Savrianus Jehaman (depan) swa foto bersama wisatawan yang dipandunya. (Foto: Doc: Savri).

Mimpi besar dalam diri Savrianus Jemahan yang membawanya ke dunia diving. Pemuda yang sejak usia 19 tahun sudah menjadi dive master ini, menekuni kemampuan menyelamnya ini sebagai pegangan hidup. Ia meyakini, profesi ini bisa diembannya seumur hidup.

Savri, begitu dia akrab disapa, menjadi salah seorang pemuda Labuan Bajo yang sulit ditemui di darat. Dalam sebulan, ia hanya memiliki waktu libur empat hari. Hampir seluruh waktunya dihabiskan di lautan.

Saat menyambangi Flores Muda di Labuan Bajo, penyelam muda ini terlihat santai dengan balutan celana pendek dan kaus oblong berwarna hitam. Ia tampak bugar saat berbagi cerita tentang profesi yang kini digelutinya.

Savri mulai belajar menyelam sejak tahun 2016. Saat itu, ia baru akan menyelesaikan pendidikannya di sekolah menengah atas. Putera ke dua dari pasangan Paulus Naja dan Beneria Nurwijaya ini, saat itu diajak untuk terlibat dalam program perekrutan dive master lokal yang dilakukan salah satu perusahaan operator dive di Labuan Bajo.

“Saat itu program mereka untuk membantu pelajar yang merupakan masyarakat lokal, yang tidak mau ke perguruan tinggi. Mereka mencari yang punya keterampilan dan sikap baik. Kami direkrut langsung di sekolah,” kenang dia.

Kala itu, Savri bahkan belum punya kemampuan berenang. Namun, karena menurutnya program tersebut adalah peluang bagus, ia pun memutuskan nekat untuk mendaftar. Savri kemudian bersama beberapa temannya yang lain mengikuti tes di tahap berikut.

Lulus pada tahap wawancara, ia kemudian mengikuti beberapa tes. Seiring dengan itu, ia juga mulai belajar berenang secara autodidak dengan melihat referensi dari Youtube. Perlahan, usahanya membuahkan hasil.

Setelah mengikuti seluruh tahap tes, Savri dinyatakan lulus. Pada Desember tahun 2016, alumni SMKN 1 Komodo Labuan Bajo ini mendapat sertifikat dive master tingkat open water. Sejak itu, kehidupan Savri yang baru menginjak usia 19 tahun pun berubah drastis.

Savri kemudian mendapat penghasilan tetap dari menjadi penyelam. Ia dikontrak salah satu perusahaan dive operator di Labuan Bajo untuk memandu wisatawan yang ingin menyelam di kawasan Taman Nasional Komodo. Selain pengetahuan dan wawasan yang bertambah, penghasilannya pun menginjak angka di atas Rp10 juta per bulannya.

“Saya senang dan bangga sekali dengan penghasilan itu. Waktu itu saya masih 19 tahun dan punya penghasilan yang lebih. Bukan lebih lagi, malah sangat luar biasa. Satu tahun awal saya kerja sebagai dive master, penghasilan saya pakai untuk senang-senang dulu,” ujarnya antusias dengan bersambung tawa.

Selengkapnya baca di: http://floresmuda.com/2018/08/30/savri-dan-menyelam-yang-takkan-pernah-putus/