Benny Kabur Harman (BKH). (Foto: Ist)

Oleh: IRVAN KURNIAWAN, simpatisan Benny Kabur Harman (BKH)

Semenjak masuk kuliah, saya sudah bergelut dengan berbagai masalah sosial politik di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan masuk di salah satu organisasi mahasiswa level nasional.

Beragam persoalan kami bahas, kritik dan suarakan. Puluhan bahkan ratus demonstrasi telah kami lakukan, meski harus berjemur selama berjam-jam di bawah panasnya matahari di Kota Kupang.

Kami mengangkat persoalan kemiskinan, korupsi, kebijakan yang tidak pro rakyat, hingga kasus human trafficking yang terus mendera.

Hampir selama 4 tahun saya bergelut dalam diskusi dan advokasi demi perubahan NTT.

Tak hanya itu, ratusan tulisan tentang beragam masalah tersebut telah saya torehkan dalam ratusan artikel di media massa lokal NTT.

Pada suatu titik di tahun 2015, saya dihantui rasa jenuh. Saya berpikir ‘alangkah susahnya mendorong perubahaan dari luar sistem’.

Saya dan juga teman-teman aktivis hanya mampu “menggongong” dari luar tapi tidak bisa mempengaruhi kebijakan.

Hampir semua masalah yang sedang dihadapi orang NTT bersinggungan erat dengan kekuasaan.

Saya pun berkesimpulan, kekuasaan yang korup, kapitalistik, dan berjalan tanpa nilai itu turut memiskinkan orang NTT.

Seharusnya kita tidak miskin tapi dimiskinkan oleh relasi busuk antara penguasa dan pemodal. Akibatnya kebijakan yang dihasilkan hanyalah kalkulasi untung rugi elit politik dan ekonomi. Janji-janji politik pun seperti balon-balon sabun yang terbang ke udara, lalu hilang entah kemana.

Sampailah pada saat dimana saya berhadapan dengan sebuah pilihan. Masih di tahun yang sama, persisnya di bulan September 2015.

Itu terjadi ketika seorang teman mengajak untuk bergabung memenangkan salah satu calon gubernur NTT.

Mendengar ajakan ini, telinga saya sepertinya gatal. Saya betul-betul alergi berbicara politik praktis. Saya langsung berpikir jauh, bahwa masuk dalam politik hanya akan menjadi bagian dari sistem busuk yang korup dan kapitalistik.

Karena itu, ajakan itu saya langsung tolak. Saya lebih memilih untuk melanjutkan kuliah S2, daripada menyibukkan diri dengan barang-barang macam itu.

Namun, teman yang juga lama bergelut di salah satu organisasi mahasiswa nasional itu tetap meyakinkan saya.

“Bagaimana kalau orang yang kita perjuangkan ini bersih, punya kemampuan dan niat yang tulus?” tantangnya, berusaha meyakinkan saya.

“Siapa itu bung?”

“Benny K Harman. Itu senior kamu di SMA dulu,” jawabnya.

Pikiran saya pun kembali ke tahun 2007. Kala itu, saya menginjak kelas 1 SMA di Seminari Pius XII Kisol, di mana suatu hari usai jam makan malam, kami berkesempatan bertatap muka dengan BKH dan istrinya.

BKH kala itu mensharingkan pengalamannya selama menjadi aktivis mahasiswa, mendirikan berbagai lembaga hukum dan demokrasi, hingga menjadi anggota DPR RI.

Cerita pengalaman hidupnya sungguh luar biasa. Sosok ini begitu idealis di tengah belantara politik tanah air yang kental dengan pragmatisme politik.

Begitulah kesan pertama saya waktu bertatap muka dengan beliau.

Lantas, saat teman itu menyebut nama BKH, hati saya sedikit tergugah. Meski pada saat itu masih ada kebimbangan mengingat teman-teman separtainya di Demokrat didera kasus korupsi. Namun, setelah dipikir-pikir, ujian integritas BKH justru pada saat-saat itu. Dia tetap menjadi emas di tengah lumpur korupsi.

Tak hanya itu, kemampuan dari segi pendidikan dan kiprahnya di level nasional akhirnya mematangkan niat saya bekerja demi orang ini.

Saat itu saya dihadapkan dengan pilihan, terus berjuang dari luar sistem atau berjuang memasukkan orang yang benar dan bersih ke dalam sistem.

Pendek kata, saya akhirnya mematangkan niat bekerja bersama BKH.

Dua minggu kemudian, saya dan empat teman muda lainnya bertemu dengan BKH. Saat itu, ia menyampaikan niat membangun NTT dan berharap agar anak muda yang punya mimpi mengubah NTT berjuang bersama barisannya.

Kami pun mulai bekerja menggalang dukungan. Saat memasuki masa kampanye, bersama BKH kami berjalan dari kampung ke kampung tak kenal lelah dari pagi hingga jauh malam.

Sebanyak 1.400 lebih desa telah kami kunjungi untuk bertemu langsung masyarakat.

Kami berkeyakinan, dengan menemui langsung rakyat di kampung-kampung, kami dapat merasakan langsung masalah mereka. Hal ini berbeda dengan calon lain yang memobilisasi orang-orang kampung untuk berkumpul di kecamatan.

Selain merasakan langsung persoalan jalan, air, listrik dan pertanian yang menjadi keluhan utama, cara ini juga mau menunjukan kepada orang NTT bahwa BKH dan wakilnya Benny Litelnoni serius dan punya komitmen membangun NTT.

Metode ini juga dipakai untuk menekan biaya politik agar nanti kalau terpilih tidak membebankan mereka.

