Ada Info Aksi Eliminasi Anjing Tak Lama Sebelum Penembakan Fredy

0
1109
Ilustrasi

Ruteng, Floresa.co – Pelaku penembakan Fredinandus Taruk, warga di Kabupaten Manggarai masih misteri, meski terakhir Polres Manggarai yang menangani kasus ini sudah memberi sinyal bahwa proyektil yang sudah berhasil dikeluarkan dari kepala korban berbahan kuningan dan tidak berasal dari senapan angin.

Yang pasti, hingga sepekan lebih pasca kejadian dan Fredy menemui ajal, ia pergi tanpa mengetahui, siapa orang yang membuat hidupnya segera berakhir.

Dari penuturan para saksi mata, Fredy sedang dalam posisi berdiri saat tiba-tiba ia terjatuh dan darah mengalir dari kepalanya. Pada malam kejadian, Selasa, 27 Maret lalu itu, ia memang berkumpul bersama rekan-rekannya di daerah Sondeng, Kelurahan Karot, Kecamatan Langke Rembong.

Di tengah-tengah mereka saat itu, ada juga seorang polisi yang ikut nongkrong, yang diketahui bernama Damasus Sunding.

Dari mana datangnya peluru yang menembusi kepala Fredy itu?

Jawabannya tentu menanti hasil lebih lanjut dari langkah polisi.

Suasana olah TKP yang digelar pada Selasa, 10 April 2018 terkait kasus penembakan Fredianus Taruk, warga asal Sondeng, Kelurahan Karot, Kabupaten Manggarai. (Foto: Floresa)

AKP Wira Satria Yudha, Kasat Reskrim Polres Manggarai menyatakan pada Rabu, 25 April 2018, mereka masih memanti hasil uji proyektil itu di Laboratorium Forensik Denpasar, Bali.

Eliminasi Anjing Liar

Yang jelas, keluarga korban tidak sepenuhnya menyerahkan kasus ini ke polisi.

Sejak kejadian, mereka berupaya menggali informasi kepada sejumlah pihak, termasuk para saksi mata yang hadir di lokasi kejadian.

Yos Syukur, juru bicara keluarga korban mengatakan, dari informasi yang mereka kumpulkan, sekitar 30 menit sebelum kejadian penembakan itu, ada aparat yang mendatangi rumah warga di dekat lokasi kejadian, yaitu Boni Potenti, Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibnas) yang memang bertugas di wilayah Kelurahan Karot.

Malam itu, warga yang didatangi tersebut sedang menonton acara talkshow “Indonesia Lawyers Club” di stasiun televisi swasta TVOne.

Kepada warga itu, Boni menyampaikan bahwa pihaknya sedang melakukan operasi untuk “mengeliminasi anjing liar.”

Saat ia sedang berbicara dengan Boni, muncul juga Kanis Dimpung, Bintara Pembina Desa (Babinsa) dari Kodim 1612 Manggarai untuk wilayah Karot serta salah seorang warga setempat yang membawa senapan besar, yang diperkenalkan sebagai juru tembak.

“Setelah berbincang sebentar, ketiganya pamit dari rumah warga itu menggunakan kendaraan roda dua,” kata Yos.

Tidak ada kabar lebih lanjut terkait di mana lahan operasi aparat dan juru tembak itu pada malam tersebut.

Yang jelas, menurut saksi mata, saat penembakan yang terjadi sekitar 30 menit pasca kedatangan para aparat itu, polisi yang ikut bergabung dengan korban dan rekan-rekannya memilih lari, sebelum kemudian paman korban yang memutuskan menyelamatkan korban dan membawanya ke RSUD Ben Mboi, Ruteng.

Rabu dini hari, 28 Maret 2018, Kapolres Manggarai, AKBP Cliffry Lapian langsung ke RSUD menjenguk korban.

Peluru Nyasar?

Sehari setelah kejadian itu, Rabu, 28 Maret, Floresa.co mewawancarai Lapian.

Dalam keterangannya, ia langsung menyebut bahwa proyektil yang bersarang di kepala Fredy adalah adalah “peluru nyasar.”

Namun, kata dia, ia belum bisa memastikan sumber peluru itu. “Masih dalam penyelidikan untuk (mengetahui) peluru nyasar itu darimana,” katanya.

