Komunitas Cangkir 16 Borong.

Borong, Floresa.co – ‘Cangkir 16’ adalah komunitas baca di kota Borong yang dibentuk oleh sekelompok anak muda yang merasa resah dengan rendahnya minat baca generasi milenial di kota tersebut.

Menurut Febianus Ngete, salah seorang pengganggas komunitas ‘Cangkir 16’, di era milenial saat ini, pengaruh teknologi terhadap kehidupan generasi muda, khususnya pelajar, tidak bisa dibendung. Baik pengaruh positif maupun negatif.

“Media sosial seperti Facebook, WhatsApp, Instagram, dan lain-lain menjadi tren tersendiri bagi anak muda atau pelajar saat ini,” katanya.

Tren tersebut, kata dia, bukannya berdampak baik bagi perkembangan pengetahuan generasi muda, justru menjebak mereka dalam dunia imajinasi yang negatif.

Oleh karena itu, lanjutnya, kehadiran  Komunitas ‘Cangkir 16’ kiranya bisa mengembalikan kesadaran generasi muda tentang pentingnya membaca (buku).

“Komunitas Cangkir 16 dibentuk sebagai ruang diskusi dan silaturahmi antarpelajar atau anak muda, agar membangun kebiasaan membaca,” katanya.

“Di sini juga, kita saling membantu melalui diskusi-diskusi atau sharing tentang manfaat dan tantangan dalam aktivitas membaca, juga agar kita bisa belajar bersama menyikapi derasnya perkembangan teknologi secara kritis,” tambah Febrianus.

Filosofi ‘Cangkir 16

Nama ‘Changkir 16’ memiliki filosofi tersendiri. Menurut Febianus, ‘Cangkir’ identik dengan wadah untuk minuman kopi yang selaras dengan budaya orang Manggarai.

Bagi orang Manggarai, kata dia, minuman kopi sebagai pemersatu dalam segala momen, baik momen resmi maupun santai.

“Minuman kopi selalu menjadi pelengkap dalam suasana tersebut,” ujarnya. Sedangkan ’16’, lanjutnya, adalah tanggal terbentuknya komunitas, sekaligus sebagai identitas komunitas tersebut.

“Jadi, Komunitas ‘Cangkir 16’ lebih merupakan wadah untuk berkumpul, saling sharing tentang gerakan partisipatif anak muda dalam mengembangkan budaya membaca,” katanya.

“Manggarai Timur ini kan daerah otonom baru. Kemajuan Manggarai Timur ke depan itu ditentukan oleh generasi muda saat ini. Kalau generasi muda tidak punya wawasan dan pengetahuan, Manggarai Timur pasti akan lebih buruk dari saat ini,” tuturnya.

Anggota Komunitas

Saat ini, anggota Komunitas ‘Cangkir 16’ mencapai 50-an orang yang didominasi oleh siswa-siswi SMA di Kota Borong.

Meskipun demikian, kata Febianus, ke depannya, komunitas tersebut akan terus mengajak sesama generasi muda untuk bergabung mengembangkan budaya literasi di masyarakat.

Suasana Diskusi Komunitas Cangkir 16.

Selain itu, ‘Cangkir 16’ juaga akan terus menjalankan kegiatan dengan lebih kreatif, mengingat kreativitas lebih punya daya tarik bagi anak muda untuk ikut terlibat.

“Harapannya, dengan kegiatan-kegiatan itu, nantinya bisa menggugah motivasi teman-teman muda untuk bersama-sama bangun Manggarai Timur, yang dimulai dengan mengembangkan budaya literasi itu,” tutupnya.

Kesan dan Pesan

“Budaya membaca paling pertama membutuhkan niat dari dalam diri. Niat yang kuat membuat pribadi bisa berkembang,” kata Arif, Siswa SMA 3 Borong dalam diskusi bertajuk; ‘Membangkitkan Kembali Minat Baca Di Era Digital’; yang digelar di Sekretariat Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Jumat sore, 21 September 2018.

Sementara itu, Febri, dari SMAN 7 Borong mengatakan, salah satu faktor yang membuat generasi muda malas membaca adalah terbatasnya akses atau ketersediaan buku-buku bacaan.

Sedangkan menurut Tika, siswi SMAN 4 Borong, salah satu penyebab rendahnya minat membaca, yaitu akibat kecanduan terhadap perkembangan teknologi seperti media sosial.

“Jangan lupa baca eeee….!!!” pesan anggota Komunitas ‘Cangkir 16,” usai diskusi, Jumat sore, kemarin.

Rosis Adir/Floresa