Dituding Aniaya Warga, Kades Bangka Ajang Dilaporkan ke Polisi

0
910
Katarina Dius alias Rina, janda 63 tahun asal Desa Bangka Ajang, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai memperlihatkan bekas luka di lehernya, yang ia klaim akibat kekerasan yang dilakukan oleh Kepala Desa Bangka Ajang, Siti Jaima. Ia mendatangi unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Manggarai pada Jumat, 25 Mei 2018 untuk melapor tindakan Siti. (Foto: Floresa.co)

Ruteng, Floresa.co – Katarina Dius alias Rina, janda 63 tahun asal Desa Bangka Ajang, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai, mendatangi unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Manggarai pada Jumat siang, 25 Mei 2018.

Ia melaporkan Kepala Desa Bangka Ajang, Siti Jaima, yang dituding telah menganiaya dirinya pada Rabu, 23 Mei 2018.

“Dia (kepala desa) mencekik leher saya,” ujar Rina saat diwawancarai Floresa.co usai diperiksa penyidik.

Ia pun menunjukkan bekas luka gores pada lehernya yang disebutnya sebagai bekas kuku kepala desa ketika mencakar dirinya.

Penganiayaan itu, kata dia, terjadi ketika dirinya menghalangi alat berat yang menggusur lahan miliknya untuk pembukaan jalan baru.

Rina bersama keluarganya melarang operator alat berat untuk menggusur lahannya karena sebelumnya atas perintah sang kepala desa, operator alat berat menggusur sawah miliknya. Padahal, kata dia, padi di sawahnya baru saja ditanam.

” Saat itu padi sawah saya baru berumur dua bulan. Dan, masalah penggusuran sawah saya itu belum selesai. Sekarang mereka mau gusur lagi lahan saya yang lainnya,” tutur Rina.

Ia melanjutkan, kekerasan yang dilakukan kepala desa sudah dilaporkan kepada tetua adat setempat untuk diselesaikan secara adat. Namun, sang kades menolak sanksi adat yang disampaikan tetua adat.

“Ibu kepala desa itu terus menantang saya. Dia menghina saya karena saya orang miskin. Dia bilang, ukur kau punya modal. Kau siap uang satu karung untuk hadapi saya,” ujar Rina menirukan ucapan kepala desa.

Rina menambahkan, ia bersama warga lainnya sebenarnya tidak pernah berniat menghalang-halangi pembangunan di desanya. Mereka juga tidak berniat menolak pembangunan jalan tersebut. Namun, mereka mempersoalkan  pendekatan sang kades yang cenderung kasar dan menekan warga.

“Bayangkan, kami minta untuk menunda penggusuran di sawah kami yang belum panen, dia tidak peduli. Padi yang baru umur dua bulan itu dia gusur saja,” ujarnya.

Aktivis JPIC SVD Ruteng, Heri Manto, yang mendampingi korban menambahkan, sebelumnya mereka telah mengadvokasi Rina dan beberapa warga korban lainnya ke DPRD Manggarai.

“Persoalan mereka sedang ditangani DPRD Manggarai,” ujar Heri.

“Tetapi khusus kasus kekerasan ini, korban ingin supaya langsung lapor ke polisi karena sebelumnya sudah menempuh pendekatan budaya tetapi tak bisa diselesaikan di sana,” lanjut Heri.

Hingga berita ini diturunkan, Floresa.co belum bisa mendapat komentar kepala desa terkait tudingan Rina.

CHE/EYS/Floresa

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini