Sejumlah pipa terlentang di atas tanah di samping bak air Gua Firdaus, Labuan Bajo. (Foto: Floresa).

Labuan Bajo, Floresa.co – Pemerintah pusat dan pemerintah daerah telah menggelontorkan dana sangat fantastis untuk memenuhi kebutuhan air bersih  warga Labuan Bajo, Manggarai Barat.

Namun dana miliaran tersebut belum mampu mengatasi persoalan klasik dan akut di kota pariwisata itu. Warga setempat, perusahaan jasa pariwisata, bahkan Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dula masih mengeluh kesulitan air bersih.

Lima Bak Tanpa Air

Anggaran yang digelontorkan antara lain digunakan untuk membangun sejumlah bak penampung air. Pantauan floresa.co, terdapat lima bak penampung air di kota ujung barat Flores itu. Dua bak tertua ditemukan di Tuke Tai Kaba dan di bukit Wae Mata.

Menurut Kepala Bidang Penyedia Air Bersih dan Penyehatan Lingkungan pada Dinas PUPR Manggarai Barat, John Stat, kedua bak ini dibangun oleh Pater Ernest Waser SVD tahun 2004 lalu.

Pada masa-masa awal pemekaran Manggarai Barat, kedua bak ini mengalirkan air ke kota Labuan Bajo. Lambat laun, kondisinya memprihatinkan. Kini kedua bak ini tak terawat dan tak berisi air. Tampak kran-kran pipanya sudah berkarat.

Bak berikutnya yakni di belakang Gua Firdaus, dekat Bandara Internasional Komodo. Di tempat itu ditemukan dua bak. Satu bak dibangun tahun 2007 lalu. Kondisinya tak terawat. Tak sampai separuh dari bak setinggi tiga meter itu berisi air.

Di dekat bak tersebut terdapat pula satu unit bak baru. Dibangun tahun 2017 atau baru berusia setahun. Sayangnya, bak berukuran kurang lebih lebar 6 meter, panjang 12 meter, dan tinggi 3 meter itu sama sekali tak berisi air.

Bak air Gua Firdaus Labuan Bajo. (Foto: Floresa).

Masih menurut John Stat, bak yang dibuat pada 2017 itu untuk menampung air yang bersumber dari pemurnian air di Jembatan Wae Mese, Nggorang.

John tak mengetahui anggaran dan mitra yang mengerjakan proyek tersebut. Ia menyebutkan dananya berasal dari APBN 2017 dan di bawah kendali PDAM.

“Saya tidak tahu siapa yang mengerjakan. Silakan konfirmasi ke PDAM, karena yang tangani mereka sendiri. Sumber dana APBN tahun 2017,” ujarnya.

Bak berikutnya ditemukan di depan kantor Dinas PUPR. Dibangun tahun 2012 dengan anggaran Rp 2 miliar dari APBD Manggarai Barat. Kondisinya juga sama: tak berisi air.

Bak tersebut dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan air warga Kaper. Namun selama ini warga Kaper langsung mengambil air dari pipa induk yang kebetulan tidak dibenamkan dalam tanah.

Akibatnya tekanan air menuju bak-bak penampung di Labuan Bajo menjadi lemah dan warga ibukota kabupaten itu tetap kesulitan air.

Bupati Hanya Bisa Mengeluh

John Stat mengatakan, Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dula, beberapa kali mengeluhkan kesulitan air yang dialaminya. Namun keluhan Dula lebih ditujukan pada prilaku warga Kaper.

“Aneh kita Labuan Bajo ini. Kaper ini kan 24 jam airnya. Sementara kita di sini (Labuan Bajo) kadang (air mengalir) tiga hari sekali,” kata John Stat, mengutip Bupati Dula.

Baca juga:

 

Sementara itu, John menuding PDAM terkait mubazirnya lima bak penampung air di Labuan Bajo dan perilaku warga Kaper yang mengambil air langsung dari pipa induk.

“Kalau umpanya pemerintah dalam hal ini PDAM konsen tertibkan ini, saya kira kita tidak kesulitan air,” katanya.

Pipa Tergeletak di Mana-mana

Selain untuk membangun bak penampung, anggaran yang digelontorkan juga digunakan untuk membangun jaringan perpipaan.

Namun jaringan perpipaan tersebut dibiarkan tergeletak di atas tanah, dibiarkan bocor, hingga patah.

Jaringan pipa tersebut terlihat mulai dari Langka Kabe hingga ke bak baru di belakang Gua Firdaus. Lalu tersambung ke Kampung Ujung dan ke Gorontalo.

Meski dibenam dalam tanah, tampak pada beberapa bagian, pipa muncul ke permukaan tanah. Pipa-pipa tersebut tak mengalirkan air sehingga bak penampung di belakang Gua Firdaus tak berisi air.

John tidak mengungkap siapa yang mengerjakan proyek jaringan pipa itu. Ia juga menolak untuk menyebutkan besar biaya, termasuk mengomentari informasi yang diperoleh floresa.co bahwa proyek jaringan perpipaan itu senilai Rp 5 miliar.

Ia mengarahkan floresa.co untuk mengonfirmasi pihak PDAM sebagai pihak yang bertanggungjawab atas proyek tersebut.

“Secara detail silakan konfirmasi ke PDAM, karena pemerintah pusat langsung berurusan dengan PAM,” katanya.

