Salah satu titik jalan menuju Desa Compang Kantar dan Desa Golo Meleng, Kecamatn Rana Mese, Manggarai Timur. (Foto: Floresa).

Borong,Floresa.co – Desa Compang Kantar dan Desa Golo Meleng di Kecamatan Rana Mese, hanya selemparan batu dari Lehong, pusat pemerintahan Kabupaten Manggarai Timur (Matim), NTT. Meski demikian, kondisi jalan menuju dua desa tersebut masih sangat memprihatinkan.

Dampak sulitnya akses transportasi ke kedua desa itu menyulitkan warganya untuk mengembangkan perekonomiannya.

Hitungan jarum spidometer sepeda motor yang ditumpangi tim Floresa.co, beberapa pekan lalu, dari Lehong menuju Desa Compang Kantar yang terletak di sebelah utara, hanya berjarak kurang lebih 4 kilometer.

Sementara, dari Compang Kantar menuju Golo Meleng, sekitar dua kali lebih jauh dari jarak Lehong-Compang Kantar. Sekitar kurang lebih 8 kilometer dan membutuhkan waktu kurang lebih satu jam.

Padahal, jika cukup dilapen saja, mungkin hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15-20 menit.

Jarak ke kedua desa tersebut terhitung sangat dekat bila dibandingkan dengan wilayah Matim lain seperti Poco Ranaka, Poco Ranaka Timur dan Kota Komba yang kondisi infrastrukturnya jauh lebih baik.

Begitu juga dengan jalan ke beberapa kampung yang letaknya tak jauh dari Lehong, misalnya Kampung Paka dan Mbeling di Desa Gurung Liwut. Jarak ke Kampung Paka dan Mbeling kurang lebih sama seperti jarak Lehong ke kedua desa tersebut.

Tetapi, warga Paka dan Mbeling lebih beruntung. Jalannya sudah beraspal dan bahkan sudah beberapa kali diperbaiki. Sementara, ke Compang Kantar dan Golo Meleng masih luput dari tatapan Tote dan Agas.

Lapisan batu telford menghiasi jalanan hingga ke kedua desa itu. Sementara, di beberapa titik, badan jalan berlekuk-lekuk dan mencekung sangat dalam karena bebatuan telford yang sudah terlepas. Kondisi itu menghambat laju kendaraan yang melintas.

Bila musim hujan, air menggenang di lekukan-lekukan dan cekungan yang sangat mirip dengan kubangan kerbau itu.

Di sepanjang jalan menuju dua desa tersebut, tampak aneka tanaman pertanian seperti kakao, cengkeh, kemiri dan beberapa tanaman lainnya, bertumbuh subur, mengiasi bukit dan lembah.

Tanaman pertanian yang menurut warga menghasilkan panenan yang melimpah, ternyata berbanding terbalik dengan kehidupan warganya.

Kehidupan warganya bagaikan neraka dalam surga. Hasil pertanian melimpah tetapi tak cukup membuat mereka sejahtera. Akses transportasi menjadi salah satu hambatan terbesar untuk memperbaiki ekonomi. 

Dalam sepekan, hanya satu atau dua kali kendaraan(bis kayu) masuk ke wilayah itu untuk mengangkut hasil warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani itu.

“Walaupun dekat dengan pasar Borong, kami kesulitan untuk menjual hasil pertanian kami ke sana,” kata Doni, salah seorang tokoh muda Golo Meleng, saat wartawan Floresa.co mendatangi desa tersebut pada pekan lalu.

“Paling kalau hari Senin dan Selasa, kita bisa ke Borong. Karena, tidak setiap hari mobil datang di kampung,” lanjutnya.

Kondisi yang demikian, kata dia, membuat para petani terpaksa harus menjual komoditasnya kepada tengkulak-tengkulak, meskipun dengan harga yang lebih murah dari pasaran.

“Ya, mau bagaimana, kita kan butuh uang mau beli ini, beli itu. Mau urus ini, mau urus itu. Terpaksa, kita jual ke pembeli (tengkulak) di sini. Walaupun selisih harga dengan di Borong kan beda. Bisa sampai tiga hingga empat ribu (rupiah),” ujarnya.

Sementara itu, Tinus, seorang warga lain mengaku jika jalan menuju dua desa itu ditelford sejak Anton Bagul memimpin Manggarai. Kala itu, Matim belum dimekarkan.

“Saya lupa tahun berapa (jalan itu ditelford), tapi yang saya ingat, waktu itu masa Pak Anton Bagul,  Bupati (Manggarai),” ujarnya.

Anton Bagul memimpin Manggarai hanya satu periode, yaitu sejak 2000 hingga 2005.

Andai saja ditelford pada 2005, maka, sudah 13 tahun,jalan tersebut tidak diperhatikan. Wajar saja jika kondisinya saat ini, tidaklayak dilalui kendaraan lagi.

Dan, pada 2007 lalu, Matim menjadi kabupaten defenitif, hasil pemekaran dari kabupaten induk, Manggarai.

Pemilihan bupati dan wakil bupati perdana pun dilangsungkan setahun setelahnya, yaitu pada 2008.

Kala itu, pasangan Yoseph Tote-Andreas Agas (Yoga) terpilih menjadi bupati dan wakil bupati Matim pertama, menyingkirkan pasangan Yosep Biron Aur-Gorgonius D Bajang (Abba).

Tak berhenti di situ, pada Pilkada 2014 lalu, Yoga kembali memenangi Pilkada Matim dan memerintah hingga 2019 yang akan datang.

Sepuluh tahun beberlalu, kondisi ruas jalan menuju dua desa itu masih jauh dari tatapan Tote dan Agas.

Padahal, jarak dari Lehong hanya selemparan batu dari Kantor Bupati Matim, tempat Tote dan Agas duduk memerintah Matim. 

Warga berharap, pada masa kepemimpinan Andreas Agas-Stefanus Jaghur (Aset) yang dipercayakan memimpin Matim periode 2019-2024, jalan menuju dua desa itu bisa diaspalkan.

“Kami dengar kan Pak Ande (Adreas Agas) akan bangun jalan aspal setiap kecamatan 10 kilo (meter) per tahun. Semoga saja, dengan begitu, jalan ke desa kami ini bisa diaspalkan di masa kepemimpinan Aset selama lima tahun ke depan,” ujar Tinus.

 Rosis Adir/Floresa

Advertisement