Robert Soter Marut sedang mencoba menyalakan kompor gas di biara SVD Ruteng yang menggunakan gas dari teknologi biogas, Rabu, 19 September 2018. Robert mengembangkan teknologi ramah lingkungan ini di sejumlah wilayah di NTT. (Foto: Floresa)

Ruteng, Floresa.co – Robert Soter Marut mengampanyekan penggunaan biogas kepada masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hingga saat ini, pensiunan perwira TNI Angkatan Utara ini sudah membuat 10 unit biogas yang tersebar di wilayah Kupang, Larantuka, Ende, Maumere, dan Manggarai.

Dalam pembuatannya, RSM menggandeng kelompok peduli lingkungan, termasuk organisasi gereja seperti Komisi Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC).

Pada Rabu, 19 September 2018, RSM meresmikan biogas di rumah JPIC Kongregasi Serikat Sabda Allah atau SVD di Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai.

Pengembangan biogas, kata Robert, sangat cocok untuk wilayah NTT karena kegemaran warganya untuk memelihara ternak.

Terna, jelasnya, menghasilkan kotoran dan kotoran tersebut mengandung gas metan yang mengganggu kesehatan lingkungan dan merusak lapisan ozon.

“Tetapi ada teknologi untuk mengatasi itu, namanya biogas. Melalui teknologi ini, gas yang berbahaya itu memberikan manfaat sangat besar bagi manusia dan lingkungan,” kata Robert.

Manfaat penggunaan biogas antara lain, gas bisa dipakai menggantikan minyak tanah atau kayu api untuk memasak. Gas juga bisa digunakan untuk penerangan.

Selain menghasilkan gas, teknologi biogas juga menghasilkan limbah berupa pupuk organik cair dengan kualitas sangat baik, yang sangat mendukung model pertanian berkelanjutan.

“Secara pribadi, saya mau mendukung isu lingkungan, pertanian berkelanjutan. Dan biogas ini teknologi ramah lingkungan,” ujarnya.

Adrianus Petrus Lagur, Managing Director SL Consultan, yang turut hadir dalam kesempatan itu mengatakan, teknologi biogas sangat mudah dan menggunakan material lokal.

Biogas, jelasnya, sebenarnya kakus ternak sekaligus mesin pembuat pupuk organik.

“Biogas itu sebutan kerennya, tetapi sesungguhnya biogas itu teknologi kakus ternak. Untuk petani, sebutannya ya mesin pembuat pupuk organik. Jika satu rumah tangga punya biogas, dia sebenarnya mempunyai mesin pembuat pupuk organik dan mesin penghasil gas,” katanya.

Biogas, lanjut dia, merupakan teknologi pengelolaan lingkungan dan sosial yang wajib dimiliki oleh peternak dan petani.

Tanpa biogas, ungkapnya, kotoran ternak akan berdampak pada lingkungan dan sosial, karena bau kotoran akan menimbulkan polusi dan gas metan akan merusak lapisan ozon.

Pater Simon Suban Tukan SVD, Koordinator JPIC SVD Ruteng mengapresiasi upaya yang dikembangkan Robert.

Teknologi ramah lingkungan itu, kata Simon, sejalan dengan perjuangan JPIC demi menyelamatkan lingkungan.

Ia menjelaskan, JPIC SVD selalu berusaha menolong masyarakat sekaligus mengampanyekan penyelamatan lingkungan.

“Kita memikirkan bagaimana caranya menolong masyarakat di sekitar kita, termasuk menghadirkan teknologi ramah lingkungan agar  hidup kita lebih ramah dan lebih sehat,” katanya.

Pater Yos Masan Toron SVD, pimpinan atau Provinsial SVD Ruteng menambahkan, SVD seluruh dunia baru-baru ini menyelenggarakan konferensi di Roma, Italia, di mana kemudian lahir rekomendasi agar seluruh anggotanya terlibat dalam gerakan bersama memelihara lingkungan.

Apa yang dilakukan JPIC SVD Ruteng bersama Robert,  kata Yos, merupakan salah satu implementasi keterlibatan anggota SVD dalam memelihara lingkungan.

Ia juga mengapresiasi konsistensi dan kontribusi Robert dalam upaya menyelamatkan lingkungan.

“Kita di Indonesia ini terlalu banyak kata yang berhamburan, tetapi yang berbuat konkret seperti pak Robert ini sedikit,” katanya.

EYS/Floresa