Gabriel Masir (kiri) dan Laurensius Halon, dua warga Wae Moto, Desa Compang Liang Ndara, Kecamatan Mbeliling, Manggarai Barat (Mabar), ditangkap Brimob Mabar pada Rabu, 12 September 2018 karena membocorkan pipa  yang mengalirkan air ke kota Labuan Bajo. (Foto: Floresa)

Floresa.co – Gabriel Masir (53) dan Laurensius Halon (58), warga Wae Moto, Desa Compang Liang Ndara, Kecamatan Mbeliling, Manggarai Barat (Mabar), ditangkap Brimob Mabar pada Rabu, 12 September 2018 karena membocorkan pipa  yang mengalirkan air ke kota Labuan Bajo.

Penangkapan tersebut atas inisiasi Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) usai mendapat laporan dari penjaga mata air Wae Kaca yang menjadi sumber pasokan air ke Labuan Bajo, demikian kata Direktur PDAM Mbeliling, Aurelius Hubertus Endo di Polres Mabar, Rabu malam.

“Kami dilaporkan oleh penjaga sumber mata air dari Wae Moto bahwa ada oknum yang melakukan penitian terhadap pipa trasmisi yang mengalirkan air dari Wae Kaca dan Wae Mbaru,” kata Aurelius.

Gabriel dan Laurensius membocorkan pipa itu di Wae Moto. Pipa tersebut berfungsi untuk mengaliri air dari mata air Wae Kaca dan Wae Mbaru menuju Labuan Bajo, yang terletak tak jauh dari kampung Mikael dan Laurensius.

Mata air Wae Moto dan Wae Mbaru berjarak sekitar 1 km dari Kampung Wae Moto.

Berdasarkan laporan tersebut, jelas Aurelius, ia sempat mengambil langkah persuasif, namun gagal.

“Saya suruh bawahan saya turun. Sampai di lapangan beliau sudah melakukan pendekatan terhadap oknum tadi, memberikan arahan dan pengertian baik, tapi tidak menerima,” katanya.

Menurut Aurelius, pihaknya juga sudah berusaha menyumbat pipa yang sudah dilubangi pelaku dengan menggunakan ban dalam kendaraan, namun tidak bertahan lama. Pelaku kembali membuka sumbatan tersebut.

Baca juga: Perjalanan ke Kampung Pemasok Air untuk Labuan Bajo

Akhirnya, kata Aurelius, karena pelaku tidak akomodatif, pihaknya mengerahkan Brimob.

“Tidak mungkin ditangkap (kalau pelaku akomodatif).Teman-teman saya yang ke atas, sudah memberikan pengertian baik, tidak diterima. Untuk efek jeralah,” tegasnya.

 

Aurelius menyayangkan alasan kekurangan air bersih sehingga pelaku membocorkan pipa . Sementara, informasi yang didapat pihaknya, air tersebut untuk dialiri ke sawah.

“Mereka sampaikan ke saya, mereka kekurangan air bersih. Teman-teman intel Brimop sudah cek bahwa air ini dialiri ke sawah. Tapi, dalilnya ke kita untuk minum,” katanya.

Padahal, demikian Aurelius, PDAM sudah memberikan air gratis kepada warga di kampung Gabriel dan Laurensius sehingga bisa menikmati air PDAM selama 24 jam.

“Mereka itu terima gratis sambungan rumah. Begitu dibuka keran di meteran, air jalan,” katanya.

“Mereka dialiri dari sumber  Wae Kaca dan Wae Mbaru, 24 jam itu. Tinggal sekarang, teman-teman yang ditugaskan untuk menjaga sumber, mereka yang mengatur itu. Lorens sama si Maksi,” ujarnya.

Maksi ialah penjaga Mata Air Wae Mbaru yang digaji pemerintah daerah Rp 500.000 per bulan. Sementara Lorensius Sahadun digaji Rp1.750.000 per bulan.

Untuk mengurai masalah tersebut, Aurelius berharap, masyarakat sipil, media dan semua yang berkepentingan bersama pemerintah bahu-membahu menyelesikan persoalan air di Labuan Bajo.

“Harapannya dengan kejadian seperti ini, tolong teman-teman wartawan, wartakan ya. Bahwa, inilah hal-hal yang tidak terpuji. Untuk ke depannya, tidak boleh lagi,” ujarnya.

“Untuk masyarakat, kami sebagai lembaga pengelola, kami mengurus apa kebutuhan kamu (masyarakat). Kebutuhan dasarnya kami penuhi, sehingga, dalilnya tadi untuk pemenuhan kebutuhan dasar, bagi saya tidak, karena fasilitas sudah kita siapkan untuk mereka,” ujarnya.

“Kalau ke depannya ada pelaku yang sama, kami akan sikat, tindak dan akan lakukan seperti ini,” lanjutnya.

Terkait besarnya kerugian PDAM akibat ulah warga tersebut, Aurelius mengaku belum bisa mendapat data yang pasti.

Bukan Hanya di Wae Moto

Selain di Wae Moto, praktek pembocoran pipa juga sebenarnya terjadi di Kampung Cecer yang berjarak sekitar 10 Km dari Labuan Bajo.

