Pastor John Mansford Prior SVD. (Foto: Ist)

Oleh: PASTOR JOHN MANSFORD PRIOR SVD, Dosen Teologi Inter-Kontekstual STFK Ledalero

Pada tanggal 26 September 2018, umat Katolik di Keuskupan Maumere menerima seorang gembala baru ketika Romo Ewaldus Martinus Sedu ditahbiskan menjadi uskup di Stadion Madawat.

Pentahbisan Ewaldus mengingatkan saya akan imbauan Paus Fransiskus yang diberikannya kepada sejumlah uskup baru di Roma. Pada tempat pertama, Fransiskus mengimbau supaya para gembala “dibaui domba-dombanya”, yaitu agar hidup begitu dekat dengan kalangan umat sahaja, umat yang biasa dilupakan, umat yang terlalu sering diperalat demi kepentingan pihak yang berkuasa, hingga sang uskup bukan hanya mengenal mereka, tapi sudah hidup senapas, “sehati-sejiwa” dengan mereka. Dari tengah umat pinggiran ini, ia menjalankan tugas kegembalaan dengan gembira.

Menarik bahwa hanya di Provinsi Gereja Nusa Tenggara, rumah uskup lazim dijuluki “istana”, seolah-olah seorang uskup adalah semacam “raja”. Walau Uskup Emeritus, Kherubim Pareira memberi nama Lepo Bispu pada rumahnya, toh kami umat masih memakai istilah “istana”.

Bahwa Bupati terpilih, Fransiskus Roberto Diogo Idong, memimpin Panitia Pentahbisan Ewaldus bersama Sekretaris Eksekutif Keuskupan, menandai ikatan erat selama ini antara pimpinan pemerintah dan pimpinan Gereja.

Jelas, seorang uskup berhubungan dengan pimpinan pemerintah baik selaku seorang warga, pun seorang uskup. Menarik bahwa semua metafora dalam Injil tentang kepemimpinan bersifat relasional: seorang ayah yang mengampuni, seorang guru, seorang gembala yang siap meninggalkan kawanannya untuk mencari, menemukan, dan membawa kembali satu ekor domba yang sesak di jalan. Dan memang tokoh sentral di Injil adalah seorang anak, penjelmaan ilahi, yang lahir di kolong rumah di antara ternak: Sabda Allah menjadi manusia yang tak berdaya.

Membaca bahwa uskup terpilih Ewaldus menerima sebuah mobil Fortuner, hadiah pribadi dari Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Vicktot B. Laiskodat dan Josef Nae Soi, sekali lagi saya teringat Paus Fransiskus.

Ketika menerima sebuah mobil mewah merek Lamborghini Huracam yang berharga 180 ribu euro, ia melelangnya, dan hasilnya diserahkan kepada Caritas untuk para ibu korban trafficking, para pengungsi dari Irak, dan bantuan obat di Afrika.

Kemudian, ketika menerima hadiah sebuah mobil kecil, yaitu Renault 4L yang sudah dipakai sejak 1984 oleh seorang pastor yang melayani orang jalanan, Paus menerimanya, malah sendiri mengemudinya di Negara Vatikan.

Apakah pimpinan Negara dan Gereja boleh bekerja sama? Tentu boleh. Bupati dan DPRD sesuai dengan amanat negara, dan uskup seturut nilai-nilai Injil. Di mana amanat negara dan nilai Injil sejalan, mereka dapat bergandengan tangan; namun, di mana pelaksanaan program pemerintah bertubrukkan dengan keadilan sosial, sang uskup siap mengangkat suara kenabiannya. Sebaliknya, ketika uskup mengabaikan atau melawan nilai-nilai Injil, umat wajib menyerukan suara profetik mereka.

Sangat boleh jadi bahwa tanggal tahbisan uskup Ewaldus dipilih karena pada Hari Minggu sebelumnya, kita yang sempat beribadat pada Minggu itu, mendengar penggalan dari Injil Markus, di mana Yesus menegur para murid yang sedang bertengkar tentang “siapa yang terbesar di antara mereka”. Tegas Yesus, “‘Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya’. Lalu Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada [para murid yang bertengkar] ‘Barangsiapa menyambut seorang anak [simbol rakyat yang tak berdaya] seperti ini dalam nama-Ku ia menyambut Aku.’”

Akhir-akhir ini, bukan hanya di Flores tapi di hampir seluruh dunia, terdengar berita tentang skandal-skandal di kalangan kaum tertahbis, termasuk uskup-uskup; skandal uang, skandal seks, dan skandal kekuasaan. Pentahbisan seorang uskup baru memberi kita kesempatan untuk mulai baru, kembali ke cita-cita injili, membongkar skandal-skandal, mendampingi para korban, membuka era baru di mana pimpinan Gereja bersikap serba transparan.

Saya sadar bahwa tidak ada hal yang sungguh baru dalam catatan ini. Opini serupa pernah kutulis ketika Romo Longinus da Cunha diangkat menjadi Uskup Agung Ende, Romo Vinsen Sensi sebagai uskup Maumere, dan sekali lagi ketika konfrater Gerulfus Kherubim Pareira dipindahkan dari Weetebula ke Maumere.

Saya tetap hidup dalam pengharapan bahwa Gereja institusional dapat diperbarui, menjadi semakin transparan, semakin sahaja, semakin injili. Tentu, saya juga.