Tampak rumah Yohanes Jemadi, Ketua RT 003, Kelurahan Rana Loba, Kecamatan Borong terendam air. (Foto: Floresa)

Borong, Floresa.co – Hujan yang mengguyuri wilayah Borong, Manggarai Timur pada Kamis sore, 6 Desember 2018 menyebabkan banjir, termasuk di wilayah Wae Reca, Kelurahan Rana Loba. Puluhan rumah warga pun terendam.

Peristiwa itu membuat warga korban memilih mengungsi ke rumah-rumah warga lain yang tidak terendam air.

“Di rumah, air setinggi lutut, banyak lumpur, jadi terpaksa kami mengungsi,” kata Yohanes Jemadi, Ketua RT 003,  saat ditemui Floresa.co, di rumah pengungsiannya, Kamis sore.

Perabotan di rumahnya, seperti kasur dan peralatan masak terendam air.

Di wilayahnya, kata dia, ada 13 rumah yang digenangi air.

“Ada lima keluarga yang mengungsi ke rumah tetangga,” ujarnya.

Sementara itu, Mama Rena, salah seorang warga RT 003 mengaku beras di rumahnya ikut terendam.

“Malam ini kami tidak tahu mau makan apa. Ada 250 kilogram beras basah karena terendam air,” ujarnya kepada Floresa.co, sambil membersihkan sisa-sisa lumpur di lantai rumahnya.

Pantauan Floresa.co, selain di RT 03, banjir juga melanda wilayah di RT 01 dan RT 02.

Tampak beberapa warga hilir mudik memindahkan perabot-prabot rumah tangga mereka.

Sungai Wae Reca Meluap

Menurut Jemadi, pemukiman dan rumah-rumah warga di wilayah itu terendam karena luapan air sungai Wae Reca dan karena air yang mengalir melalui badan jalan dari arah gedung Industri Kecil Menengah (IKM) Rana Tonjong, di belakang rumah jabatan para petinggi di Manggarai Timur.

“Semua (air) tertampung di wilayah persawahan. Air itu kemudian menyebar menggenangi rumah-rumah,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan itu juga disebabkan karena drainase untuk pembuangan air di wilayah RT 002, yang dibuat Pemkab Matim pada 2011 lalu, sudah ditutup oleh salah satu pengusaha yang membangun tempat usahanya di atas drainase itu.

“Sebenarnya air itu langsung mengalir ke sungai karena ada drainase pembuangan yang sudah dibuat pemerintah.Tapi, dua tahun kemudian, drainase itu ditutupi oleh pemilik toko Pancaran,” katanya.

Mewakili masyarakat, Jemadi meminta agar Pemkab Matim segera membuka kembali drainase pembuangan air itu.

“Kami orang kecil sudah jadi korban penutupan (drainase) itu,” tutupnya.

Rosis Adir/Floresa