Hendrik Masur (Foto: Ist)

Oleh: HENDRIK MASUR, anak Kampung Lante, Reok Barat, Manggarai

Sejak akhir pekan lalu, media sosial orang Manggarai Raya dihebohkan oleh viralnya sebuah video pementasan persekusi. Lakon kekerasan dan segenap proses perekamannya dilakukan seorang penyanyi lokal, Rensi Ambang dan keluarganya. Peristiwa itu berlangsung pada Kamis, 23 Agustus 2018 di kediaman Rensi di Ruteng, di mana Rensi dan keluarganya ‘mengadili’ Melkior Marseden Sehamu atau Eki, yang berasal dari Nampar Macing, Manggarai Barat karena dianggap menggoda isteri Rensi lewat chat di Facebook. Aksi persekusi itu disiarakan langsung lewat Facebook dan videonya yang kemudian diunduh sejumlah pihak menjadi viral, termasuk di layanan pesan Whats App.

Rensi sudah mengakui tindakan pemukulan itu dan meminta maaf lewat sebuah video lain yang juga viral pada Minggu, 26 Agustus. Ia menyebut, aksi itu merupakan ekspresi kemarahan dan mengklaim persoalan antara keluarganya dengan Eki telah selesai lewat mekanisme adat. Namun, kasus ini rupanya tidak berhenti, karena Erik kemudian melapor Rensi ke Polres Manggarai dan menyatakan permintaan maaf yang ia sampaikan kepada Rensi di akhir sesi pemukulan dilakukan karena berada di bawah tekanan.

Ada fenomena menarik sebagai reaksi publik atas kasus itu. Kata laos (secara harafiah: agar hasrat terlampiaskan) yang diucapkan salah satu pelaku dalam video sambil meninju muka Eki, kemudian menjadi trending topic di jagad maya orang Manggarai. Ada pesan-pesan sinis, yang menyertai penulisan kata itu, yang menyiratkan protes atas aksi persekusi terhadap Eki.

Namun, bagi saya, ketimbang kata laos itu, pelabelan ‘orang kampung,’ yang juga disampaikan oleh Rensi kepada Eki justru jauh lebih menarik dan karenanya layak didiskusikan lebih jauh. Memahami arti literal dan figuratif dari frasa ‘orang kampung’ akan membantu kita mengenali watak dari perilaku kita terhadap media sosial.

Perlu ditegaskan di awal, goresan ini tidak berpretensi menghakimi siapapun. Dalam perspektif saya, Rensi maupun Eki sama-sama adalah korban, korban dari pilihan pendekatan yang salah terhadap media sosial. 

Kampung dan Kota

Kampung dan frasa ‘orang kampung’ biasanya dikontraskan dengan kota dan ‘orang kota’ dengan berbagai atribut masing-masing. Dalam Sosiologi, kampung (desa) selalu asosiatif dengan model kehidupan yang tradisional, sederhana, dan homogen. Stratifikasi dan diferensiasi sosialnya tidak kompleks. Ciri-ciri itu bersumber pada pola hubungan social dalam masyarakat kampung yang berbasis pada paguyuban (gemainschaft) dan  berhubungan erat dengan alam.

Bertani merupakan mata pencaharian utama masyarakat kampung dan tanah adalah resource yang pertama. Karena saban hari bergulat dengan tanah sebagai sumber pokok kehidupan, maka tanah menjadi simbol dari kesederhanaan orang kampung. Itu pula mengapa orang kampung cukup berjarak dengan perkembangan teknologi modern dan sering gagap dalam menggunakan media sosial. Orang kampung kemudian menjadi metafora sempurna bagi keluguan dan keterbelakangan.

Selain itu, kata ‘kampung’ melahirkan istilah turunan ‘kampungan’. ‘Kampungan’ merupakan sebuah khiasan yang merujuk pada kekolotan, terbelakang, tidak terdidik, tidak tahu sopan santun, dan norak.

Di sisi lain, atribut-atribut yang melekat pada kota dan kekotaan adalah maju, modern, terdidik, rasional, heterogen dan wellinformed. Pola hubungan sosial masyarakat kota menciptakan kompleksitas tertentu. Setiap individu dalam kota bisa dikategorisasi dalam asosiasi tertentu (gesellschaft). Teknologi dan media informasi sangat melekat dengan kehidupan orang kota. Istilah ‘anak kota’ adalah metafora dari kemajuan dan kebaruan, sebagai antonim dari ‘orang kampung’.

Ruteng, sebagai ibu kota  kabupaten, bermula dan bertumbuh dari sebuah kampung. Pada tahun-tahun kolonial, Ruteng masih sebuah kampung atau beo.  Ruteng terus mengalami evolusi sosiologis, politis, ekonomis,  dan kultural. Ruteng menjadi pusat politik dan kekuasaan, pertumbuhan ekonomi, pendidikan dan budaya. 

Orang-orang dari kampung berbondong-bondong ke kota ini untuk pelbagai urusan: kerja, administrasi pemerintahan, ekonomi dan pendidikan. Kota ini juga menjadi trend setter untuk salah satu aspek konstitutif dari budaya yaitu bahasa. Istilah ‘anak kota’ boleh jadi secara kultural mengandung kekuasaan simbolik.

