Bandara Udara A.A. Bere Tallo Belu, Nusa Tenggara Timur. (Foto: Wikipedia).

FLORESA.CO – Wakil Bupati Belu JT Ose Luan mengatakan landasan pacu Bandara AA Bere Tallo Atambua di Haliwen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur segera diperpanjang menjadi 2.000 meter untuk mendukung aktivitas penerbangan di bandara tersebut.

“Landasan pacu Bandara AA Bere Tallo Atambua saat ini hanya mencapai 1.600 meter, namun kami sudah bebaskan 400 meter untuk mendukung upaya perpanjang landasan bandara tersebut menjadi 2.000 meter,” kata Ose Luan seperti dilansir ANTARA Senin 7 Mei 2018.

Ia menjelaskan pembebasan lahan sepanjang 400 meter tersebut sudah dilakukan ganti rugi oleh pemerintah dengan harga satuan Rp 115.000 per meter persegi, sehingga tidak ada masalah soal proses pembebasan lahan tersebut.

Mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Belu itu mengatakan pemerintahan Kabupaten Belu menargetkan perpanjangan landasan pacu Bandara AA Bere Tallo Atambua di Haliwen hingga mencapai 2.500 meter.

“Pertimbangannya, bandara yang terletak di daerah Haliwen itu merupakan satu-satunya bandara yang lebih dekat dengan perbatasan Timor Leste, sehingga perlu dipersiapkan lebih dini,” katanya.

Ose Luan menjelaskan, sebelumnya pemerintah daerah telah mengalokasikan dana dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) untuk pembebasan lahan 500 meter sehingga menjadi 2.500 meter.

Hanya saja, lanjutnya, masih dalam proses dengan pertimbangan perpanjangan landasan pacu sepanjang 400 meter yang sudah bebas terlebih dahulu dikerjakan.

“Untuk pembebasan 500 meter berikutnya nanti setelah yang 400 meter ini dikerjakan, karena persoalan lahan itu sensitif, sedikit saja orang bisa bilang mark-up,” katanya.

Menurutnya, pemerintah berupaya menghindari upaya-upaya mark-up anggaran dalam pembebasan lahan yang biasanya terjadi karena faktor pengaruh dari pihak-pihak tertentu yang membuat nilai tanah menjadi tidak wajar.

Ia mengatakan, saat ini nilai jual tanah di sekitar bandara menjadi lebih mahal setelah landasan pacu diperpanjang menjadi 1.600 meter.

“Dulu pembebasan menjadi 1.600 meter dengan harga Rp50.000 dan Rp 65.000 per meter, tapi selanjurnya bisa menjadi lebih mahal apalagi sekarang pesawat sudah tiga kali mendarat setiap hari,” katanya.

Ose Luan memastikan pemerintah daerah tetap berkoordinasi dengan pihak pertanahan maupun pemilik lahan agar pembebasan lahan untuk landasan pacu yang ditargetkan mencapai 2.500 meter berjalan lancar.

“Kalau landasan pacu memadai maka dapat disinggahi pesawat berbadan besar sekelas Boeing, dan tentu manfaatnya besar untuk masyarakat dan pemerintah di daerah perbatasan ini,” katanya.

ANTARA/FLORESA