Musisi Manggarai Illo Djeer tertawa lepas di sela diskusi seri kelas berbagi 'Musik Etnik Manggarai' bersama puluhan orang muda lintas sekolah dan komunitas di Rumah Kreasi Baku Peduli pada Kamis, 11 Oktober 2018. (Foto: Floresmuda.com/KBS)

Pelukis Le Picador, Pablo Picasso suatu ketika sampaikan pesan ‘Seniman yang buruk meniru. Seniman yang baik mencuri.’  Seperti Picasso, T.S. Elliot kemudian membaca ulang dan mengdaptasinya ke dalam dunia sastra. “Penyair amatir meniru; penyair dewasa mencuri.” Memaknai keduanya, baiklah mengutip Austin Kleon bahwa tidak ada lagi yang namanya orisinalitas hari ini, dan segala hal ialah gabungan dari apa yang telah dilakukan.

‘Mencuri’ mengandaikan adannya penciptaan ulang (recreate) atas sebuah karya baru yang lebih baik dari hasil karya sebelumnya. Jadi mengambil karya sebelumnya yang sudah ada sebagai inspirasi dan memolesnya dengan sentuhan baru berdasarkan karakter sang seniman sehingga menjadi sebuah karya utuh yang original. Proses dan hasil penggabungan itulah yang menjejak sebagai karya seniman yang baik.

Dan memang, sudah dapat dipastikan bahwa apa pun karya seni yang hari ini disajikan adalah sebuah hasil pembacaan yang berulang atas dan dalam persinggungan dengan varian karya sebelumnya. Baik itu karya sendiri sang seniman maupun karya seniman lain. ‘Mencuri’ kemudian menjadi sebuah tindakan epistemis sekaligus imajinatif, dimana sang seniman merangkai ide-ide besar yang ada pada seniman lain, selanjutnya berproses dalam ruang diamnya untuk kemudian melahirkan apa yang harus dia berikan kepada dunia sebagai karyanya.

***
Tindakan ‘mencuri’ dalam perspektif itu harus dipunyai oleh setiap seniman. Salah satunya adalah musisi. Illo Djeer musisi kelahiran Manggarai yang sementara ini menetap di Jakarta dalam kelas berbagi edisi musik etnik Manggarai di Rumah Kreasi Baku peduli pada Rabu, 11 Oktober 2018 menggarisbawahi itu sebagai salah satu elemen penting dalam berkarya.

Musisi jebolan sastra Universitas Indonesia ini menjelaskan bahwa musisi Manggarai hari ini tidak dapat menghindari pengaruh musik eropa, namun demikian bukan berarti musisi Manggarai kehilangan keetnisannya sebagai Manggarai.

“Saya sendiri bahkan tidak dapat meletakkan karya-karya saya sebagai musik etnik Manggarai, walau menggunakan bahasa Manggarai. Karena proses kreatif bermusik saya dipengaruhi dengan semua jenis dan aliran musik. Semua jenis dan aliran musik saya suka’’ akunya.

‘‘Misalnya, ketika saya masuk dan bergabung dalam komunitas musik keroncong Toegoe, saya harus dapat menyesuaikan diri dengan langgam musik keroncong Toegoe. Saya mau bergabung dengan komunitas musik ini selain karena musiknya, juga karena sejarahnya. Dalam hal-hal tertentu musik keroncong bersinggungan dengan pengalaman bermusik masa kecil saya ketika masih di Ruteng”

Baca selengkapnya di sini: Seniman yang Buruk Meniru, Seniman yang Baik Mencuri