dari sini Anda akan mendapatkan pemandangan yang lebih bagus lagi. Selain karena berada di ketinggian sehingga bisa menyaksikan bentang alam sekitar, bagusnya, Anda juga sudah bisa melihat kecantikan Kampung Wae Rebo. 

Namun, perjalanan belum berkahir. Dari dari pos kedua ini, Anda kembali menempuh perjalanan kurang lebih satu jam agar sampai ke Kampung Wae Robo.

Sesampai di Kampung Wae Rebo, masyarakat dan pemuka adat siap menyambut Anda. Ada juga pemandu yang disediakan pemerintah setempat bagi pengunjung yang berasal dari luar Manggarai atau wisatawan asing.

Alam sekitar Wae Rebo nampak masih asri, yang melengkapi keindahan tujuh unit rumah adat yang berdiri kokoh setinggi sekitar 30 meter.

Atap rumah adat itu sendiri merupakan kombinasi antara alang-alang dan ijuk yang menjuntai hingga ke tanah. Sementara, lantainya terbuat dari papan. Uniknya, konstruksi bangunan tidak menggunakan paku sebagai bahan dasar yang berfungsi merekatkan persambungan antar kayu. Tetapi, cukup menggunakan tali ijuk dan rotan.

Selain itu, ada juga compang atau tempat menaruh sesajian yang terletak di tengah-tengah kampung. Setiap pintu rumah adat dibangun menghadap compang. Mungkin, arsitektur ini yang membuat banyak wisatawan berwisata ke Wae Rebo. 

Setiap tamu yang mengunjungi kampung itu, terlebih dahulu akan diterima di rumah adat utama. Rumah ini berdiameter sekitar 15 meter dan dihuni delapan keluarga. Sedangkan enam rumah adat lain, berdiameter 12 meter dan dihuni enam keluarga.

Sebelum melangkah masuk ke rumah adat utama, Anda harus memberikan uang “pa’u wae lu’u” minimal Rp 50 ribu rupiah. Uang itu digunakan untuk meminta izin kepada leluhur kampung agar dilindungi selama berada di sana dan sepanjang perjalanan pulang.

Jika menginap Anda harus membayar hingga 350 ribu rupiah per orang. Sementara, jika tidak menginap, hanya membayar 250 ribu rupiah.

Di dalam rumah adat utama, ada beberapa tetua adat yang siap menceritakan banyak hal tentang adat-istiadat kampung itu. Anda juga akan mengikuti ritual adat. Dan, selama ritual adat berlangsung, Anda berkesempatan melihat barang-barang adat (antik) yang digunakan selama upacara.

Titik pusat Kampung Wae Rebo ialah compang. Melalui compang, warga bisa mendekatkan diri dengan alam, leluhur, serta Tuhan pencipta. Penghormatan kepada tiga unsur itu diwujudkan dalam berbagai upacara adat yang hingga hari ini rutin digelar. 

Di Wae Rebo semua rumah  Adat berbentuk bulat. Begitu pun compang, bentuknya juga bulat. Pemilihan bentuk bulat itu sebenarnya bukan sembarangan. “Di Wae Rebo, warganya percaya di dalam bulatan ada keadilan,” kata salah satu guide yang menemani perjalan kami.

Seperti masyarakat Manggarai pada umumnya, masyarakat Wae Rebo juga menganut sistem patrilineal (garis keturunan ayah). Sistem itu akan menentukan, selain terkait keturunan, juga terkait yang berhak menghuni rumah. Dan, di Wae Rebo, hak menghuni rumah ialah anak laki-laki yang lebih tua.

Sedangkan, mata pencaharian masyarakatnya dari berkebun serta menenun untuk perempuan. 

Harapan saya, semoga Kampung Wae Rebo tetap lestari, baik adat-istiadat, budaya dan alamnya. Terima kasih. Salam! 

Advertisement