Dunia Tanpa Batas

Pada era revolusi digital dan informasi saat ini, dunia jadi semakin datar. Dikotomi kampung dan kota sudah mendekati akhir. Distingsi kultural dengan berbagai atribut yang melekat pada keduanya semakin memudar. Batasannya tak lagi sejelas dulu. Kampung dan kota semakin borderless.

Bahkan, secara bombastis dikatakan bahwa the world is at the tip of your fingers, mengacu pada bagaimana jari-jari kita menari indah pada layar gawai (gadget) yang kita miliki.

Sejumlah pakar telah meramalkan era ini akan datang. Dua di antaranya adalah Aflin Toffler dan Thomas L Friedman. Dalam The Future Shock yang terbit 48 tahun lalu, Toffler mengulas soal perubahan struktural masyarakat yang masif, yang akan membuat individu dalam masyarakt mengalami disorientasi dan tertekan karena bergelimang informasi. Toffler kemudian mempopulerkan istilah information overloaded. Nyatanya, ramalan Toffler sangat telak. Berbagai berita bohong (hoax) telah membanjiri kita dan cukup membuat kita terbelah secara sosial dan tertekan secara psikologis.

Sepuluh tahun kemudian (1980) Toffler mempublikasi The Third Wave, Gelombang Ketiga. Dalam karya monumental ini dia secara terang menjelaskan tentang datangnya Information Age, era informasi. 

Thomas L Friedman, melalui The World is Flat (2005), dengan data yang akurat mengelaborasi  sepuluh faktor (flatteners) yang mebuat dunia kita semakin datar. Dua di antaranya yaitu uploading (kesempatan bagi setia orang untuk mengunggah informasi) dan the steroids (rekayasa digital dengan berbagai efeknya) bertalian erat dengan revolusi informasi dan digital yang kita alami saat ini.

Revolusi Cara Berpikir

Revolusi informasi dan digital mengubah pola relasi kampung-kota pada domain kultural secara masif. Saat berita, informasi, ilmu pengetahuan, hiburan, dan gaya hidup bisa diakses dari kampung Lante di ujung Reok Barat,  kota dan kampung hanya soal locus. Ruteng dan Nampar Macing cuma perkara tempat tinggal. Dalam waktu yang tidak lama lagi, pusat dan periferi tak lagi ada.

Berbagai bentuk komunikasi bisa terwujud, baik dan buruk. Viralnya video kekerasan yang berawal dari komunikasi via messenger antara korban kekerasan (orang kampung) dan istri pelaku (orang kota) adalah contoh yang tidak terbantahkan. Meski keduanya asing satu sama lain, mereka tetap saling berkomunikasi. Yang sama pada keduanya hanyalah kemampuan mereka dalam menggunakan fitur komunikasi pada gawai yang mereka miliki. Tetapi, atribut kultural yang membedakan mereka secara substantif menjadi kabur.

Pada aras lain, kata khiasan ‘kampungan’ yang mendeskripsi watak sebuah perilaku tampaknya juga akan ditakar sesuai tingkat kecerdasan dalam menggunakan media sosial. Kampungan akan merujuk pada kegagalan kita dalam memanfaatkan media sosial secara benar dan tepat. ‘Anak kota’ dan ‘orang kampung’ yang tidak bijaksana menggunakan media sosial untuk kepentingan diri dan lingkungan sosialnya sama-sama bisa disebut kampungan.

Video “laos” bukan kasus tunggal. Terlalu banyak contoh yang menunjukkan bahwa kecepatan revolusi digital tak paralel dengan perubahan cara berpikir. Kita sering memanfaakan medsos yang canggih dengan pola pikir yang lama. Hujatan, makian, perundungan (bully), persekusi, prilaku rasis dan beragam kekerasan verbal dan simbolik lainnya semakin tereskalasi dalam medsos. Digitalisasi informasi justru menampakkan sisi primitif manusia. Kita mesti ingat bahwa setiap pilihan tindakan yang mendegradasi martabat pribadi dan sesama (juga dalam jagat virtual) masuk kualifikasi primitif.

Sebagai warna netizen, satu hal yang selalu perlu kita catat bahwa dalam belantara virtual yang tak bertuan ini, sebuah teks (apapun bentuknya) tak bisa ditarik ke ranah privat ketika sudah dilepas ke ruang publik dan menjadi diskursus publik.

Usaha memprivatisasi sebuah teks yang terlanjur lepas bebas, kendatipun dengan ancaman, adalah kerja sia-sia. Di sisi lain, jejak digital yang terkubur atau dikuburkan akan bisa digali kembali.

Moral yang kita petik dari kasus ini pastilah soal bijaksana dalam menggunakan media sosial. Revolusi informasi dan digital mengandaikan revolusi cara berpikir (mindset). Mungkin kita perlu mengingat pesan Louis Pasteur yang dikutip Friedman: “Fortune favours the prepared minds,” yang dalam konteks bermedia sosial, kita baca medsos akan ‘membawa hal baik bagi mereka yang cerdas’ memanfaatkannya.