Nikolaus Baru, warga Mbeling, Gurung Liwut, tengah menunjukan sejumlah kwitansi pembayaran sehen kepada PLN saat ditemui Floresa.co di kediamannya.

Borong, Floresa.co –Jarum jam menujukan pukul 09.17 Wita. Jalanan di Kampung Mbeling, Desa Guru Liwut, Kecamatan Borong, Manggarai Timur (Matim) tampak ramai. Warga kampung berlalu-lalang. Ada yang ke kebun, ada juga yang hendak “lejong” (bertandang) ke rumah tetangga.

Begitu juga kendaraan roda dua dan empat juga tampak lalu lalang. Ada yang menuju ke daerah bagian utara, seperti Waling, Bea Laing, Colol dan sebagainya. Juga yang menuju ke wilayah bagian selatan, yakni Borong dan sekitarnya.

Sementara di sekitar rumah Nikolaus Baru (65), pelanggan lampu sehen yang hingga kini masih belum mendapat meteran listrik, beberapa pemuda tengah memperbaiki sepeda motor. Ada juga yang tengah bercengkerama sembari menghabiskan kopi dan batang rokoknya. Bengkel sepeda motor milik tetangga Niko yang berdiri tepat di sudut rumahnya juga sudah dibuka.

Sebentar kami berdiri di depan rumah beratap sing dan setengah tembok itu. Seorang rekan mencoba mengetok pintu. Usai menunggu sekitar lima menit, Nikolaus menemui kami di pintu rumah dan langsung mempersilakan masuk.

Kami masuk dan dipersilahkan mengambil tempat duduk di kursi kayu panjang dan beberapa kursi plastik di ruangan tamu.

Usai berbasa-basi sebentar, Floresa mencoba menanyakan perihal persoalan yang tengah dihadapi Nikolaus. Sejenak ia menengadah ke langit-langit rumahnya sembari menghela nafas panjang.

Dengan muka berseri namun sedikit menahan amarah. Perlahan, ia mencoba menuturkan perjuangannya untuk mendapatkan meteran listrik gratis 450 VA dari Perusahaan Listrik Negara (PLN).

“Saya sudah menjadi pelanggan sehen sejak tahun 2012. Saya juga rutin membayar iuran. Mengapa belum juga mendapat meteran?” tutur ayah empat anak ini pada awal September lalu.

Menurut Niko, dirinya mendaftarkan diri sebagai pelanggan sehen di desa tetangga yakni di Desa Golo Lalong, yang berjarak sekitar 10 Kilometer dari Mbeling. Saat itu, katanya, ada sisa formulir dan Niko menawarkan diri untuk menjadi pelanggan. Pihak PLN yang menangani proyek sehen tersebut menyambut baik permintaan Niko.

“Kebetulan lagi satu formulir sehen. Saya usul kepada petugas, barang kali saya bisa, saya dari Gurung Liwut,” tuturnya.

“Boleh bapa ambil di Golo Lalong, tapi domisili di Gurung Liwut. Pa PLN pertama nanti karena bapak ini seolah-olah masuk saham ke PLN,” terang Niko mengulang penuturan petugas PLN Rayon Ruteng yang menangani proyek sehen di Desa Golo Lalong itu.

Pernyataan petugas itu membuat Niko senang. Sejak saat itu, ia rutin melunasi tagihan.

“Dari situ sampai sekarang, saya kasih iuran, kwitansi yang ada ini ada 6, dari 2014 sampai 2017,” kata Niko sambil menunjukan potongan kertas kwitansi pembayaran sehen kepada PLN kepada Floresa.

Dan, terakhir, pada akhir 2017 lalu, saat tiang listrik sudah ditanam di sepanjang jalur tengah Matim, dari Warat, Paka, Mbeling, Nceang hingga ke Waling, dirinya diminta membayar kewajiban sebagai pelanggan sehen sebesar Rp700.000.

Tanpa berpikir panjang, Niko langsung ke Kantor PLN Borong di  Golo Lada, dan menyerahkan uang tersebut.

“Kalau tidak lunas, kami tidak diberi meteran. Akhirnya, waktu itu saya lunaskan 700 ribu. Tetapi tidak dikasi kwitansi. Kata mereka, usai pembayaran itu, langsung pasang meteran,” terang Niko.

Pembicaraan sudah berlangsung sekitar sejam. Sembari menikmati kopi dan pisang goreng yang telah tersedia di atas meja, Niko melanjutkan kisahnya. Dan, tim Floresa mencoba setia menyimak.

Hari berganti hari, janji tinggal janji, pegawai PLN tampak tak pernah menjelaskan aral yang membuat Niko tak mendapatkan meteran hingga membuat rumah tampak remang saat malam hari.

Tak puas, Niko kembali mendatangi kantor PLN Borong. Namun, petugas menyambut dingin. “Pergi pertama ke bawah, mereka bilang, tunggu saja,” ujarnya.

Dan, sebulan setelahnya, Niko kembali mendatangi kantor PLN untuk kedua kalinya. Namun, petugas PLN meminta sejumlah uang.

“Pergi kedua, harus 2  bayar 2 juta. Ada Pa Dus namanya, yang di pembukuan itu, yang pendek itu.”

“Saya bilang, saya kecewa sekali. Saya kerja sama dengan PLN. Uang saya sejak 2012 sampai hari ini,” ujarnya.

Niko yang sehari-harinya bertani itu mengaku kecewa. Jawaban petugas tak kunjung menyakinkan.

“Untuk beli meteran itu bapa,” kata  Niko mengulang jawaban petugas yang menerimanya kala itu.

“Kesimpulan saya dalam hati, PLN menipu saya, saya kecewa,” ujar Niko.