John hanya menyebutkan, pipa-pipa itu dibangun dengan dana dari Pespam Strategis. Proyek tersebut ditujukan untuk melayani kawasan sekitar wisata kuliner Kampung Ujung hingga kawasan Gorontalo.

“Kebetulan wilayah itu zona pariwisata dan kesulitan air,” katanya.

Jaringan pipa tersebut dimaksudkan untuk mengalirkan air menuju bak baru di belakang Gua Firdaus. Dari bak tersebut, jaringan pipa terbagi dua. Satunya melintasi Puncak Waringin menuju kawasan Kampung Ujung. Satunya lagi melintasi rumah Kadis PUPR Ovan Adu menuju Gorontalo.

Keluar dari Kota Labuan Bajo, jaringan pipa ditemukan tergeletak di atas tanah pada sisi jalan negara di kawasan Kaper, Desa Golo Bilas. Di wilayah ini, pipa-pipa ditemukan dalam kondisi rusak. Ada yang patah, ada pula yang dilubangi. Tampak air merembes melalui lubang-lubang pipa.

Diduga pipa cepat rusak lantaran tak ditimbun di dalam tanah sehingga memudahkan warga membocorkan pipa untuk menikmati airnya. Bocoran dan patahan pipa membuat tekanan air menjadi lemah sehingga sulit dialirkan hingga kota Labuan Bajo.

Selanjutnya, jaringan pipa tak dibenamkan dalam tanah juga ditemukan di wilayah Pau, Desa Liang Ndara. Jaringan pipa tersambung dari dua mata air, yakni Wae Kaca dan Wae Mbaru.

Debit air dari dua sumber ini cukup besar, namun jaringan pipa yang tak dibenam menjadi mudah rusak. Kebocoran pun ditemukan di mana-mana sehingga sebagian airnya merembes keluar.

Informasi yang diperoleh dari warga setempat menyebutkan proyek perpipaan itu baru dikerjakan tahun 2017 lalu. John Stat membenarkan hal itu.

Ia bahkan menyebutkan, proyek tersebut senilai Rp 2,8 miliar dan didanai APBD II. Adapun mitra yang mengerjakan proyek tersebut yakni CV Muara Wali Jaya dengan nama kontraktor Ricky Moa dan Franky Totos.

“Pagunya Rp 2,8 miliar bersumber dari APBD II. Kontraktor CV Muara Wali Jaya. Riki Moa dan Franky Totos kalau tidak salah,” katanya.

Sejumlah pipa di bukit Wae Mata.

John tampak kesal dengan proyek tersebut. Pasalnya, proyek itu tidak sukses mengalirkan air ke kota Labuan Bajo. Ia tak menjelaskan alasan teknisnya di balik kegagalan proyek miliaran itu.

Ia hanya membantah jika jaringan pipa tidak dibenam dalam tanah karena kekurangan anggaran, sebagaimana disampaikan salah seorang pekerja proyek kepada floresa.co sebelumnya.

Dari sumber mata air yang sama, Pater Ernest Waser SVD pernah mengerjakan proyek air minum pada tahun 2004. Jaringan perpipaan yang dikerjakan Waser tersambung hingga bak Tuke Tai Kaba dan bak bukit Wae Mata yang juga dikerjakannya pada tahun yang sama.

Kala itu, pipa-pipa ditanam di dalam tanah. Waser pun dikenang karena pernah sukses mengantarkan air hingga ke kota Labuan Bajo.

Pada proyek 2017, pipa-pipa yang dikerjakan Pater Waser itu tidak lagi dimanfaatkan. John mengaku kesulitan untuk mengikuti cara Waser, terutama menggalinya.

PDAM Mengelak, Kontraktor Bungkam

Floresa.co sudah berusaha mengonfirmasi pihak-pihak yang disebutkan John Stat. Pihak PDAM Wae Mbeling melalui Direkturnya, Aurelius Hubertus Endo enggan berkomentar banyak.

Terkait APBN tahun 2017 yang digunakan untuk membangun bak di belakang Gua Firdaus yabg dilengkapi dengan jaringan pipa dari Langka Kabe menuju bak tersebut lalu dilanjutkan menuju Kampung Ujung dan Gorontalo, Endo mengaku tidak berkompeten menjelaskannya.

“Jangan, itu masih kewenangan pihak terkait. Belum ada penyerahan. Saya tidak berkompeten menjelaskan hal itu. Silakan konfirmasi ke dinas terkait. Merekalah yang melakukan proses tender,” ujarnya.

Sementara terkait proyek air minum di Wae Kaca dan Wae Mbaru senilai Rp 2,8 miliar dari APBD II, Endo mengatakan, seharusnya memang pipa-pipa dibenam dalam tanah. Pipa-pipa yang tergeletak di atas tanah, kata dia, merupakan pemicu banyaknya kebocoran di mana-dimana.

Selain itu, floresa.co juga sudah berupaya menghubungi Franky Totos dan Riki Moa.

Franky tidak merespon panggilan telepon serta pesan singkat.

Sementara Ricky Moa sempat merespon dengan balik bertanya, “proyek yang mana?” Namun setelah dijelaskan proyek yang dimaksudkan, Ricky tak menjawab.

Sebelumnya, Floresa.co mendapat informasi bahwa Kejaksaan Negeri Manggarai Barat sempat mengendus proyek ini. Bahkan dikabarkan bahwa jaksa sudah pernah memanggil sang kontraktor. Namun, belum ada informasi terkait perkembangan lebih lanjut.

Ferdinand Ambo/Rosis Adir