Willy Matrona (Foto: Istimewa).

Oleh:WILLY MATRONAWartawan Majalah Hidup dan Ketua Komunitas Lingko Ammi Jakarta

Setahun yang lalu, kaki saya begitu nyaman melintasi aspal yang hampir masuk kampung Poa. Saya baru yakin kalau jalan raya bisa masuk ke halaman kampung ini. Sayang waktu itu pengerjaan aspal belum rampung. Dari pengakuan warga, pengerjaan akan dilanjutkan pada tahun berikutnya.

Dalam perjalanan itu saya juga terlibat dalam sebuah pergunjingan, hanya, saya sebagai tukang nguping. Saya takut kalau itu hanya gosip atau sebuah hoaks. Akan tetapi apa yang mereka ungkapkan masih terekam jelas di memori saya.

Kira-kira begini, “aspal ini adalah sisa dari proyek lain. Kemudian akan dibawa ke kampung Poa dan dimanfaatkan untuk pembangunan jalan dari Kampung Owak menuju Poa”. Ada frase yang terkurung jelas dan membatu dalam pikiran saya yakni ‘aspal sisa’.

Saya tidak berbicara banyak dan hanya menduga-duga kebenaran cerita itu. Akan tetapi cerita yang sama juga beredar bahkan seminggu setelah proyek yang tidak sampai ke halaman kampung Poa itu. Tetapi kali ini lebih menarik, warga kampung ‘terkagum-kagum’ karena baru pertama kali melihat rumput tumbuh di atas aspal yang baru dikerjakan.

Pastor Paroki St. Antonius Padua Rii Pastor Agustinus Rame Pr, yang biasa melakukan visitasi ke tempat ini juga ikut kaget melihat aspal ditumbuhi rumput. Setelah cerita yang bukan rumor itu beredar barulah aspal yang ditumbuhi rumput tadi diperbaiki.

Satu tahun waktu berlalu, saya dikagetkan dengan postingan Pastor Agus di Facebook, tepat 20 November 2018 kemarin. Ia menulis: “Kerja Pengaspalan Jalan Raya di Poa, Desa Langkas, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Propinsi NTT Indonesia, belum selesai ke depan, sudah rusak lagi dari belakang. Aduh kasihan!

Postingan tersebut dikomentari oleh Nitizen. Akun Lusi Manik misalnya mengomentari soal iritnya penggunaan aspal demi keuntungan kontraktor. “Campuran bahan pengaspalan terlalu diirit hehehe biar besar kekantong. Hehehe, karna mereka tau tapi pura-pura tidak tau yang penting proyek jalan terus, masalah rusak urusan belakangan. Itu pendapat lusi romo. Selamat siang romo,” tulis Lusi.

Sedang nitizen lain Saverinus Ampur mengapresiasi Pastor Agus yang mengunggah foto jalan tersebut. Menurutnya unggahan pastor bisa menjadi awal untuk membuka tabir kegelapan di Desa Langkas. “Saya yakin hati romo digeraki oleh Roh Kudus. Jujur kami masyarakat awam hanya bisa melihat tapi tak bisa bersuara,” komentarnya.

Yoakim Jehati, Anggota DPRD Manggarai dari Fraksi Golkar turut mengomentari postingan Pastor Paroki Rii ini. Dalam komentarnya tersebut, ia ingin menelepon dan menemui kadis PU kabupaten tersebut secara langsung. “Saya sudah telpon kadis PU untuk kerja ulang yang rusak dan kadis PU berjanji untuk menangani hal ini secepatnya,”tulisnya.

 Asal Kerja

Pengerjaan jalan di Kampung Poa adalah sebuah gambaran bahwa cukong-cukong dan pemburu rente dalam konteks demokrasi bukan bualan belaka. Itu bukanlah mitos yang diproduksi dalam demokrasi, tetapi fakta.

Yang menjadi bahaya di sini adalah cukong-cukong dan pemburu rente merupakan fakta. Sedangkan kebaikan bersama, bonum comune adalah mitos. Saya bahkan mencurigai lebih jauh jangan-jangan di kaki kekuasaan rakyat itu hanya ilusi.

Kampung Poa seharusnya dilihat lebih dalam oleh pengampu kepentingan. Di sana ada manusia, warga negara yang harus mendapat sentuhan pembangunan. Di sinilah letak humanisnya sebuah pembangunan. Mereka bukanlah ilusi, setidaknya, seperti itu yang terekam dalam kacamata tuan penguasa. Warga kampung Poa bukanlah komoditas dan objek pelampiasan kekuasaan.

Mereka tidak boleh diberi jatah yang sisa dan berada di catatan pinggir sebuah kebijakan. Mereka adalah warga Indonesia yang telah dilindungi oleh undang-undang. Negara menjamin keberadaan mereka sehingga Negara harus hadir di tempat ini sepanjang hayat berdirinya NKRI.

Bagi penulis, ini adalah acuan gagalnya pemahaman terhadap demokrasi. Penguasa tidak melihat demokrasi sebagai kekuasaan rakyat tetapi rakyat yang dikuasai.  Penulis meyakini pembangunan jalan ini adalah politis. Ini adalah upaya melihat kelemahan rakyat (Poa) untuk diperdaya dan secara politis untuk dieksploitasi demi membangun lumbung suara.

Pembangungan jalan yang terkesan tidak dari hati ini hanya untuk mendongkrak suara di tahun politik nanti. Kerjanya asal-asalan saja. Tidak ada strategi pembangunan dalam proyek jalan ini, hanya strategi politik. Stop eksploitasi rakyat Poa!