Pementasan terater dalam D’LoyFest, sebutan untuk festival seni tahunan SMAK St. Ignatius Loyola, Labuan Bajo, Manggarai Barat yang dimulai Kamis malam, 8 November 2018 . (Foto: Floresa)

Labuan Bajo, Floresa.co – D’LoyFest, sebutan untuk festival seni tahunan SMAK St. Ignatius Loyola, Labuan Bajo, Manggarai Barat yang dimulai Kamis malam, 8 November 2018 berlangsung meriah.

Acara itu, yang puncaknya pada malam ini, Jumat, nampak tak sebatas sebagai ruang ekspresi berbalut hiburan. Lebih dari itu, sebagai ladang harapan tumbuh dan berkembangnya generasi pengusaha.

Jika ukuran kesuksesan menjadi wirausaha di kemudian hari diukur dari seberapa banyak dagangan yang laku terjual di malam pertama festival ini, tentu tak perlu berpikir panjang untuk mengambil langkah persiapan untuk berwirausaha.

Pada malam pertama acara yang digelar di lapangan sekolah tersebut, warga dari segala usia tumpah ruah. Berdesakan.

Pengunjung, sembari menikmati suguhan acara, juga menikmati kuliner sajian siswa sekolah itu.

Saking banyaknya tamu, persediaan jajalan di belasan lapak tak bertahan lama. Semua laku terjual jauh sebelum semua rangkaian acara dipentaskan.

Tumpahnya warga di festival ketiga sekolah binaan para pastor Serikat Sabda Allah (SVD) itu patut untuk dicermati.

Persediaan lapak dan terjualnya jajanan di lapak-lapak itu juga demikian.

Ada interaksi. Ada penjual dan ada pembeli. Ada yang barang dagangannya laku hingga pundi-pundinya bertambah. Dan, tentu ada konsumennya.

Di sana, ada peluang dan harapan.

BACA JUGA: Gelar Festival Seni, SMAK Loyola Labuan Bajo Hadirkan Ivan Nestorman

Siswa sekolah itu, dengan segala kreativitasnya, mampu memikat tamu. Mereka mampu membaca peluang. Lalu, di sisi lain, ada harapan. Harapan lahirnya generasi pengusaha dalam diri pemuda-pemudi usia belasan tahun itu.

Salah satu lapak siswa SMAK St. Ignatius Loyola yang menjajalkan kuliner.

Menurut Kepala Sekolah, Pastor Yeremias Boru, aktor utama di balik konsep dan hal-hal teknis festival itu adalah siswa-siswa sendiri.

“Kami hanya menjadikan ini sebagai medium. Mereka sendiri yang berpikir hingga  menularkan idenya masing-masing di lapak-lapak tersebut,” kata Pastor Yeremias.

Tak terhitung, berapa banyak yang turut hadir dalam festival ini. Dan, saya mendapati ada satu dua sahabat yang juga turut menikmati alunan musik, puisi dan teater yang dipentaskan sembari mencicipi cemilan yang dibeli dari lapak-lapak itu.

Di antara para tamu itu, ada yang berujar, mereka mencari hiburan usai gagal lolos tes pegawai negeri sipil (PNS) di kota pariwisata itu.

Dengan nada khas pertemanan berbalut candaan, seseorang di antaranya menyampaikan dan mengajak.

“Lupakan PNS, ayo buka lapak dan jualan, berwirausaha, sebagaimana ajakan engkong Jusuf Kalla,” katanya merujuk pada pernyataan wakil presiden itu untuk tidak hanya berharap jadi PNS.

Berwirausaha adalah jalan lain, yang terbuka lebar.

Ario Jempau/Floresa