Defita Astin. (Foto: Floresa).

Borong, Floresa.co – Defita hanya bisa menatap. Sesekali melemparkan senyuman. Tak ada sepata kata pun yang ia ucapkan saat Floresa.co menyambangi rumahnya, Selasa, 13 November 2018.

Hanya ibu dan ayahnya yang berbicara banyak soal derita yang dialami Defita yang cacat sejak lahir.

Ia tampak tak banyak bergerak, juga tidak merespon setiap pembicaraan Floresa.co dengan kedua orang tuanya.

Defita Astin, demikian nama lengkapnya, mengalami lumpuh, tuli dan bisu sejak ia dilahirkan oleh ibundanya, Modestasia Eme (59) pada 19 tahun silam.

Meski sudah pernah didata oleh pemerintah, namun Defita tetap saja belum mendapatkan bantuan sosial (Bansos) seperti penyandang disabilitas lainnya di Manggarai Timur (Matim).

“Saya terkadang iri melihat penderita cacat lain menerima bantuan dari pemerintah,” aku Modestasia dengan mata berkaca-kaca.

Menurut istri dari Fransiskus Nabat (71) tersebut, perjuangan putrinya selama kurun waktu 19 tahun untuk melawan penderitaan itu, sangat sulit. Apalagi di tengah terpaan keterbatasan ekonomi keluarga.

Wanita paruh baya asal Kampung Lada, Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda itu, sangat mengharapkan uluran tangan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Matim agar putrinya itu bernasib layaknya penyandang cacat di tempat lain yang sudah mendapat perhatian Pemda

Dan, hingga hari ini, harapan itu tak pernah purna dari kalbu Modestasia.

Kehidupan keluarga yang serba kekurangan membuat ia dan suaminya kesulitan untuk menopang kehidupan putri keenam mereka itu.

“Saya mohon pemerintah Manggarai Timur untuk membantu putri saya,” ucap Modestasia.

Hanya Dapat Kursi Roda

Modestasia mengisahkan, pada 2011 lalu, petugas utusan Pemkab Matim pernah mendatangi rumanya.

Saat itu, Defita didata oleh petugas dengan janji mendapatkan bantuan. Namun, delapan tahun berlalu, janji tinggal janji, bantuan itu tak kunjung datang. Hanya satu kursi roda yang Defita terima.

Keluarga Modestasia merasa dikibuli karena tak ada bantuan keuangan, sebagaimana layaknya orang cacat di banyak tempat.

Dan, hingga kini, modestasia dan keluarga masih sangat berharap Pemkab Matim merealisasikan janjinya, dengan cara apa pun, agar Defita mendapat bantuan.

Senada dengan sang isteri, Fransiskus juga mengaku masih merekam dengan baik momen putrinya didata petugas pada 2011 silam itu. Namun, hingga hari ini pendataan itu tak menghasil apa-apa.

“Sampai sekarang kami masih menunggu dan sangat mengharapkan bantuan pemerintah,” katanya.

Rosis Adir/Floresa