Ilustrasi. (Foto: Iwan Jemadi)

Oleh: IWAN JEMADI, pecinta sastra

“Untuk apa sebenarnya kita hidup, Bu?”

Pertanyaan itu menggantung di sebuah ruang masa lalu, membentur langit-langit rumah yang dipenuhi jaring laba-laba. Hanya ada kami berdua ketika itu, aku dan ibu, yang sedang menunggu Ayah pulang dari perburuan tahunan. Aku memandang ibu, menunggu kata demi kata melompat keluar dari mulutnya. Ibu diam seperti sebuah telaga tanpa riak. Ia acap tersenyum menghapus kerut pada wajahnya yang ditampar usia yang menua. Tangannya membelai rambutku seakan belaian adalah jawaban atas pertanyaan.

Ketika sedang berdua, aku selalu membincangkan dan menanyakan banyak perihal aneh pada ibu, seakan sisa hidup ingin kami habiskan berdua dengan pertanyaan-pertanyaan. Tentang mengapa langit sewarna lautan, mengapa manusia sukar melupakan masa lalu, atau juga perihal ke mana orang akan pergi setelah mati. 

Pertanyaan-pertanyaan itu membentur jidat ibu yang pendidikanya tak pernah rampung di sekolah menengah pertama, karena tali keuangan yang membelenggu. Dulu, ibu berhenti sekolah dan mengurus perkebunan kopi kakek yang hasilnya tak bisa ditebak, juga payah diandalkan. Seorang lelaki kemudian mengambil ibu dari perkebunan kopi itu untuk dijadikan istri. Seorang lelaki yang kata ibu adalah ayah untukku, walau tak pernah kulihat batang wajahnya. Kepada lelaki itu, ibu tak pernah menaruh perasaan apa-apa selain sebuah cinta yang amat sungguh. Sebuah cinta yang mendesaknya bersimpuh di sudut ruang untuk mendaraskan doa. Sebentuk cinta yang menggerakkannya duduk di pintu rumah saban senja guna menunggu.

Tentang lelaki itu, ibu hanya menuturkan perihal-perihal baik seakan ia satu-satunya pria yang diciptakan Tuhan tanpa kekurangan. 

“Ayahmu itu seorang yang tak pernah putus asa. Ia gigih mengejar apa yang ingin diraih.”

“Itu sebabnya ia pergi meninggalkan ibu?”

“Ia pergi tanpa alasan, anak. Ia pergi dengan tujuan.”

“Jadi, apa tujuannya?”

“Kembali menemui kita di sini suatu hari nanti.”

“Untuk apa ia pergi menjauh jika tujuan akhirnya adalah kita?”

Pertanyaan itu kembali menggantung, membentur langit-langit rumah yang dipenuhi jaring laba-laba. Ibu menjadi telaga sunyi yang menyimpan misteri di kedalaman. Aku memilih menceburkan diri ke dalamnya, jatuh dalam pelukan ibu. Siapa ayah hanyalah sebuah teka-teki yang tak mampu kupecahkan. Tapi, dari ibu aku mencintai sosok ayah yang dikisahkannya. Itu sebabnya aku pun belajar menunggu seperti halnya ibu.

Kalau pertanyaan tentang ayah selalu membuat ibu menjadi telaga sunyi, aku beralih ke pertanyaan lain. Sialnya, ibu seringkali pandai menjelma telaga lain. Walau sungguh, ibu sebetulnya perempuan cerdas. Ia mahir mendongeng. Sering apa yang aku tanyakan, ia jawab dengan cerita yang didapatkannya dari entah.

“Orang-orang mati akan pergi kepada Tuhan, anak,” ceritanya suatu ketika.

“Tapi mereka tidak lekas bergegas ke sana. Selama empat puluh hari lamanya, jiwa mereka berkelana ke penjuru dunia, mengunjungi tempat-tempat yang tak sempat mereka lawat saat masih hidup. Setelah berlalu waktu empat puluh hari, Tuhan akan datang menjemput dan membawa mereka pergi menuju tempat Tuhan!”