Namun, menurut Aurelius, langkah masyarakat tersebut atas persetujuan PDAM karena di sana infrastruktur air belum disediakan oleh pemerintah.

“Di Cecer itu memang air diambil dari bak penampung pertama. Saya izinkan, karena harus dilayani masyarakat sekitar,” katanya.

Selain itu, katanya, aktivitas masyarakat Kampung Cecer tersebut juga tidak merugikan masyarakat di Hilir, yakni di Labuan Bajo.

“Lain halnya kalau dengan yang di Wae Moto. Sudah ada fasilitas untuk mereka,” tutupnya.

Membantah Curi Air

Sementara itu, pelaku Gabriel dan Laurensius mengaku senang dengan keterlibatan aparat dalam menyelesaikan masalah ini, sehingga, kata Gabriel, kepolisian juga bisa melihat secara objektif masalah air yang terjadi di kampung mereka tersebut.

“Makanya, kami senang, pihak kepolisian pada suatu saat campur tangan dalam menyidiki masalah (air) yang kami hadapi selama ini. Selama ini, kami kekurangan air sekitar 1 bulan, WC kering, sayur, ternak juga setengah mati kasi air,” kata Gabriel saat ditemui di Polres Mabar, Rabu malam.

Baca juga: Krisis Air Bersih di Labuan Bajo: Ironi Kota Pariwisata

Menurutnya, bukan hanya kali ini mereka diterpa masalah krisis air, tetapi sejak tahun 2003 silam. Bahkan, ia balik menuding PDAM sebagai biang.

“Lebih banyak kecewa sebenarnya. Kami sebenarnya mau gugat luar biasa ini air. Sejak 2003, persoalan ini masih memendam di kami,” tegas Gabriel.

 

Lebih jauh, kata Gabriel, dalam pipa berukuran 3 dim yang dikhusukan untuk mengaliri air ke kampung mereka di Wae Moto dari mata air Wae Kaca dan Wae Mbaru, acap kali ditemukan akar kayu dan karung bekas sehingga membut aliran air tersendat.

Sementara air dalam pipa berukuran 8 dim yang mengalirkan air ke Labuan Bajo, kata dia, terawat baik sehingga air mengalir lancar.

“Kalau itu hari, hanya satu hari (air) hidup. Sampai kami membuat itu (melubangi pipa), karungnya dikeluarkan, akar-akar kayu dikeluarkan dari pipa,” katanya.

“Tidak mungkin orang Wae Moto sebagai konsumen merusaki kebutuhannya,” lanjutnya.

Selan itu, langkah PDAM menggunakan keran induk di bak penguras mata air untuk mengatur debit airnya, juga menjadi sorotan mereka.

“Selain mereka kunci (keran), sering mereka (PDAM) masuk karung dalam kami punya pipa untuk air minum kami. Mana kami tidak marah. Sebagai manusialah. Supaya airnya tersumbat,” kata Gabriel.

“Mereka menolak tuduhan menyumbat pipa. Tapi, siapa lagi kalau bukan PDAM. Itu kan artinya PDAM mau membesarkan debitnya (dengan cara) yang di pipa kecil itu ditutup,” tegas Gabriel.

“Tidak mungkin kami konsumen merugikan kami sendiri kan?” ujar Gabriel.

Gabriel juga menuding, penempatan penjaga di kedua mata air tersebut semata untuk kepentingan PDAM bukan kepentingan mereka.

Jika untuk kepentingan pihaknya, demikian Gabriel, mengapa mereka krisis air.

“Kalau mereka jaga, kenapa sampai pipa kami punya harus dimasukkan karung, supaya tertutup,” tegasnya.

Gabriel juga membatah tudingan Aurelius bahwa dia dan Laurensius membocorkan pipa itu untuk mengalirkan air ke sawah.

“Kasian juga mereka omong begitu ka. Air itu untuk kepentingan orang minum. Boleh mereka omong untuk sawah. Bohong, memang mereka bohong,” katanya.

“Pokoknya sampai saat ini, kami tidak akan menerima mereka bilang alir untuk ke sawah,” tegasnya.

Baca juga: Kejaksaan Usut Dugaan Penyelewengan Proyek Air Minum di Labuan Bajo

Ia juga mejelaskan, baru tiga hari terakhir air mengalir lancar 24 jam.

“Sebelumnya, ada yang satu minggu, 2 minggu, satu bulan air tidak mengalir,” kata Gabriel.

Ia pun memprotes tudingan Aurelius bahwa mereka adalah pencuri air.

“Dituduh pencuri, kita bukan jual kok. Untuk kasi minum orang. Pokoknya aneh-aneh mereka memberi keterangan. Enak saja dia omong curi,” ujarnya.

Gabriel juga mengaku, dirinya membocorkan pipa tersebut karena kebutuhan serta melihat ibu-ibu yang selalu kesulitan mendapatkan air.

“Kami tidak punya air. Kami juga bukan orang kurang ajar. Kami kasi lubang, untuk persediaan minum,” katanya.

“Kalau kami tidak berani (melubangi pipa), perempuan marah. Akhirnya, kasi lubang,” tambah Gabriel.

Ario Jempau/Floresa