Borong, Floresa.co – Bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Mengge di Lamba Leda, Manggarai Timur (Matim) sangat memprihatinkan. Sejak dibangun 4 tahun silam, tak sedikit pun mendapat sentuhan Pemda Matim. Namun, kondisi itu tidak menyurutkan semangat siswa dan guru saat melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM).

Pantauan Floresa.co pada awal September 2018, bangunan sekolah yang terletak di kampung Rana Masa, Desa Golo Munga, Kecamatan Lamba Leda, Matim itu masih berlantai tanah, dinding dan atapnya juga masih terbuat dari bambu yang tampaknya sudah mulai rapuh dimakan usia.

Selain bangunan, meja, kursi dan bangku siswa pun serba darurat.

“Kalau hujan, kami biasanya langsung pulang, karena atap bocor,” kata Yuventus, salah seorang guru di sekolah tersebut.

Yuventus menceritakan, awalnya, SD Mengge merupakan tambahan ruangan kelas (TRK) dari SD Laci yang berjarak kurang lebih 7 Km dari kampung Rana Masa.

“Sebelum dibuka TRK, anak-anak dari sini biasanya harus berjalan kaki menuju SD Laci. Kurang lebih tujuh kilo meter dari sini,” ujarnya.

TRK di kampungnya itu, kata dia, dibuka sejak 2014, saat Yosep Tote dan Ande Agas untuk kedua kalinya menduduki kursi bupati dan wakil bupati. Dua tahun kemudian, baru definitif menjadi SD Negeri.

“Semua ruangan ini dibangun berdasarkan swadaya masyarakat,” ujarnya.

“Meja dan bangku siswa ini kami pikul dari SD Laci. Itu pun, ini barang yang sudah tidak dipakai lagi di sana. Sampai di sini kami perbaik, agar anak-anak bisa gunakan,” tambahnya.

Tak hanya itu, fasilitas pendukung lainya pun tampak serba kekurangan. Buku-buku penunjang belajar siswa-siswi juga sangat minim.

“Buku-buku pelajaran, kami beli menggunakan dana BOS (Biaya Operasional Sekolah). Itu pun sangat terbatas,” cerita Yuventus.

Ia berharap agar Pemda Matim bisa memperhatikan kondisi sekolah itu.

“Harapannya, pemerintah bisa perhatikan kondisi sekolah kami, sehingga, anak-anak bisa belajar dengan nyaman,” ujarnya.

Ketua komite, Zakarias Sakang juga mengeluhkan hal yang sama.

Menurutnya, konstruksi bangunan sekolah yang serba bambu itu tidak nyaman untuk siswa saat mengikuti pelajaran.

“Karena suara siswa-siswi dan guru di ruangan lain akan mempengaruhi konsentrasi siswa-siswi dan guru di ruangan yang bersebelahan,” katanya.

Selain itu, ia juga menceritakan bagaimana susahnya anak-anak dari kampung tersebut saat sekolah belum dibuka.

“Dulu anak-anak harus berjalan kaki berkilo-kilo (meter), melewati hutan belantara demi mendapatkan pendidikan,” ceritanya.

“Kami juga bersyukur, pemerintah sudah buka sekolah di sini. Tapi mestinya didukung juga dengan fasilitas,” tambahnya.

Senada dengan Yuventus, ia berharap pemerintah memperhatikan sekolah itu.

“Di sekolah-sekolah lain ada gedung-gedung elit. Di sekolah kami, darurat. Semoga pemerintah ke depan itu tetap membuka mata, jangan mereka itu membuka sekolah, lalu tidak memperhatikan sekolah itu sendiri,” katanya.

“Semoga (juga) mereka buka mata melihat sekolah kami yang beratap bambu dan berdinding bambu juga,” tutupnya.

Rosis Adir/Floresa