Pius Lustrilanang. (Foto: Sindonews)

Labuan Bajo, Floresa.coCalon DPR RI daerah pemilihan (Dapil) NTT 1, Pius Lustrilanang mengumbar kedekatan hubungannya dengan Ketua Partai Gerindra, Prabowo Subianto.

Menurut Pius, yang juga sudah selama dua periode menjadi anggota DPR RI dari Dapil NTT satu, meliputi Flores hingga Alor, walaupun dirinya pernah diculik Prabowo pada kisruh tahun 1998 lalu, namun hal itu tidak membuatnya menjauh dari calon presiden nomor urut dua itu.

Dan, ia mengklaim, Tuhan yang membuat hal itu terjadi.

“Kenapa? Karena saya dan Prabowo punya sejarah khusus. Yang diculik dan menculik. Itu sejarahnya. Apa yang disatukan oleh Tuhan jangan dipisahkan oleh manusia. Itu saja pokoknya. Jadi, Tuhanlah yang mempertemukan kami. Ibarat jodohlah,” katanya saat menghadiri kampanye Partai Gerindra di Kampung Racang, Desa Racang Welak, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Minggu, 9 Desember 2018 lalu.

Lebih lanjut, klaim politisi keturunan campuran Padang, Sumatra Barat dan Yogyakarta itu, kedekatannya dengan Prabowo memudahkan dirinya memperjuangkan nasib konstituennya.

“Kita tahu, PAD dan APBD kita terbatas. Bersyukur saya mampu berbuat banyak karena saya duduk di kursi pimpinan. Ketika kursi DPR masih 26 orang dari Gerindra tahun 2009, dan jatah pimpinan Gerindra cuma dua, saya salah satunya. Ketika (jatah kursi) 73, saya salah satu (pimpinannya). Ketika nanti naik jadi 100 sampai 120, saya tetap jadi salah satu pimpinan,” tambahnya.

BACA JUGA: Caleg Gerindra: Prabowo-Sandi Tidak Mungkin Menang di NTT

Ia juga mengatakan bahwa penculikan terhadap dirinya itu merupakan perintah mantan Presiden Orde Baru, Soeharto. Ia pun menepis jika Prabowo disalahkan.

“Dosa penculikan itu dosa sistem, dosa orde baru. Semua tentara waktu itu melakukan hal yang sama. Ketika sistem berubah, semua berubah. Yang bertanggung jawab adalah Soeharto sebagai pemimpin pemerintahan dan doktrin institusi, dwifungsi ABRI. Itulah yang menyebabkan semua itu terjadi,” tambahnya.

Kampanye tersebut diawali dengan Misa perutusan untuk Pius sendiri serta calon DPRD Mabar, Fidelis Sukur, dan calon DPRD Provinsi NTT, Maksimus Gasa. Misa digelar di Kapela Stasi Racang, yang  dipimpin oleh beberapa pastor.

Sementara itu, ribuan massa yang datang dari beberapa tempat di Dapil III Mabar meliputi Welak, Lembor dan Lembor Selatan turut meramaikan kampanye itu.

Melukis kedekatannya dengan Prabowo, Pius mengatakan agar massa yang hadir itu cukup mengenal dirinya dan Fidelis Sukur serta Maksi Gasa untuk mengenal Prabowo yang maju dalam Pilpres 2019 berpasangan dengan Sandiago Uno.

“Dan hari ini, saya pendukung Prabowo dan Sandiago Uno untuk pemimpin Republik Indonesia ke depan. Siapapun pendukung saya, pendukung Fidel (Sukur), pendukung Pa Maksi (Gasa), saya minta juga untuk mendukung Pa Prabowo dan Sandiaga Uno,” ujarnya.

Gak usah liat Prabowo, gak usah liat Sandi. Lihat  saja Pius Lustrilanang yang empat kali datang ke sini. Kenapa? Karena kalau Prabowo dan Sandiago Uno, gak akan datang ke depan pintu rumah kalian,. Yang sampai sini Pius Lustrilanang, yang sampai di sini kalau terpilih, Pa Maksi Gasa. Yang selalu jaga kandang, Pa Fidel dan mungkin yang lain juga,” tambahnya.

BACA JUGA: Pimpin Misa Perutusan Caleg, Pastor Harap Kapela Stasi Racang-Orong Diperhatikan

Ia menambahkan, walaupun kini Joko Widodo yang diusung partai PDI Perjuangan menjabat sebagai presiden, namun dirinya sebagai oposisi masih bisa memperjuangkan kepentingan konstituen.

Perjuangan itu, katanya, akan bertambah mudah jika Prabowo-Sandiago Uno memenangkan Pilres 2019.

“Saat dia tidak berkuasa, kami bisa datangkan banyak program. Apalagi kalau berkuasa. Jika Pa Prabowo menang, bisalah saya jadi salah satu menteri,” katanya.

Ia kembali menekankan kedekatannya dengan Prabowo, juga Sandi.

“Saya bertanggung jawab jadikan Sandiago Uno menang di DKI meskipun banyakan di sini mendukung Ahok pasti,” umbarnya.

ARJ/Floresa

Advertisement