Ilustrasi

Borong, Floresa.co – Saksi yang menyaksikan mengamuknya keluarga pasien Marselina Amul, ibu hamil yang dirawat di Puskesmas Borong, Manggarai Timur (Matim) pada Jumat, 21 September lalu, membantah pembelaan Dokter Putri terhadap Puskesmas terkait tudingan pelayanan buruk kepada Marselina.

Menurut saksi, apa yang disampaikan keluarga pasien yang berasal dari Desa Bamo, Kampung Golo, Kecamatan Kota Komba,  seperti yang diberitakan Floresa.co itu, benar. Bahkan, saksi mengaku hal serupa kerap dilakukan pihak Puskesmas.

“Saya juga sempat emosi juga waktu itu, ini bukan kali pertama mereka perlakukan pasien seperti itu,” kata Tarsi Juntar, kepada Floresa.co, Senin, 25 September 2018 di kediamannya di Kampung Paka, Desa Gurung Liwut, Kecamatan Borong.

Sebelumnya diberitakan, Safri Julang, suami Marselina, serta kakaknya Yosep Tori mengaku pihak Puskesmas Borong memberikan pelayanan buruk kepada Marselina.

Mulai dari ketidakpastian apakah akan dirujuk ke Rumah Sakit Ben Mboi atau tidak, saat disuruh untuk memesan kendaraan hingga dibentak-bentak oleh pihak Puskesmas.

“Aduh, saya emosi dan mengamuk, saya tidak terima kalau model pelayanannya seperti ini, siapa pun pasti akan emosi, mereka yang salah lalu kita yang dibentak-bentak,” kata Tori.

Baca juga:

Lebih lanjut, kata Tarsi, dirinya bersyukur media menyaksikan serta memberitakan peristiwa itu.

“Beruntung awak media ada saat kejadian dan menyaksikan secara langsung kejadian itu sehingga, langsung diberitakan biar publik tahu,” ucapnya.

“Dan semoga menjadi efek jera bagi pihak Puskesmas dan pelayanan terhadap masyarakat kecil lebih baik lagi kedepannya,” lanjutnya.

Sementara, kepada Floresa.co, saat ditemui di Puskesmas Borong, Sabtu 22 September 2018, Putri mengaku kesalahan bukan melulu pada pihaknya. Ia malah menuding pasien kurang paham persoalan serta menuding media asal memberitakan.

“Tidak melulu puskesmasnya yang disalahkan, sisi lain pasien juga salah karena “ngga” paham, media juga, karena saudaranya, hanya dengar satu telinga aja, gitu,” katanya.

“Cuman mungkin pada saat itu, ada petugas, orang yang suaranya besar. Mau lembut pun dia besar. Bahkan, kami ada dokter juga kalau cara ngomongnya, ada yang (kelihatan marah), tetapi tidak,” terang Putri membantah kesaksian keluarga pasien.

Putri juga menerangkan bahwa pihaknya kekurangan ambulans sehingga sempat menyuruh keluarga pasien memesan mobil lain. Namun, akhirnya, ambulan tersedia dan berhasil mengantar pasien ke RSUD Ben Mboi.

Senada dengan Tarsi, saksi lain yang tidak ingin disebutkan namanya mengamini perlakuan pihak Puskesmas hingga membuatnya juga sempat terbawa emosi seperti keluarga pasien.

“Saya (juga) sempat terbawa emosi waktu itu, kasihan sekali melihat suami dan keluarga pasien dibuat seperti itu, saya menyaksikan secara langsung,” kata sumber tersebut di kediamannya di Kembur, Kelurahan Satar Peot-Borong Selasa, 25 September.

Sementara, Putri juga mengaku, saat kejadiaan, dirinya tidak ada di Puskesmas. Pembelaan yang ia utarakan untuk rekan-rekannya, kepada media ini, diakuinya berdasarkan informasi dari rekan-rekannya itu.

“Saya sih sudah bertanya, mungkin karena saya tidak bertugas pada saat itu, saya bertanya kepada teman-teman, tetap sih, pelayanan pertama itu kami menolong, intinya pertamanya ialah pasien. Bahkan kami rela meninggalkan makan kami sendiri hanya untuk pasien,” katanya.

CEugenie/ARJ/Floresa

Advertisement