Mgr Silvester San, Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng memimpin Misa dalam rangka syukuran pesta perak Novisiat SVD Kuwu. Pastor Paul Budi Kleden, Superior General SVD (ketiga dari kiri) juga hadir dalam perayaan tersebut. (Foto: Floresa)

Floresa.co – Rabu, 1 Agustus 2018, Novisiat Sang Sabda Kuwu, rumah formasi misionaris Serikat Sabda Allah atau SVD merayakan pesta 25 tahun.

Perayaan syukur rumah formasi calon imam itu yang ditandai dengan Ekaristi dipimpin selebaran utama, Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng, Mgr Silvester San. Ia didampingi puluhan misionaris SVD, termasuk Superior General SVD, Pater Paul Budi Kleden.

Diwawancarai usai misa syukur, Mgr Sil mengutarakan harapannya pada novisiat tersebut.

Di tengah munculnya berbagai persoalan, termasuk skandal yang melibatkan sejumlah religius, ia mengharapkan Novisiat Sang Sabda untuk melakukan refleksi.

“Kesempatan ini bukan hanya untuk bersyukur, tetapi juga untuk merefleksikan kembali formasi yang dijalankan selama ini, supaya bisa membentuk para novis menjadi orang-orang yang mempunyai komitmen,” ujarnya.

“Mereka memilih jalan panggilan menjadi imam kah, bruder kah, mereka betul-betul komit dengan apa yang mereka pilih itu,” lanjut Silvester.

Ia juga menyinggung adanya fakta imam dan bruder yang menanggalkan jubah lalu mengundurkan diri dari panggilannya.

Uskup Denpasar itu memahami hal tersebut sebagai dampak dari perkembangan dan perubahan hidup manusia.

Menyadari hal itu, ia mengharapkan agar novisiat bisa membentuk misionaris yang berkomitmen untuk tetap setia pada panggilannya.

“Bahwa pasti ada yang berhenti. Itu kita tidak bisa sangkal, karena hidup manusia ini terus berkembang, terus berubah,” katanya.

Namun, jelas dia, ada harapan besar agar hasil dari proses formasi di novisiat kemudian menciptakan pribadi-pribadi yang punya komitmen, setia pada panggilan yang dipilih.

Sementara itu, Pater Budi Kleden menyatakan, proses formasi yang dijalankan di novisiat harus memberikan perhatian serius pada aspek kematangan manusiawi.

Tarian saat mengantar persembahan dalam Misa syukur HUT ke-25 tahun Novisiat Kuwu, 1 Agustus 2018. (Foto: Floresa)

Kematangan manusiawi, katanya, berkaitan dengan aspek psikososial dan psikoseksual. Seorang novis mesti mengenal dirinya dengan baik, menemukan kekuatan dan kelemahan pribadinya dan berkembang dalam kekuatan-kekuatan dirinya sebagai manusia.

“Panggilan itu dibangun atas dasar kematangan manusiawi. Karena itu yang amat penting dalam formasi adalah memperhatikan aspek ini,” ujarnya.

Novisiat juga, jelas Budi perlu menanamkan kesadaran akan kebutuhan untuk terus menerus membentuk diri melalui pendampingan berkelanjutan. Tanpa upaya terus menerus membentuk diri dan tanpa pendampingan berkelanjutan, panggilan imam, biarawan, biarawati, lanjutnya, mengalami kekeringan.

Ia mengatakan SVD membutuhkan formasi yang sangat kuat dan bovisiat merupakan landasan utama dalam pendidikan calon misionaris.

“Karena itu harapan kami adalah bahwa di sini pembinaan, pendampingan calon misionaris, para calon biarawan itu terjadi secara baik, penuh dedikasi, tanggung jawab,” katanya.

Ia juga menyadari, para novis tak semuanya terpanggil menjadi imam atau bruder. Bahkan mayoritas terpanggil menjadi awam. Namun semangat novisiat, formation for mission, tetap hidup dalam diri mereka.

“Mereka yang memutuskan untuk menempuh jalan hidup yang lain, terus menjadi misionaris. Misionaris dalam konteks mereka, dalam lingkup mereka. Di tempat kerja masing-masing, dalam.keluarga, di tengah masyarakat, tetap menjadi misionaris,” katanya.

Sementara itu Magister Novisiat Kuwu, Pater Sebas Obahana menyebut selama 25 tahun, rumah formasi tersebut telah mendidik 1.347 novis.

Dari jumlah tersebut, mayoritas memilih formasi frater yakni 1.196 orang, sedangkan formasi bruder sebanyak 151 orang.

Dari 1.347 novis, yang sampai pada kaul pertama tersisa 780 orang, yang terdiri atas 690 frater dan 90 bruder. Dari 690 frater, hanya 215 orang, yang ditahbiskan menjadi pastor hanya 215 orang dan yang mengikrarkan kaul kekal sebagai bruder hanya tersisa 27 orang.

Dengan demikian hanya 242 orang yang menjadi anggota SVD.

“Jumlah terbesar yakni 940 orang telah menjadi awam Katolik berkualitas dan berintegritas,” ujar Sebas.

EYS