Lalu, untuk ketiga kalinya, Niko kembali bertandang ke kantor PLN Borong. Seperti pertemuan kedua, pegawai PLN kembali memintanya sejumlah uang.

“Yang terakhir, mereka bilang mesti bayar 1,3 juta. Saya bingung. Saya bilang, saya sebagai pelanggan, saya sudah masuk saham to ke PLN. Kerja sama dengan PLN. Tapi, saya keluarkan uang lagi,” terang Niko di hadapan pegawai yang menerimanya tersebut.

“Berapa uang yang sebenarnya, pertama 2 juta. Sekarang 1,3 juta,” keluh Niko.

Saking kesal, Niko pasrah. Ia tidak lagi peduli berapa jumlah uang yang akan dimintai pegawai PLN asalkan mereka memasang meteran di rumahnya.

“Saya tunggu. Kalau kamu pergi pasang, saya mau lunasi itu,” terang Niko.

Namun, beberapa saat setelah itu, Niko baru mendapat informasi jika uang sejumlah 1,3 juta itu digunakan untuk instalasi. Tetapi, ia heran karena sebelumnya, saat sosialisasi di Aula Paroki St. Antonius Mbeling, informasi itu tidak disertakan.

“Sekarang baru mereka jelaskan, instalasi harus bayar 1,3 juta. Saat sosialisasi saya ikut, tidak ada sebut mau ada uang itu sehen. Hanya meteran 450 VA,” katanya.

Tetapi, Niko masih menaruh curiga. Pasalnya, hingga saat ini, pegawai PLN Borong tidak pernah menjelaskan alasan permintaan uang tersebut, apalagi dengan nominal yang berbeda-beda.

“Sehingga, saya belum percaya sama sekali. Dua juta dan 1,3 juta. Mungkin dari Kepala PLN lain lagi. Ini belum jelas,” katanya.

Selan itu, Niko juga menceritakan juga soal pemaksaan Kontraktor Diana dari PT Prima Teknik, yang mengerjakan instalasi dan pemasangan meteran di desa tersebut. Diana, kata Niko, sempat memaksanya memasang meteran 900 VA di rumahnya.

Begitu juga pegawai PLN Borong, Klemen yang meminta Niko menggunakan meteran 900 VA. Namun, Niko menolak. Pasalnya, ia hanya membutuhkan meteran 450 VA yang diperuntukkan kepada pelanggan sehen.

“Saya tidak butuh meteran 900 VA. Mereka bilang, ini aturan. Harus 900 VA,” kata Niko.

“Saya bingung waktu itu. Ini benar atau tidak. Kami orang kampung, kami bingung,” sambungnya.

Hal yang juga membuat Niko tambah bingung dan berkecil hati tatkala, pelanggan sehen lain di kampungnya itu, yakni Herman Umar dan Sil Agung, yang berprofesi sebagai PNS, sudah mendapat meteran.

Sementara dirinya, hanya bisa menunggu dalam kebingungan.

“Saya  bilang kepada Klemen saya kecewa. Pelanggan sehen di Gurung Liwut ialah Pa Herman, Pa Sil dan saya. Kenapa Pa Herman sudah ada meteran. Saya curiga kamu karena dia uang banyak,” demikian Niko meluapkan kekecewaannya.

“Kamu pasang di atas, lewat saja saya rumah. Sehingga, kecurigaan saya, kenapa tidak dipasang di saya punya rumah,” ujar Niko.

Persoalan Berkas

Kepala PLN Borong, Rian mengatakan kendala sehingga Niko hingga saat ini belum mendapat meteran karena alamat rumahnya tidak tercatat dalam sistem PLN.

“Untuk diketahui bahwa syarat untuk dimigrasi nama dan tempat harus sesuai dengan tempat yang akan dipasang. Makanya teman (itu) bantu. Alamat sehen Pak Nikolaus Baru di Golo Lalong,” kata kepada Floresa.co, Minggu 23 September 2018.

Selain itu, Rian juga mengakui bahwa rekannya meminta sejumlah uang yakni 2 juta dan 1,3 juta kepada Niko. Uang tersebut, jelasnya merupakan perkiraan biaya migrasi meteran dari 450 VA ke 900.

“Memang dia mengaku pernah meminta uang 2 juta. Tapi, dengan catatan, memang belum konfirmasi ke Rayon. Setelah dikonfirmasi ke Rayon, ternyata, alamatnya bapak Niko Baru ini tidak sesuai,” jelasnya.

Kebijakan Migrasi tersebut, terang Rian karena data Niko tidak sesuai.

“Almat di sistem di Golo Lalong. Sedangkan posisi sekarang yang terpasang kan di Gurung Liwut. Sehingga harus Migrasi ke 900. Itu yang misalnya nanti dihitung, posisi harga di 2 juta-an itu,” katanya.

“Disarankan dari atas, Itu kalau memang bisa, itu dibantu proses imigrasi, cuman dialih-dayakan ke 900 . Waktu itu, bapak sudah dijelaskan kalau memang naikkan daya, beliau setuju. Beliau setuju,” terang Rian.

“Biaya yg diterima teman Rp1.300.000, untuk biaya Migrasi plus perubahan daya ke 900 VA serta instalasi 3 titik,” lanjutnya.

Selain itu, Rian juga menjanjikan, PLN akan sesegara mungkin menyelesaikan proses pemasangan metaran di rumah Niko sambil menunggu petugas yang hingga kini tengah mengikuti Diklat di Kupang.

“Semoga saja dalam waktu dekat sdh bisa dipasang, berkas diproses sama teman petugas Billman (petugas pendataan/penagihan sehen dan kwh meter-red),” kata Rian.

“Niatnya untuk membantu karena yang bersangkutan tidak percaya dengan stafnya ibu Diana,” tutupnya.

Rosis Adir/ARJ/Floresa