Kami semua tahu bahwa memakai cara ysng mudah, yaitu dengan mengumpulkan massa sangat bisa dilakukan BKH. Selain punya modal yang banyak, dia juga bisa menggalang modal tambahan dari pemodal yang mau berinvestasi ke NTT. Apa bisa? Sangat bisa.

Dukungan itu sangat terasa, setelah pak Marianus tersandung kasus. Cuma BKH satu-satunya cagub asal Flores. Bahkan saat itu banyak investor dan kontraktor yang sudah menawarkan diri membantu.

Namun, idealisme BKH tidak luntur. Di hadapan kami dia berkata, ”Kalau saya meninggalkan kenyamanan di Jakarta dan kembali ke NTT untuk menambah masalah, mending saya tetap di sana. Berapa sih gaji gubernur dibanding hasil kerja saya di Jakarta?”

Kami pun disadarkan dengan kata-kata itu.

Saya sendiri kembali disegarkan dengan perjanjian awal bahwa saya dan teman-teman ingin memasukan orang bersih ke dalam sistem.

“Lalu bagaimana dengan kondisi orang NTT yang sudah sekian tahun dimanjakan dengan cara-cara transaksional? Bukankah kita harus memakai cara seperti itu dulu, baru ketika terpilih kita memakai idealisme kita?” tanya saya ke BKH.

Mendengar itu, BKH malah balik memarahi saya.

“Loh kok kamu berpikir begitu? Kalau begini caranya, tidak mendidik adik. Kita manfaatkan waktu kampanye ini justru untuk mendidik mereka. Kalau mereka tidak pilih saya, tidak apa-apa. Silahkan mereka pilih orang lain yang lebih baik dari saya dan program-program kita,” demikian jawab BKH dengan gayanya yang khas.

Saya akhirnya kembali disadarkan untuk yang kedua kalinya.

Perjuangan ini memang tidak hanya soal hasil tapi cara. Hasil dan cara kampanye ini yang menentukan kualitas kepemimpinan selama lima tahun ke depan.

Cara BKH berkampanye memang tergolong unik dari yang biasa kita dengar.

Pernah saat kampanye jilid 2 di Lembata, BKH memarahi seorang tua adat yang meminta BKH membangun rumah adat kalau terpilih. Sebelumnya bapak itu mengaku ada kandidat yang pernah berjanji namun setelah terpilih tidak pernah datang lagi.

Kala itu, mantan ketua komisi 3 DPR RI ini memarahi calon pendukungnya itu dengan sadis.

“Bapak tidak pilih saya, silahkan saja. Saya datang ke sini untuk bantu bapa mama sekalian. Masa bapa menggadaikan harga diri bapak dengan meminta-minta seperti ini dalam ruang kampanye. Kalau saya mau dapat suara, saya tinggal kasih bapak janji manis seperti cagub yang bapak singgung itu. Tapi bukan itu solusinya. Saya mau bapak pilih saya bukan karena janji-janji manis tapi karena bapak yakin program saya bagus dan bisa dijalankan,” kata BKH.

Peristiwa ini adalah salah satu momen unik dimana seorang cagub memarahi calon pemilihnya.

Saya pun kembali sadar bahwa politik transaksional sudah begitu kuat mengendap dalam masyarakat NTT.

Tak hanya itu, masyarakat yang meminta-minta uang dan sembako juga dimarahi BKH. Bagi dia, NTT tidak maju-maju karena cara berpolitiknya seperti ini.

Seorang teman saat dalam perjalanan pulang dari desa itu juga berbisik ke saya.

“Bung, beberapa waktu lalu, BKH juga pernah marah seorang pastor yang minta sumbangan bangun kapela.”

Mungkin dengan cara seperti inilah mengapa sekelompok orang menyebut BKH sombong dan pelit.

Namun cara itu dia lakukan bukan karena tidak punya uang atau kikir. Dia sedang mendidik pemilih untuk tidak memakai cara kotor, jika mau pemimpinnya bersih.

Kami pun terus berpikir cara yang paling tepat mendapatkan tempat di hati rakyat.

Cara itu akhirnya ditemukan. Kemana-mana tim berjalan, formulir kartu petani sejahtera (KPS) kami kenalkan. Di hadapan masyarakat, manfaat KPS khususnya modal usaha bagi petani dan asuransi gagal panen kami bandingkan nilainya dengan uang Rp 200.000 ribu jikalau ada paslon yang menggerakan dukungan dengan uang.

Rabu, 27 Juni sore, pemenang Pilgub NTT sudah dipastikan menjadi milik pasangan Victor Laiskodat dan Josep Nai Soi (Victory-Joss) versi hitungan cepat lembaga survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC).

Seorang teman pun kemudian menertawai kekalahan kami lewat telpon. Dia menyindir, timses BKH gatot alias gagal total.

Saya pun berpikir, apa benar kami kalah? Dari segi siapa yang kemudian terpilih, tentu pertanyaan itu tidak relevan. Namun, saya sampai pada titik kesadaran bahwa cara yang kami praktekka saat kampanye belum bisa diterima warga NTT.

Mayoritas tampaknya masih lebih suka dengan janji-janji manis: membangun jembatan di tempat yang tidak ada air, membangun bandara sampai ke desa-desa, dan sebagainya.

Rakyat NTT juga ternyata masih lebih suka dengan sosok yang memeluk masyarakat, kendati kemudian memakai baju tahanan karena tersangkut kasus korupsi.

Terima kasih untuk BKH atas pelajaran berharga yang bisa saya pelajari. Tetaplah berbuat sesuatu untuk NTT.