Ilustrasi

Borong, Floresa.coKomisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Manggarai Timur (Matim), NTT menyebut, ada lima ladies yang bekerja tempat hiburan malam atau kafe di kabupaten itu positif terinfeksi HIV/AIDS.

“Dari lima (ladies) yang terinveksi itu, ada dua yang melahirkan anak dengan kondisi positif HIV/AIDS,” ujar Maria G Ratna, pengelola program KPA Matim saat ditemui Floresa.co di kantor bupati, Kamis, 6 Desember 2018 lalu.

Ketika Floresa.co menanyakan nama-nama kafe yang mempekerjakan ladies-ladies yang terinfeksi itu, Ratna menolak untuk menyebut.

“Tidak, tidak, jangan. Karena kami melakukan screening itu merata enam kafe yang ada di kabupaten Manggarai Timur. Bukan hanya di Cepi Watu. Satu yang ada di Tanggo,” katanya.

Ia mengatakan, selama ini ada orang yang juga menanyakan identitas ladies-ladies yang mengidap penyakit mematikan itu. “Saya jawab mereka, biar peluru menembus jantung kami ini, kami tidak akan beritahu siapa nama mereka,” ucapnya.

Menurutnya, selama ini, ada pengelola kafe yang sengaja menyembunyikan ladies-ladiesnya ketika KPA melakukan pengecekan di kafe tersebut.

Padahal, lanjutnya, sangat penting untuk melakukan pengawasan dan perawatan tentang kesehatan ladies-ladies tersebut.

“Padahal ini kerja sama antara pihak pemerintah, dalam hal ini KPA dengan pengelola kafe,” ungkapnya.

Ia juga mengatakan bahwa selama ini banyak orang khususnya netizen menyalahkan pemerintah yang mengizinkan lokalisasi di Matim.

“Saya katakan begini, pemerintah tidak pernah memberi izin lokalisasi. Beda Pub dengan tempat lokalisasi. Pub itu tempat hiburan malam,” paparnya.

Menurutnya, ketika ada transaksi seks di kafe atau pub, itu karena kenakalan pengelola dan pelanggan yang datang di sana.

“Karena, kenapa ada itu prostitusi, karena itu ada pelanggannya,” katanya.

Menurut pengakuan ladies-ladies, lanjutnya, mereka mendapat bayaran Rp 10.000 setiap kali menuangkan satu botol bir untuk pengunjung atau teman minum.

BACA JUGA: Pria Urutan Atas Pengidap HIV/AIDS di Matim

“Namun, ladies-ladies itu akan mendapat uang banyak ketika mereka siapkan perum atau tempat untuk tidur,” ucapnya.

Menurutnya, informasi soal ladies-ladies yang terinfeksi HIV/AIDS sangat penting diketahui publik, agar generasi muda tidak berkunjung ke pub-pub.

“Artinya begini, tidak ada lokalisasi. Yang ada izin tempat hiburan malam. Tapi, dalam keremangan malam itu, orang atau pengelola biasanya terjadi transaksi seks.”

“Itu yang disebut transaksi seks terselubung. Pemerintah tidak tahu,” ungkapnya.

Ia meminta agar para pengelola pub atau kafe di Matim untuk terbuka dan mau bekerja sama dengan pemerintah melalui KPA.

“Karena, meskipun banyak orang minta agar pemerintah tutup itu pub, itu tidak akan menyelesaikan soal. Tapi, justru menimbulkan persoalan baru,” tutupnya.

Apa yang disampaikan pengelola program KPA Matim itu berbeda dengan data pemetaan pengidap HIV/AIDS berdasarkan profesi, yang diperoleh Floresa.co dari pihaknya.

Dalam data itu disebutkan bahwa hanya ada satu pekerja hiburan malam yang terinveksi HIV/AIDS.

Rosis Adir/Floresa