Hutan Ronggo Niki di Desa Ruan, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur. (Foto: Rosis Adir/Floresa)

Borong, Floresa.co – Ronggo Niki adalah nama kawasan hutan tropis yang terletak di Desa Ruan, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Nama Ronggo Niki memang belum terlalu familiar untuk warga Matim, apalagi Indonesia. Namun, wilayah hutan tersebut menjadi salah satu habitat burung maleo, spesies burung langka yang unik di Indonesia.

Memang selama ini maleo disebut hanya hidup di hutan tropis dataran rendah Pulau Sulawesi seperti di Gorontalo, tepatnya di daerah Bone Bolango dan Pohuwato, juga di Sulawesi Tengah, daerah Sigi dan Banggai.

Namun, ternyata spesies maleo juga ada di Matim.

Dalam bahasa warga Desa Ruan, maleo dikenal dengan sebutan “wontong.”

Seorang warga menjelaskan, salah satu keunikan burung ini adalah saat baru menetas,  anak  burung Maleo tidak boleh bertemu dengan induknya. Jika bertemu dengan induknya, pasti akan dicotok sampai anaknya itu mati.

Tidak seperti burung lainnya yang membuat sarang dari ranting-ranting dan dedaunan, sarang burung Maleo terbuat dari tanah.

Maleo menumpukkan tanah beberapa bulan sebelum ia bertelur, dengan tinggi mencapai 2,5 meter.

“Apabila maleo sudah bertelur di atas gudukan tanah yang dikumpulnya itu, dengan sendirinya telur tersebut akan turun ke dalam tanah hingga kedalaman 1 meter,” jelas seorang warga di lokasi sarang burung maleo saat kegiatan sapta pesona dan bersih-bersih yang digelar oleh Dinas Pariwisara Matim, Jumat, 29 Juni 2018.

Keunikan lain burung ini adalah ukuran telurnya yang sangat besar. Perbandingannya sekitar tiga atau empat kali lipat dari ukuran telur ayam. Padahal, postur maleo sama dengan ayam betina.

Selain burung maleo, di dalam kawasan hutan Ronggo Niki juga terdapat aneka spesies burung lain. Tak hanya itu, di sini juga ada gua batu yang sangat dalam.

Menurut cerita warga, gua tersebut merupakan tempat persembunyian para gadis setempat pada zaman penjajahan Jepang.

“Gadis-gadis sembunyi di gua karena takut kepada tentara-tentara Jepang yang haus seks,” tutur seorang warga.

Meski pun gua itu diyakini pernah dijadikan tempat persembunyian di zaman penjajahan,  tidak ada warga yang berani untuk masuk sampai di ujung gua.

“Pernah ada yang masuk, tapi tidak sampai di ujung gua. Di dalam sangat gelap. Cahaya senter tidak bisa menembusi kegelapan gua,” katanya.

Kini, gua batu itu dihuni oleh kelelawar. Nama Ronggo Niki pun diambil dari kebiasaan warga sekitar memburu kelelawar. Ronggo berarti menghalang, sementara niki adalah bahasa lokal untuk kelelawar. Jadi, Ronggo Niki berarti memburu kelelawar dengan cara menghalang kelelawar keluar dari dalam gua.

Selain gua batu, di kawasan hutan itu juga terdapat batu berundak-undak yang diduga sebagai bekas benteng pertahanan pada zaman perang melawan penjajah.

Pemerintah sedang berupaya mengembangkan kawasan hutan ini sebagai hutan wisata alam.

Sensasi udara sejuk dan bersih membuat pengunjung akan terus betah berada dibawah pohon-pohon rindang di hutan itu.

Suara berbagai spesies burung di hutan itu akan menenangkan pikiran anda dari hiruk pikuknya kehidupan di kota.

Jika adan suka trekking, Ronggo Niki bisa jadi salah satu pilihan yang tepat untuk dijelajahi.

Rosis Adir/ARL/Floresa