Bupati Manggarai, Deno Kamelus (Foto: Floresa)

Ruteng, Floresa.co – Bupati Deno Kamelus mengkritik media dan para jurnalis yang ia anggap hanya menulis hal yang aneh-aneh dan tidak memberi ruang bagi publikasi prestasi yang diraih Pemkab Manggarai.

“Media tidak menulis (prestasi) ini,” ujar Deno dalam Bahasa Manggarai saat menyampaikan sambutan pada acara deklarasi Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) tingkat Kabupaten Manggarai di Aula Effata, Ruteng, Sabtu, 22 Desember.

“Yang mereka tulis hanya yang aneh-aneh,” lanjutnya, seperti dikutip mediaindonesia.com.

Deno menjelaskan, prestasi yang tak diberitakan adalah termasuk yang diberikan oleh Dirjen Perbendaharaan Negara tingkat Provinsi NTT, di mana Manggarai meraih peringkat kedua pemerintah daerah di NTT dengan penyaluran dana desa paling optimal sampai dengan tahap tiga tahun 2018.

Prestasi lain adalah penilaian Komisi Pemberantasan Korupsi yang menempatkan Manggarai pada peringkat kedua setelah Kabupate Belu dalam hal pencegahan korupsi, melalu penggunaan aplikasi monitoring center for preventive (MCP).

Deno mengatakan, KPK memuji Pemkab Manggarai karena menerapkan e-planing dan e-budgeting. 

“(Penghargaan) itu tidak ada sertifikatnya. Tapi pernyataan saat supervisi oleh KPK, Minggu yang lalu,” ungkapnya.

Penghargaan berikutnya, kata dia, adalah dari Dirjen Perbendaharaan Negara, di mana Manggarai menjadi kabupaten dengan penyerapan Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik dan dana desa tertinggi serta optimal.

Ia mengatakan Manggarai menduduki peringkat ketiga dari 21 kabupaten/kota di NTT untuk penyaluran DAK fisik sampai dengan tahap ketiga tahun 2018.

Diwawancarai Mediaindonesia.com usai kegiatan tersebut, Deno mengelak ketika ditanya apa maksud ia menyebut wartawan hanya menulis hal-hal aneh.

“Saya tidak mengatakan wartawan tulis yang aneh-aneh,” katanya.

“Saya hanya menegaskan bahwa saya belum membaca di media terkait dengan pemberitaan tentang penghargaan yang diberikan oleh Dirjen Anggaran,” lanjut Deno.

Sejauh ini memang tidak ada publikasi terkait penghargaan-penghargaan itu di media-media massa, termasuk yang berbasis di Manggarai.

Dalam beberapa pekan terakhir, pemberitaan terkait Deno mayoritas terkait langkahnya menghibahkan aset tanah seluas 24.640 meter persegi di Wangkung, Kecamatan Reok kepada PT Pertamina.

Deno dikecam, terutama oleh para aktivis mahasiswa yang berulangkali menggelar aksi unjuk rasa. Mereka mencurigai Deno, juga anggota DPRD berkonspirasi dengan pejabat PT Pertamina.

ARL/Floresa

Advertisement