“Apakah selamanya mereka akan menetap di sana?”

“Tidak, nak. Tempat Tuhan hanyalah rumah yang diperuntukkan bagi orang-orang baik. Sedang masa depan orang-orang jahat ada di bawah bumi, di sebuah tempat yang dekat dengan magma.”

“Kelak, aku inginkan tempat Tuhan sebagai rumah masa depan, Bu.”

“Jadilah orang baik!”

Ibu memeluk aku.

Akan selalu begitu percakapan yang terjalin di antara kami. Seorang bocah mengajukan pertanyaan yang sungguh kelewat serius, walau sebetulnya ia baru belajar buang air tanpa menyebabkan celana basah. Sedang ibu menawarkan sepaket jawaban dalam dongeng dan pelukan.

Di dunia ini, pelukan bisa menjadi cara pamungkas untuk menyelesaikan masalah, menjawab pertanyaan, berbagi kesedihan atau  untuk meneguhkan kebahagiaan. Ibu melakukannya untuk menjawab pertanyaan seakan Tuhan menganugerahkan kehangatan dalam setiap lengan perempuan. Aku kira lengan ibu seperti sebuah perpustakaan. Kata ibu, lengan dan perpustakaan sama-sama bisa meredakan kalut di kepala dan muara bagi setiap pencarian.

*** 

Ibu memang pandai mendongeng, dengan atau tanpa pertanyaan aneh yang aku ajukan. Namun, sepandai-pandainya ibu mendongeng, ia mendadak kelihatan aneh oleh sebab satu  pertanyaan, seakan seluruh rahasia hidupnya dapat dipecahkan oleh sebuah tanya. Aku mengulang-ulang pertanyaan itu seperti hari  yang pasti berulang dalam hitungan kalender. Bagiku sebuah pencarian akan berakhir meski tanpa kata-kata. Walau hanya isyarat. Kecuali pada pertanyaan yang selalu membikin ibu menjelma telaga sunyi.

“Untuk apa sebenarnya kita hidup, Bu?”

“Anak sudah menanyakan itu sebelumnya.”

“Tapi, Ibu tidak pernah menjawabnya!”

“Mengapa kau tanyakan itu?”

Untuk pertama kalinya, dalam riwayat percakapan aneh kami, ibu menanyakan alasan. Ia sertakan sebuah mengapa. Aku tak tahu apa sebabnya. Pertanyaan itu tumbuh begitu saja dari balik tempurung kepalaku seperti letusan kembang api. 

Beberapa hari sebelumnya, aku menyaksikan di televisi  berita tentang tokoh ternama yang mendadak mati sebab kelebihan mengonsumsi obat. Tokoh itu dipuja oleh khalayak, dielukan di mana-mana tapi mati sebagai pecundang. Televisi yang sama juga mengabarkan tokoh politik di negeri kami yang tiba-tiba ditangkap aparat karena sebuah perihal yang memuakkan, korupsi. Televisi di negeri kami, akhir-akhir ini, memang sering mengabarkan berita buruk. Aku tidak mungkin mengatakan semuanya itu kepada ibu sebagai alasan.

“Aku hanya ingin tahu, Mama,” jawabku ringkas menyembunyikan alasan yang sesungguh-sungguhnya.

Ibu tersenyum, memandangku lama sekali. Ia tidak menciptakan dongeng atau mengarang kisah. Aku menunggu, tapi ibu malah memelukku.

Untuk pertama kalinya aku merasakan pelukan bukanlah jawaban pamungkas. Untuk pertama kalinya pula aku merasa perlu mencari jawaban lain setelah pelukan. Kalau jawaban ibu sudah tak lagi menenangkanku, satu-satunya yang perlu aku lakukan adalah menunggu Ayah pulang dan bertanya kepadanya. Mungkin untuk pertama kalinya pula aku mencari pelukan lain untuk menemukan jawaban. Tapi, aku tak tahu kapan Ayah akan pulang. Kata ibu, Ayah akan pulang setelah purnama lewat dan perburuan tahunan berakhir. Tapi, perburuan tahunan itu berlangsung bertahun-tahun melampaui ratusan purnama. Dan, Ayah tak kunjung pulang.

