Pasar di Mabar: Siapa Pemasok dan Bagaimana Siklus Distribusi Sayur?

0
784
Ratusan pedagangan di pasar Batu Cermin Labuan Bajo menolak lapak mereka dibongkar, Rabu 25 Januari 2017 (Foto: Sirilus Ladur/Floresa)

Floresa.coPerkembangan Kabupaten Manggarai Barat, khususnya kota Labuan Bajo sebagai salah satu destinasi wisata favorit selama beberapa tahun terakhir, di mana makin banyak wisatawan yang berkunjung, ikut meningkatkan  permintaan terhadap pasokan kebutuhan untuk konsumsi, seperti sayur mayur.

Namun, sayangnya sumber produksi sayuran pada pasar-pasar tradisional yang tersebar di wilayah ini belum sepenuhnya mampu disediakan oleh kelompok-kelompok petani setempat.

Beberapa jenis sayur harus didatangkan dari kabupaten lain, bahkan sampai dari provinsi lain. Selain karena faktor alam, ketidakmampuan menyediakan kebutuhan bahan konsumsi ini juga disebabkan masih banyaknya masyarakatyang tidak mampu mengembangkan sektor tersebut untuk mengembangkan sumber pendapatan yang lebih menguntungkan.

DI Pasar Batu Cermin Labuan Bajo, banyak pedagang yang berlatar belakang keluarga petani justru menjajakan sayur-mayur yang dibeli dari penadah. Mereka punya alasan masing-masing.

Florentina Jelia (41) mengaku tidak menjual sayur hasil tanam sendiri karena tidak memiliki modal yang cukup. Padahal, warga Dusun Kaper, Kecamatan Komodo ini punya lahan yang bisa dipakai untuk menanam sayur. 

“Saya ada lahan tapi percuma karena tidak ada modal dan tenaga. Mau harap anak, mereka harus sekolah,” katanya saat ditemui di Pasar Batu Cermin, baru-baru ini.

Saat ditemui, Florentina Jelia didampingi saudarinya Maria Seniman (48) yang juga menjual sayuran yang dibeli dari penadah.

Berbeda dari adiknya, Maria Seniman tidak menjual sayur hasil pertanian sendiri karena ia memang tidak memiliki lahan untuk bercocok tanam. “Makanya saya jadi pedagang sayur. Saya memang tidak punya lahan,” ujar dia. 

Selain terkendala lahan, kata Maria Seniman, masalah lain adalaj sumber air di sekitar tempat tinggalnya di Dusun Kaper masih sangat kurang.

“Kita mau tanam sayur, tapi air susah. Beda kalau di daerah seperti Nggorang dan Merombok, di sana banyak air,” kata dia. 

Sementara itu, pada umumnya di Pasar Batu Cermin, sayur-sayur yang bisa diperoleh dari petani di Kabupaten Manggarai Barat di antaranya; sawi, bayam, dan terong. Selain itu, buah jenis tertentu juga bisa diperoleh seperti mangga dan pisang. Namun, pengakuan sejumlah pedagang, buah-buahan tersebut baru bisa di-supplay dari pedagang Manggarai Barat di saat musimnya saja.

“Misalnya mangga, baru kami ambil dari petani Manggarai Barat kalau lagi musim seperti sekarang,” kata Gita (53), seorang pedagang bersuku Manggarai. 

Di luar wilayah Kabupaten Manggarai Barat, sayur-mayur yang didagangkan di Pasar Batu Cermin juga berasal dari Kabupaten Manggarai, Kabupaten Ngada, Bima (NTB), Mataram (NTB), dan Sulawesi Selatan.

Sumber sayur dari Kabupaten Manggarai biasanya untuk jenis wortel, labu jepang, daun seledri, dan daun bawang. Sedangkan Kabupaten Ngada, lebih banyak menyuplai sayuran jenis kol. 

“Kami dapat wortel dari petani di Ruteng dan Bejawa. Wortel termasuk gampang diperoleh karena dipasok setiap hari,” beber Yohanes Mite (30), seorang pedagang dari suku Manggarai. 

Untuk jenis sayuran yang diperoleh dari daerah lain, Rohani, seorang pedagang bersuku Bima mengaku menyuplay sayur dagangannya dari Bima dan Mataram. Paling sering, Rohani memasok bawang merah, bawang putih, dan cabe keriting. Selain itu, ia juga menjual garam yang dibeli dari petani garam yang berasal dari Sape dan Bima. 

“Di sini tidak ada pengusaha garam. Garam kasar saja,” kata Rohani. 

Siklus Distribusi Sayur

Jarang ditemukan, petani-petani langsung mendagangkan hasil tanamannya kepada konsumen. Terdapat siklus distribusi yang bergerak sebelum sampai kepada konsumen.

Beni Leta (42), petani asal Rakalaba, Kabupaten Ngada setiap dua kali seminggu mengangkut 300 biji sayur kol dan 200 biji wortel untuk dijual ke pasar-pasar tradisional di Kabupaten Manggarai Timur, Manggarai, dan Manggarai Barat.

Ia memiliki lahan dua hektar di Rakalaba untuk menanam sayuran jenis kol dan wortel.

Saat ditemui di Pasar Rekas, Kecamatan Mbeliling beberapa waktu lalu, Beni mengatakan, ia bahkan mampu menyuplai berton-ton sayuran jenis tersebut. 

