Aktivis PMKRI Cabang Ruteng sedang menggelar aksi unjuk rasa di Mapolres Manggarai, Sabtu, 12 Mei 2018, di mana salah satu tuntutannya adalah mendesak polisi mengusut tuntas kasus penembakan warga sipil, Fredinandus Taruk pada 27 Maret 2018. (Foto: Ist)

Ruteng, Floresa.co   Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ruteng menuding polisi sengaja menyembunyikan pelaku penembakan warga sipil pada Maret lalu, yang hingga kini proses pengusutannya belum jelas.

Dalam aksi damai di Markas Polres Manggarai, Sabtu, 12 Mei 2018, mereka menyebut polisi tidak profesional, hingga hampir dua bulan pasca kejadian berdarah itu, belum ada perkembangan signifikan proses pengungkapannya.

“Aparat Polres Manggarai terkesan lamban dalam mengungkap pelaku. Patut diduga Polres Manggarai sengaja menyembunyikan identitas pelaku,” ujar Ketua Presidium PMKRI Ruteng, Servas Jemorang.

Fredinandus Taruk, warga Sondeng, Kelurahan Karot, Kecamatan Langke Rembong meregang nyawa sepekan setelah ditembak oleh orang tidak dikenal pada Selasa tengah malam, 27 Maret 2018 lalu.

Fredy ditembak saat sedang nongkrong bersama sejumlah rekannya, di mana ada juga seorang polisi yang bergabung dengan mereka.

Peluru belum sempat diangkat dari kepalanya saat ia menghembuskan nafas terakhir di RSUD Ben Mboi Ruteng. Saat itu ia memang hendak dibawa ke RS Sanglah, Denpasar Bali, karena keterbatasan sarana dan petugas di Ruteng.

Otopsi terhadap jenazah Fredy, pemuda 24 tahun itu pada 8 April lalu berhasil mengangkat proyektil, yang kemudian dibawa ke laboratorium forensik di Bali untuk diperiksa.

Pada 24 April, Kasat Reskrim Polres Manggarai, AKP Wira Satria Yudha mengatakan kepada Floresa.co, dari hasil pemeriksaan sementara, proyektil itu bukan dari jenis senapan angin, karena berbahan dasar kuningan. “Kelihatannya (dari) senjata api atau rakitan,” katanya.

BACA

Merujuk pada keterangan Yudha itu, Servas mengungkapkan, pengusutan kasus ini mestinya tidak sulit, mengingat peluru sudah teridentifikasi.

Siapa pun pelakunya, kata dia, polisi mesti profesional, apalagi jika pelaku ternyata dari kalangan aparat.

“Penembakan ini merupakan pelanggaran HAM serius. Polisi jangan main-main dengan kasus ini,” tegas Servas.

Dalam aksi unjuk rasa itu, mahasiswa tak berhasil menemui dan menyampaikan langsung tuntutannya kepada Kapolres Manggarai AKBP Cliffry S Lapian, yang dikabarkan sedang bertugas di luar daerah.

Mahasiswa hanya menyampaikan tuntutannya melalui Kabag Operasi, Agus Janggu.

Agus mengklaim, polisi terus bekerja profesional untuk mengungkap pelaku penembakan.

EYS/ARL/Floresa