“Ayahmu akan tiba suatu hari nanti membawakan daging celeng untukmu dan Ibu.”

“Kapan dia akan pulang, Bu?”

“Suatu hari nanti, anak! Tunggu saja!”

Aku menunggu di muka pintu, menanti Ayah membawakan daging celeng lengkap dengan jawaban atas pertanyaanku. Mungkin ia akan memelukku. Mungkin pada Ayah, jawaban atas pertanyaan untuk apa sebenarnya kita hidup bisa dituntaskan dengan pelukan. Aku pikir, mungkin itu sebabnya manusia suka berselingkuh. Jawaban yang tidak ditemukan dalam satu pelukan dapat ditemukan pada pelukan yang lain. Apakah mencari jawaban dalam pelukan adalah dosa? Entahlah. Pertanyaan ini tak pernah dan tak bakal aku tanyakan pada Ibu.

Aku menunggu, terus saja menunggu. Demi bertemu Ayah dan makan daging celeng, demi pelukan dan jawaban atas pertanyaanku. Tapi, Ayah tak pernah pulang seteguh apapun aku menunggu. Orang-orang kampung pergi dan pulang dari perburuan tahunan. Mereka memikul tombak dan daging celeng. Dari mereka, tak sekalipun aku mendengar kabar dan pesan dari Ayah.

Di ruang tengah rumah dengan langit-langit yang dipenuhi jaring laba-laba, Ibu sering duduk membetulkan anyaman tikar yang robek disesah waktu. Anyaman tikar itu seakan tak pernah selesai dirajut. Aku menghampiri ibu dengan pertanyaan yang mungkin akan kembali menjelmanya telaga.

“Untuk apa sebenarnya kita hidup, Bu?”

Ia menatapku. Pertama kalinya aku melihat ibu gagal menyembunyikan kesedihan di matanya. Ada senja yang muram di sana, dan gerimis turun tanpa menimbulkan bunyi. Ia melepaskan anyaman tikar dan mendekat ke tempat aku bersimpuh. Dari mata ibu lahirlah kesunyian dan teka-teki yang tak sanggup aku pecahkan. Aku menyesal telah mengajukan pertanyaan itu padanya.

“Kita menunggu, nak,” katanya.“Kita hidup untuk menunggu.”

Aku melihat gerimis itu telah menjelma mata air. Ingin kubersihkan diriku dari rasa bersalah pada mata air itu. Air mata ibu bisa menjelma air bah, jadi laknat atau berkat. Ia mengalir ke bumi, dalam senyap kembali kepada Tuhan.

“Menunggu Ayah?” tanyaku.

Ibu mengangguk. Aku tak tahu apa yang membuatnya begitu teguh menunggu Ayah pulang. Mungkin Ayah pernah menjanjikan hati celeng untuknya. Laki-laki, bagaimanapun, selalu meninggalkan janji kepada perempuan di setiap perpisahan, meskipun mereka tak sanggup untuk menggenapinya. Seperti Ayah kepada Ibu. Atau mungkin Ibu sungguh kesepian dan menantikan satu-satunya pelukan penyembuh yang tumbuh dari lengan Ayah. Aku tak tahu. Yang aku tahu, Ibu akan terus menunggu.

“Untuk apa menunggu Ayah, Bu?”

“Kamu tidak akan pernah paham, anak. Sampai kau jatuh cinta dan menikah!”

“Jadi, Ibu masih akan menunggu Ayah pulang?”

Ia mengangguk, berat sekali, seakan di ubunnya beban penantian menekan kuat. 

“Juga menunggu Tuhan, nak. Karena untuk itulah kita hidup!”

“Kapan mereka tiba, Bu?”

“Tunggu saja, suatu hari kelak. Mereka tiba tiba-tiba.”

Advertisement