Maria Atriana Densi (8) dan Sensianus Sastro (11), dua murid Sekolah Dasar yang kami temui dalam perjalanan menuju Kampung Pau. (Foto: Floresa)

Labuan Bajo, Floresa.co – Maria Atriana Densi (8) dan Sensianus Sastro (11) tampak kelelahan.

Raut wajah polos mereka mencoba menyapa kami yang terengah-engah melintasi jalan menuju menuju Kampung Pau, Desa Liang Dara, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Selasa, 31 Juli 2018.

Pau adalah kampung pemasok air untuk Labuan Bajo, kota yang kini tengah hingar-bingar dengan pembangunan pariwisata.

“Selamat siang pa,” kata Sensi dengan wajah yang tampak bertanya-tanya.

Saya balik menyapanya sembari memarkir sepeda motor ke pinggir jalan.

Mereka mencoba mendekat, namun tampak ada keengganan.

Sambil berbasa-basi, saya mencoba memperhatikan keduanya. Mereka masih mengenakan setelan seragam nasional berwarna merah-putih.

Maria Atrian Densi yang biasa disapa Atri menggendong tas berwarna coklat. Ia juga mengenakan sepatu.

Namun Sensi, walau sama seperti temannya itu menggendong tas, hanya mengenakan sandal jepit. Sepatu, katanya, sengaja ditinggalkan di sekolah di SD Wae Moto agar tidak cepat rusak.

Sensi duduk di bangku kelas V. Sedangkan Afri di kelas III.

SD Wae Moto terletak kira-kira 1 km dari Dalong, kampung yang terletak di pinggiran Jalan TransFlores. Dari Dalong inilah akses menuju Wae Moto, lalu dua kilometer ke Kampung Pau.

Siapapun yang melitas di jalan ini, pasti akan mengalami tantangan yang cukup hebat.

Kami pun demikian. Sangat susah mengendalikan sepeda motor akibat jalan yang sama sekali belum mendapat sentuhan pembangunan dari pemerintah.

Dari cabang Dalong, tepatnya sebelum sebuah bangunan gereja Katolik, jalannya sudah diaspal, tetapi hanya sepanjang sekitar 600 meter hingga sebuah jembatan yang melintasi sungai kering, sebelum memasuki SD dan Pustu Wae Moto.

Di sekitar jembatan itu juga terdapat tempat penggilingan batu serta dua potong pipa besi dan plastik berukuran sekitar 8 dim yang tidak dialiri air dan melintang selebar sungai itu.

Menurut seorang bapak tua yang kami ditemui di sekitar itu, aspal itu dikerjakan pada 2017, namun tidak tahu, siapa kontraktor yang mengerjakannya.

“Am baba one Bajo sion laun, (Mungkin milik pengusaha Cina di Labuan Bajo-red).”

Pantauan Floresa.co, walau baru berumur setahun, aspal tersebut mengalami kerusakan berat.

Di banyak titik, kerikil-kerikil berserakan memenuhi badan jalan hingga beberapa juga yang tampak membentuk cekungan yang cukup dalam, tampak karena dasarnya tidak kuat.

Sementara dari jembatan tersebut, jalannya hanya dilapisi batu, melewati Kampung Wae Moto hingga beberapa meter setelah kampung itu.

Menuju Kampung Pau, sama sekali belum tersentuh pembangunan. Masih dalam kondisi tanah polos.

Tak heran, mobil hanya bisa masuk dua kali seminggu, yakni hari Rabu dan Sabtu. Itu pun hanya oto colt, sebutan populer orang Manggarai untuk bus kayu.

Kondisi jalan yang masih tanah polos itu cukup banyak menghasilkan debu di badan jalan, apalagi saat ini tengah musih kemarau.

Semua yang melintas akan merasakan dampaknya, termasuk kami, juga Atri dan Sensi yang hari-harinya selalu melintas jalan itu ju

Sepatu yang dikenakan Afri tak lagi menampakkan warna aslinya akibat debu. Begitu pun Sensi yang hanya mengenakan sandal jepit. Kaki mungilnya penuh debu.

Kedua anak petani itu bersama teman-teman mereka dari Kampung Pau setiap hari sekolah harus berjalan kaki. Menurut Sensi, mereka harus berangkat pukul 06.00 Wita, lalu pulang pukul 12.00 Wita.

Untuk sampai ke Pau, mereka menghabiskan kira-kira 2 hingga 3 jam di perjalanan, karena tanjakan yang cukup memakan energi. Mereka biasanya tiba sekitar pukul 14.00-15.00 Wita.

Mereka selalu membawa bekal. “Mama yang siapkan makanan (yang) dibungkus dengan plastik,” kata Atri.

Dalam perjalanan itu, di beberapa titik sebelum akhirnya sampai di Pau, berkali-kali teman yang saya boncengi turun dari sepeda motor, mengantisipasi terjadinya kecelakaan.

Sekitar pukul 15.00 Wita, kami tiba di kampung itu. Setelah memarkir motor, kami jalan kaki 400 meter ke mata air, yang menjadi “sumber kehidupan” untuk Labuan Bajo, sebagai bagian dari kegiatan liputan masalah krisis air.

Kami melintasi jalan setapak di tengah kebun warga yang mayoritas ditumbuhi pohon kemiri dan mahoni.

Dalam perjalanan pulang pulang dari Pau, saya terus mengingat Astri dan Sendi, jalan yang harus kami lalui, juga kehidupan warga di sana.

Perjalanan ke Pau tak bedanya menempuh perjalanan menuju sejumlah kampung di pedalamann Kecamatan Macang Pacar atau Kecamatan Elar di Manggarai Timur yang terkenal dengan kerusakan infrastruktur.

Yang jelas, narasi soal nama besar Labuan Bajo, yang menggema di banyak tempat, masih pradoks dengan kenyataan hidup masyarkat di Manggarai Barat.

Wae Moto dan Pau serasa ratusan kilometer dari hiruk pikuk Labuan Bajo, daerah yang mendapat kucuran triliunan uang setelah ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo sebagai salah satu dari delapan destinasi wisata prioritas.

Kalau Pau dan Wae Moto saja, yang terhitung dekat dengan ibukota situasinya demikian, apalagi daerah lain.

Ario Jempau/ARL/Floresa