Massa berdoa bersama di Halaman Kevikepan Labuan Bajo pada Jumat, malam 30 November 2018. (Foto: Floresa).

Labuan Bajo, Floresa.co – Komunitas Sant’Egidio, Labuan Bajo, Manggarai Barat (Mabar), NTT, menggelar aksi damai menolak hukuman mati di Labuan Bajo, pada Jumat, 30 November 2018.

Sant’Egidio merupakan komunitas awam kristiani yang lahir di Roma, Italia pada tahun 1968. Pendirinya juga seorang awam bernama Andrea Riccardi.

Aksi ini merupakan gerakan simbolis mengenang langkah progresif Region Tuscany, yang berada di bawah pemerintahan Kota Roma, Italia, di mana pertama kali dalam sejarah dunia, yakni pada 30 November 1786 silam, menghapus hukuman mati.

Dan, dengan semboyan, “Cities for Life, Cities Against Death Penalty, atau Kota untuk Kehidupan, Kota Menolak Hukuman Mati”, setiap tanggal 30 November, sejak tahun 1998 lalu, Komunitas Sant’Egidio di seluruh dunia mulai mengkampanyekan gerakan menolak hukuman mati.

“Aksi damai dan seruan penolakan hukuman mati ini memang hanyalah sebuah langkah kecil dalam upaya kita memperjuangkan penghapusan hukuman mati di Indonesia,” kata Penanggung Jawab Sant’Egidio Labuan Bajo, Yen Asmat, kepada Floresa.co, Jumat malam, 30 November 2018.

Sementara, untuk kontes Labuan Bajo sendiri, kata Yen, melalui aksi ini, diharapkan masyarakat memahami isu hukuman mati sehingga bisa menghargai kehidupan sebagai anugerah Tuhan.

“Saya bersyukur dan bangga sekali, walaupun usia Sant’Egidio Labuan Bajo masih sangat muda, tetapi mampu menggelar acara ini yang tentunya sangat membangun. Dan, melalui acara ini, kami bisa menyerukan dan mengambil bagian dalam kampanye city for life“, tambahnya.

Salah satu anggota Sant’Egidio tengah membagikan selebaran kampanye anti hukuman mati kepada warga yang tengah duduk santai di Kampung Ujung, Labuan Bajo. (Foto: Floresa).

Aksi bertajuk “Aku Anti Hukuman Mati” ini dibuka dengan berorasi mengelilingi Kota Labuan Bajo yang dimulai sekitar pukul 15.00 Wita.

Massa yang terdiri dari beberapa komunitas orang muda berbasis di kota itu memulai aksi dari Biara Bruderan Mop, di Cowang Dereng.

Selain anggota Sant’Egidio, anggota kominitas yang juga mengambil bagian yakni dari Gerakan Pemuda Pelajar Manggarai Barat (GP2MB), Komunitas Pemuda Anti Radikalisme (Kope Arat), Pemuda Katolik Mabar serta Komunitas Rumah Kreasi Baku Peduli.

Dari Biara Komunitas Bruderan Mop tersebut, menggunakan kendaraan roda dua dan empat, massa berjalan ke Sernaru. Dari sana dilanjutkan ke Jalan Ir. Van Beckum di depan SMAK Labuan Bajo.

Selanjutnya, massa yang diarahkan mobil polisi itu, menyusuri Jalan Puncak Waringin menuju Kampung Ujung, melintasi Jalan Soekarno Hatta dan berakhir di Halaman Kevikepan Labuan Bajo.

Di sepanjang jalan, walaupun diguyur hujan sejak awal acara, peserta tampak tidak peduli. Sembari beberapa anggota melancarkan orasi dari mobil komando, beberapa anggota lain yang menggunakan sepeda motor dengan semangat membagikan selebaran berisi ajakan dan pernyataan sikap anti hukuman mati kepada warga di sepanjang jalan yang dilintasi.

Sementara, di titik terakhir, yakni di Kevikepan Labuan Bajo, berbagai rangkaian acara digelar. Dimulai dengan sambutan perwakilan komunitas-komunitas, nyanyi-nyanyian dan pembakaran lilin serta doa bersama pengukuhan sikap menolak hukuman mati.

Walaupun diguyur hujan, peserta tetap setiap berkeliling dan membagikan selebaran kampanye kepada warga di sepanjang lintasan. (Foto: Floresa).

Pembina Sant’Egidio Labuan Bajo, Pastor Lorensius Gafur, SMM, dalam sambutannya kembali menegaskan sikap Gereja Katolik tentang hukum mati yang hingga hari ini konsisten menolak.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Kegiatan ini menginspirasi dan memberikan kesadaran baru bagi warga Labuan Bajo. Mari kita memulai, saat ini, di sini untuk mencintai kehidupan dan keadilan,” katanya.

Selama ini, berbagai kegiatan rutin juga telah djalankan Komunitas Sant’Egidio Labuan Bajo. Seperti pelayanan untuk anak-anak penyandang disabilitas di Biara Bruderan Mob, Cowang Dereng setiap hari Sabtu serta pelayanan di Panti Lansia Susteran Iottongnae, Wae Sambi, Labuan Bajo.

Dan, menurut Yen, berbagai dinamika dan tantangan tidak pernah terlepas dari perjalanan komunitas ini, terutama dalam menyakinkan serta menggerakkan orang-orang agar berminat dan mengambil bagian dalam gerakan pro kemanusiaan.

“Keterlibatan kelompak lain seperti dalam acara ini sangat kami syukuri. Harapan kami, semoga ke depan lebih banyak lagi yang bisa terlibat,” ujarnya.

Namun, ucapnya, menjawabi semua tantangan yang ada, tidak pernah ada yang tak terselesaikan jika berpegang teguh kepada Tuhan baik melalui doa pribadi maupun bersama anggota komunitas setiap hari pada pukul 18.00.

“Saya yakin, doa banyak membatu,” pungkasnya.

ARJ/Floresa