Warga tengah berusaha mendapatkan pelayanan saat mengurus data kependudukan di loket pelayanan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Manggarai Timur, pada Selasa, 9 Oktober 2018. (Foto: Floresa).

Borong, Floresa.co – Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Nusa Tenggara Timur (NTT) dinilai tidak profesional melayani warga yang mengurus data kependudukan. Bahkan, setelah diberikan uang prosesnya baru dipermudah, demikian pengakuan warga asal Elar Selatan kepada Floresa.co, di Lehong, Selasa 9 Oktober 2018.

Menurut warga yang meminta namanya tidak disebutkan itu, pertama kali ia memilih memberikan uang kepada pegawai di instansi tersebut pada tahun 2015, saat hendak mengurus akta kelahiran milik adiknya.

“Saat itu saya beri 150 ribu rupiah. Dan, waktu itu, saya minta teman foto saat saya kasih uang ke pegawai itu,” akunya.

Menurutnya, dirinya menempuh cara itu agar mempermudah proses pengurusan data-data kependudukan yang ia butuhkan. Jika tidak, dirinya khawatir proses akan terbelit-belit dan rumit.

“Sering kasi uang, lewat belakang. Kalau kita menggunakan uang cepat prosesnya. Itu bukan uang suap. Kita realistis saja. Apalagi kita berasal dari Elar Selatan,” lanjutnya.

Bayangkan, dari kampungnya menuju Lehong, Ibu Kota Matim, ia harus menempuh perjalanan kurang lebih 4-5 jam jika menggunakan sepeda motor.

Sedangkan, jika menggunakan bis kayu atau “oto colt” sebutan populer orang Manggarai, membutuhkan waktu sekitar 8 jam. Selain itu, jelasnya, untuk sekali perjalanan, estimasi anggaran 500 ribu rupiah mencakup transportasi, konsumsi serta penginapan.

“Kalau tidak kasi uang, kapan selesainya dan kapan pulang ke kampung dan selesaikan pekerjaan lain,” imbuhnya.

Bukan hanya memberikan uang, kerap juga ia mengajak beberapa pegawai di dinas tersebut untuk makan dan minum di kantin di belakang kantor tersebut.

“Kadang-kadang, kita juga traktir makan, kopi dan rokok. Agar proses dipermudah,” ulangnya.

Lalu, pada Senin, 8 Oktober, dirinya kembali mendatangi kantor Disdukcapil untuk mengurus kartu keluarga (KK) miliknya. Ini kali ketiga ia datang, sejak September lalu. Namun, hingga Selasa, 10 Oktober 2018, urusannya tak juga selesai hingga akhirnya memilih pulang ke kampungnya. Kali ini, ia tidak memberikan uang sepeser pun kepada pegawai Disdukcapil.

“Mereka hanya kasih kertas tanda terimanya. Kalau dikumpul ini kertas, sudah terlalu banyak. Mungkin bulan depan baru datang lagi,” keluhnya sembari menunjukan potongan kertas tanda bukti berwarna putih dari dalam saku bajunya.

Selain itu, sekitar pukul 15.00 Wita, warga lain, yang juga meminta identitasnya tidak disebutkan karena takut semakin dipersulit saat mengurus berkas di kesempatan berikutnya sempat memarahi petugas di loket. Bahkan ia juga sempat melemparkan kartu keluarga yang sudah diremas ke arah petugas.

Peristiwa terjadi lantaran permintaannya untuk mengubah data di kartu keluarganya tidak dilayani.

“Saya hanya minta supaya tukar nomor urut nama keluarga di KK. Tapi, mereka minta supaya sertakan ijazah. Apa hubungannya?” keluhnya.

Pantauan Floresa.co hingga Selasa, 9 Oktober 2018, Disdukcapil dipenuhi warga karena bertepatan dengan seleksi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dalam sehari, sekitar ratusan orang mendatangi kantor tersebut untuk mengurus data kependudukan.

Sementara, loket pelayanan hanya tersedia 4 buah. Jumlah tersebut serasa tak cukup untuk mengakomodir semua warga yang datang.  Situasi diperparah karena pihak Disdukcapil tak menyediakan nomor antrian sehingga membuat warga berebutan untuk dilayani terlebih dahulu.

“Semestinya loket pelayanannya ditambah, daripada masyarakat menumpuk di keempat loket yang ada,” kata sumber asal Elar tersebut.

“Di loket itu permintaan cetak KTP, pengaduan kesalahan berkas, mengurus akta nikah, akta kematian, dan akta lahir. Juga untuk cetak kartu keluarga. Pokoknya di situ semua,” lanjutnya.

Untuk mengurai persoalan itu, ia berharap pihak Disdukcapil mengklasifikasi loket pelayanan berdasarkan kebutuhan. “Misalnya yang mengurus KK di satu loket, yang urus KTP juga demikian. Hingga yang memperbaiki data-datanya. Harus dibedakan,” katanya.

Sementara, di luar kantor, tampak beberapa pegawai menemui warga, sembari menerima berkas-berkas. Bahkan, ada juga yang memberikan lembar KTP kepada warga lain. Namun, tidak diketahui alasan mereka melakukan itu di luar kantor.

Selain itu, di pintu barat kantor yang sebelumnya dipimpin Paulus Tamur itu bersiaga beberapa Polisi Pamong Praja (Pol Pp). Dikabarkan, pengerahan Pol PP itu karena Rabu pekan lalu, ada warga yang mengamuk karena mendapat pelayana buruk.

Pelaksana tugas (Plt) Disdukcapil, Robertus Bonaventura yang dihubungi Rabu pagi, 10 Oktober 2018 mengaku berkeberatan mengklarifikasi soal tersebut. Ia hanya bersedia jika menemuinya secara langsung di kantor Disdukcapil di Lehong.

“Bukan bermaksud untuk tidak menyampaikan pendapat. Yang paling penting bagi kita ada interaksi secara langsung agar lebih mengenal ke depannya.”

“Karena terus terang, saya masih 9 hari menjabat Plt. kepala dinas. Teman-teman mungkin selama ini, Pa paul (Mantan Kadis) kenal. Tapi, saya belum tahu,” jelasnya.

Menurutnya, pertemuan langsung akan memudahkannya mengklarifikasi laporan-laporan tersebut sehingga pada hari-hari mendatang, wartawan tinggal SMS atau WA jika ada persoalan di dinas tersebut.

“Saya butuh kunjungan bapak supaya kita bisa ketemu langsung. Biar tahu fisik orangnya, identitas orangnya. Apakah ada kartu anggota (kartu pers).”

“Karena bagi saya, saya mau pastikan apakah benar dari Floresa. Yang saya kenal itu hanya dua (wartawan); Pa Alber dan Pa Fansi. Mereka sudah perna ketemu saya. Karena saya sudah tahu persis, sehingga mereka WA ke saya, tinggal saya balas.”

“Saya butuh kunjungan bapak supaya kita bisa ketemu langsung. Biar tahu fisik orangnya, identitas orangnya. Apakah ada kartu anggota (kartu pers),” tutupnya.

Sementara, Selasa, 9 Oktober, sekitar pukul 16.00 Wita, saat kantor tutup, masih juga ada warga yang belum juga mendapat pelayanan usai mengantri cukup lama, termasuk empat warga yang berasal dari Lempang Paji, Kecamatan Elar yang ditemui Floresa di kantin belakang kantor tersebut.

“Kami tadi pagi dari Lempang Paji. 6 jam pake motor. Mereka bilang ini kartu keluarga lama. Tapi, tidak tau lagi yang barunya dimana,” aku salah seorang dari antara mereka.

ARJ/RA/Floresa