Ilustrasi

Floresa.co – Dominikus Jahatu (34), bersama istri Meliana Minur (24) serta putra mereka Apriliano (4 bulan), keluarga asal Manggarai-NTT yang diduga dibunuh pada Selasa malam, 11 September 18 lalu, dimakamkan di pemakaman umum Desa Trahean, Kecamatan Teweh Selatan, Kabupaten Batara, Kalimantan Tengah (Kalteng), Jumat 14 September sekitar pukul 10.00 WIB.

Duka mendalam masih tampak jelas dari para pelayat yang datang. Iring-iringan tiga unit ambulans, berangkat dari rumah sakit membawa ketiga jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.

Beberapa orang tak kuasa menahan tangis, ketika jenazah korban pembunuhan sadis itu siap dikebumikan. Tiga peti, dua berukuran besar berwarna cokelat, dan satu berukuran kecil berwarna putih, dimasukkan dalam satu liang lahat, demikian dilansir kaltengpos.web.id, Sabtu, 15 September 2018.

Sedikitnya ada 50 orang lebih hadir saat itu. Tak ketinggalan, kerabat dan teman dekat. Begitu juga perwakilan dari perusahaan dan kepolisian, serta keluarga besar Manggarai dan Flobamora.

Dua pastor dari Paroki Santa Maria De la Salette Muara Teweh dan Paroki Santo Monfort Maranen memimpin upacara pemakaman secara Katolik.

Kapolres Batara AKBP Dostan Matheus Siregar, melalui Kapolsek Teweh Tengah AKP Nandi Indra Nugraha mengatakan, pihaknya meminta keluarga untuk menyerahkan kepada pihak kepolisian untuk menangani kasus ini. Saat ini pihak berwajib masih mendalami kasus dan memburu pelaku.

Dirinya menegaskan, aparat polisi terus bekerja keras untuk menyelesaikan kasus pembunuhan terhadap pasutri dan anak itu.

“Infomasi sekecil apapun akan membantu proses penyelidikan. Percayakan kepada polisi. Kami akan menyelesaikan kasus ini,” terangnya.

Baca juga:

Terkait kasus tersebut, Ketua DAD Batara Jonio Suharto meminta komponen masyarakat untuk menghindarkan sikap saling menuduh yang bisa berujung fitnah.

“Kami ikut berduka cita, sama seperti yang dirasakan keluarga besar Manggarai di sini. Mari kita ambil hikmah dan terus memperkokoh persatuan antarsuku di Batara dalam wadah NKRI,” katanya.

Sementara itu, Perwakilan Keluarga Manggarai Tarsisius Darut mengharapkan, polisi segera menangkap pelaku pembunuhan dan membongkar tuntas kasus ini. Seorang rekan korban, Kristo mengatakan, Domi merupakan sosok pendiam dan jarang keluar rumah. Juga merupakan pribadi yang baik hati dan sering membantu teman yang sedang memiliki kesulitan.

Di waktu berbeda, salah satu kerabat korban, Rico menyebutkan, korban Domi sudah bekerja selama 14 tahun di PT Antang Ganda Utama (AGU). Selama ini mampu menjalin hubungan baik dengan rekan-rekan kerjanya.

“Setahu saya, dia tidak punya musuh. Karena memang tidak bermasalah dengan pihak lain,” sebutnya.

Polisi menemukan adanya indikasi keluarga kecil itu dibunuh, sebelum dibakar. Hal itu diperkuat dengan ditemukan sejumlah mata luka akibat kekerasan senjata tajam pada tubuh Domi, Imel, dan anaknya Apriliano.

Fakta tersebut didapat setelah dilakukan autopsi oleh dokter forensik dr Ricka Brilianty bersama tim di RSUD Muara Teweh.

Dalam autopsi yang berlangsung selama 120 menit itu, ditemukan mata luka pada masing-masing jenazah. Pada jasad Domi, ditemukan mata luka di tengkuk leher. Istrinya mengalami luka bacok di paha dan di leher. Sedangkan bayi Apriliano terdapat luka tusukan.

Kaltengpos.web.id/Floresa