Foto orang dengan gangguan jiwa di Manggarai Barat yang dilampirkan dalam surat terbuka Pastor Avent Saur SVD kepada Bupati Agustinus Ch Dula. (Foto: Floresa)

Floresa.co – Pastor Avent Saur SVD, imam di Ende yang memberi perhatian khusus untuk orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) menulis surat terbuka kedua untuk Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dula.

Dalam suratnya itu, ia meminta agar Dula tidak menutup mata terhadap keberadaan kelompok marginal itu di wilayahnya.

“Sudah hampir delapan tahun Bapak memerintah rakyat Manggarai Barat. Tetapi sentuhan tangan pengabdian Bapak buat rakyat kita yang menderita gangguan jiwa tak kunjung terasa,” tulis Pastor Avent dalam suratnya yang dikirim pada Selasa, 23 Oktober 2018.

Ini merupakan surat kedua yang ia kirimkan untuk menggugah Bupati Dula. Surat pertama ia kirim pada 26 Juni lalu.

BACA: Pesan Pastor Avent Saur untuk Bupati Dula: Perhatikan Penderita Gangguan Jiwa

Pastor Avent adalah pendiri Komunitas Kasih Insanis (KKI) yang berbasis di Ende. Kelompok ini, dengan relawan yang tersebar di sejumlah daerah memberi pelayanan kepada penyandang ganggguan jiwa.

Berikut isi lengkap surat Pastor Avent:

SURAT TERBUKA II UNTUK BUPATI MANGGARAI BARAT

Salam jumpa lagi Bapak Bupati Manggarai Barat, Flores.

Dengan hati teriris dan jantung bergetar menyaksikan hebatnya derita saudara kita ini, untuk kedua kalinya, saya mengirim surat terbuka ini buat Bapak Bupati.

Sudah hampir delapan tahun Bapak memerintah rakyat Manggarai Barat (Mabar). Tetapi sentuhan tangan pengabdian Bapak buat rakyat kita yang menderita gangguan jiwa tak kunjung terasa.

Lihat saja saudara kita yang satu ini, warga di salah satu kampung di Kecamatan Welak, Mabar. Dua kaki terpasung di luar kampung, pada gubuk luar biasa, tanpa perawatan medis sedikit pun.

Pada surat terbuka pertama beberapa waktu lalu, kita menyaksikan saudara kita yang juga terpasung (dua kaki sekaligus satu tangan), juga di luar kampung dengan gubuk serupa, tanpa perawatan sedikit pun.

Kiranya dua rakyat jelata ini sudah cukup mewakili kenyataan adanya rakyat gangguan jiwa di Mabar.

Saya membayangkan jalan yang kurang terlalu sulit dalam menggapai saudara-saudari kita yang menderita gangguan jiwa yang hampir terdapat di seantero Mabar.

Jalan itu, adalah bahwa karena sejak 2017, pada Dinkes dan semua puskesmas sudah ada porsi khusus terkait pelayanan standar buat rakyat gangguan jiwa, maka kiranya belum terlambat untuk mengadakan pelatihan kesehatan jiwa buat segelintir dokter agar berani mendiagnosis pasien gangguan jiwa.

Demikian juga perawat, dilatih, agar berani mengunjungi dan mendatakan pasien-pasien gangguan jiwa.

Kiranya tak perlu saya menjelaskan di sini perihal aneka kebijakan dan prosedur lainnya, misalnya, terkait obat dan koordinasi antara Puskesmas dan Dinkes Kabupaten serta Dinkes Provinsi dan Ditjen Kesehatan Jiwa di Kementerian Kesehatan, sebab Bapak beserta pemimpin pada organisasi perangkat daerah sudah pasti lebih tahu.

Besar harapan, pada suatu waktu nanti, kita berjumpa, berjumpa dengan para relawan kemanusiaan peduli orang dengan gangguan jiwa yang selama ini sudah berjalan-jalan dari kampung yang satu ke kampung yang lain di wilayah Mabar, dan yang juga sudah berkontak dengan beberapa pihak puskesmas, demi mengangkat martabat rakyat yang dililit derita jiwa.

Bivan/ARL/Floresa