“Sekali angkut pun bisa berton-ton. Saya panen tidak kenal musim, jadi bisa sepanjang tahun,” bebernya. 

Untuk sayuran kol, Beni mengaku punya pesaing dari Kabupaten Manggarai. Namun meski begitu, permintaan terhadap hasil pertaniannya tidak pernah surut. 

Selain kol dan wortel, Beni juga menanam kentang, tomat, dan jagung manis.

Ia memang sudah terbiasa bertani sejak kecil dan baru berani mendistribusikan hasil pertaniannya sendiri ke Flores bagian barat dalam satu tahun terakhir. 

Untuk di Pasar Batu Cermin Labuan Bajo, penadah biasanya mengangkut sayuran  dari petani dan menjualnya kembali ke pedagang-pedagang kecil.

Biasanya, penadah membeli sayuran tersebut dari petani dengan hitungan per-kilogram.  

Andri (20), seorang penadah sayuran yang bersumber dari Kabupaten Manggarai, mengaku hanya menyuplai sayur dari Dusun Lao, Kabupaten Manggarai.

Dia hanya menjual kepada pedagang-pedagang kecil di Pasar Batu Cermin. 

“Kami datang dari ruteng setiap dua hari sekali. Permintaan semua jenis sayur yang kami bawa selalu merata,” katanya.

Ia menjelaskan, untuk sayuran jenis buncis, ia membelinya langsung dari petani dengan harga Rp 11 ribu per kilogram, kemudian dijual kembali dengan harga Rp13 ribu per kilogram.

Daun bawang, kata dia, dibeli dengan harga Rp 8 ribu per kilogram dan dijual dengan harga Rp10 ribu per kilogram.

Untuk sayur bayam dibeli dengan harga Rp11 ribu per kilogram, lalu dijual kembali dengan harga Rp10 ribu untuk tujuh ikat. Ukuran per ikatnya pun sudah dirombak.

Harga ini berlaku saat jenis sayuran tersebut sedang tidak langka. Setelah dari penadah, pedagang kecil kemudian menjual ke konsumen dengan target keuntungan berkisar Rp 2000,- sampai Rp 10 ribu. 

Berta (30) biasa menjual sayuran yang dibeli dari penadah yang berasal dari Kaper.  Ukuran sayur yang dibeli dari penadah dirombak kembali agar bisa memperoleh keuntungan yang cukup.

“Saya beli di penadah dengan harga seribu satu ikat untuk bayam. Saya jual kembali dengan harga Rp 5 untuk tiga ikat,” katanya.

Untuk buncis dan bawang, dari harga Rp11 ribu per kilogram, biasa dijual kembali oleh pedagang dengan harga Rp20 ribu per kilogram.

Sensi (29), pedagang sayur-mayur asal Ruteng menjual daun bawang dengan harga Rp15 ribu per kilogramnya dan buncis 20 ribu per kilogram.

Dengan harga tersebut, kata dia, permintaan konsumen tidak pernah surut. 

Sengketa Pedagang

Salah satu masalah yang sering terjadi di pasar adalah pengelolaan pasar yang masih menjadi perdebatan antara pengelola dan pedagang. Hal tersebut juga terjadi di Pasar Batu Cermin

Sejumlah pedagang di pasar itu mengaku, saat pasar pertama kali dibuka pada 2012, pengelolanya adalah Koperasi Ca Nai. Namun, lambat laun, pasar itu dikelola Dinas Perindustrian dan Koperasi Mabar.

Selama beroperasi sampai tahun 2017, Satpol PP beberapa kali melakukan penertiban dan pengaturan lapak pasar. Hal ini pun menuai protes pedagang.

“Kami dua kali bikin stand, dua kali juga dibongkar. Ini pasar kan awalnya dikelola Koperasi Ca Nai dan dulu pegawai pasar dari koperasi yang bagi tempat. Selama itu kami aman,” ungkap salah seorang pedagang bernama Sri. 

Sri menuturkan, pemerintah kabupaten meminta dirinya dan pedagang lain yang lapaknya dibongkar agar pindah ke gedung pasar yang baru dibangun.

Di sana, lanjut Sri, sudah disediakan tempat berdagang. Para pedagang pun pernah mencoba menempati gedung tersebut selama seminggu. Selain terasa sesak dan tidak bisa memuat semua dagangan, mereka juga mengalami kerugian karena lokasinya yang tidak strategis membuat sulit dijangkau pembeli.

“Bayangkan, kami hanya dapat tiga puluh ribu (Rupiah) satu hari. Selain itu, di sana juga banyak lalat karena dekat dengan pedagang ikan dan daging,  jadi sayurnya tidak sehat, rusak, dan gampang membusuk. Makanya kami tidak mau di gedung,” tegas dia. 

Sementara itu, meski kini mengisi ruang yang tidak diizinkan pemerintah, para pedagang tetap dikenakan pajak dan membayar Surat Ketetapan Retribusi Daerah (SKRD) untuk gedung yang tidak terpakai.

Terdapat pungutan harian selain hari Minggu senilai Rp 2.000 per hari dan untuk pembayaran SKRD mereka dikenakan Rp 60 ribu per triwulan. 

“Biar kami tidak tempati (gedung, red), tetap kami bayar. Biar saja kami bayar, asal kami tetap jual di sini dengan aman,” kata Irma, salah seorang pedagang.

AVB/ARL/Floresa

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini