Ilustrasi

Borong, Floresa.co – Motor dinas yang digunakan untuk operasional di Puskesmas Ketang, Desa Golo Tolang, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur (Matim) dimanfaatkan tidak sesuai dengan petunjuk teknis (juknis) penggunaan.

Pasalnya, empat unit kendaraan milik Dinas Kesehatan Matim itu digunakan oleh petugas kesehatan yang dekat dengan kepala puskesmas. Padahal belum ada SK pemakaian motor dinas itu.

“Juknisnya, itu motor mestinya dipakai oleh kepala puskesmas, bendahara JKN, pengelola imunisasi, dan pengelola promosi kesehatan,” kata CH, salah seorang staf puskesmas Ketang, Kamis siang, 12 September 2018.

Namun, yang terjadi, kata dia, justru yang memakai motor dinas itu adalah pengelola obat, pengelola malaria dan staf yang dekat dengan kepala Puskesmas.

Selain itu, cerita CH, motor dinas itu juga digunakan oleh masyarakat luar yang tidak ada hubungan kerja dengan Puskesmas Ketang.

“Apalagai digunakan di luar jam kantor. Bagaimana kalo terjadi apa-apa?, siapa yang bertanggung jawab?,” ujarnya.

Dihubungi terpisah, kepala Puskesmas Ketang, Sergius B.A Dura membantah tudingan CH.

Menurutnya, hingga saat ini, ia belum menentukan siapa-siapa yang berhak menggunakan kendaraan tersebut.

“Saat ini saya selaku kepala puskesmas belum menentukan siapa-siapa yang memegang kendaraan tersebut,” katanya.

“Kami belum ada rapat interen untuk penentuan siapa-siapa pemegang sepeda motor tersebut nantinya, karena kami masih sibuk dengan kegiatan Imunisasi MR selama sepekan ke depan sejak hari ini,” tambahnya.

Motor-motor tersebut, kata dia, nantinya akan digunakan oleh pengelola JKN, khususnya pengelola obat, pengelola promkes dan pengelola Surveylans atau imunisasi dan pengelola lain yang ada di  Puskesmas.

Terkait motor yang selama ini digunakan oleh staf yang dekat dengannya, Dura mengatakan, ia tidak memiliki staf khusus.

“Di mata saya, mereka semua adalah anak-anak saya. kalau tidak percaya silahkan langsung saja tanya semua staf saya,” tegasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa, memang selama ini motor-motor tersebut digunakan oleh bebebrapa staf karena masih dalam masa percobaan (inrain).

“Jam inrain adalah di luar jam kantor, karena semua motor masih dalam posisi 400 km sampai hari ini, dan kebiasaan saya kalau inrain motor harus 800 km baru bisa di bonceng,” tutupnya.

Rosis Adir/Floresa