Ini adalah hasil rontgen yang memperlihatkan proyektil di dalam kepala Ferdinandus Taruk, warga Sondeng, Kelurahan Karot, Kabupaten Manggarai, yang menjadi korban penembakan pada 27 Maret 2018. (Foto: dok)

Lapian juga menjelaskan tentang keberadaan anggotanya di lokasi kejadian pada malam itu.

“Memang di sana ada polisi. Yang bersangkutan sebagai Babimkamtibmas di wilayah situ. Jadi, beliau, korban maupun beberapa teman mereka itu sedang berkumpul di situ, di pinggir jalan, sambil ngobrol-ngobrol,” katanya.

Ia juga mengatakan, polisi tersebut tidak membawa senjata api.

Namun, pernyataan Lapian itu kemudian dikoreksi oleh Yos dan menyebut polisi yang berada di lokasi pada malam itu sebenarnya bukanlah Babimkamtibmas di wilayah Kelurahan Karot, tetapi bertugas di wilayah tetangga, Kelurahan Satar Tacik.

Dalam keterangannya, Lapian juga mengaku tidak mendapat informasi soal operasi eleminasi anjing di wilayah tersebut.

“Operasi anjing? Bagaimana mekanismenya? Kita masih menyelidiki dulu, benar gak di sekitar situ ada kegiatan yang dinamakan operasi anjing itu,” katanya.

Yang pasti, kata dia, itu bukanlah kebijakan pihak kepolisan.

Perihal adanya operasi anjing itu, Maria Fransiska Inatia Pardani, Lurah Karot dalam penyataannya kepada Floresa.co membenarkan adanya hal itu.

Operasi itu, menurutnya, diambil setelah ada kasus gigitan anjing di kelurahan tetangga, Kelurahan Tadong.

“Karena ada kasus gigitan anjing, jadi, ada penertiban,” katanya.

Namun, jelasnya, penertiban itu berlangsung hari Senin atau sehari sebelum kejadian penembakan.

“Siang sampai malam ada penertiban di Tadong, hari Senin-nya,” katanya.

Ia menjelaskan, dalam upaya ini, pihak kecamatan juga dilibatkan.

Ia tidak menjawab tegas ketika ditanya, apakah polisi juga dilibatkan. Sepengetahuannya, kata dia, dalam salah satu rapat di kantor bupati yang membahas masalah ini, tidak ada perwakilan dari polisi.

Namun, dari info rekan-rekannya, jelasnya, ada polisi yang mendampingi di Kelurahan Karot. “Babinkamtibmas-lah, tetap dilibatkan kalau ada penertiban,” katanya.

Terkait kehadiran Babinkambtimbas pada Selasa malam di salah satu rumah warganya yang menginformasikan akan menggelar operasi, ia menyatakan, “mungkin secara mandiri mereka melakukan itu.”

“Karena penertiban Selasa malam itu, saya tidak diinformasikan,” katanya.

“Saya dapat informasi (bawah ada penembakan) besoknya, Rabu 28 Maret, sore-lah sekitar jam empat,” katanya.

Teka-teki

Sementara itu, dari pihak keluarga, informasi terkait kehadiran aparat di rumah warga sesaat sebelum kejadian itu masih menjadi teka-teki.

Warga di Ruteng berkumpul di depan ruang jenazah RSUD Ben Mboi, tempat berlangsungnya otopsi jenazah Fredinandus Taruk, korban penembakan. (Foto: Floresa)

Apalagi, Bhabinkamtibmas, Babinsa dan juru tembak yang malam itu hadir tidak pernah menjenguk keluarga korban, sejak kejadian, hingga korban meninggal.

“Mereka tidak pernah membangun komunikasi dan atau mendatangi keluarga korban,” kata Yos.

Hal yang juga aneh dalam peristiwa ini, kata dia, ketika korban terjatuh, semua saksi yang nongkrong bersama korban termasuk polisi panik dan berlari meninggalkan korban.

“Mengapa mereka lari? Diduga kuat mereka mendengar letupan senjata dari jarak dekat sehingga mereka berlarian dan mengetahui siapa pelaku penembakan itu,” tuding Yos.

Ia juga menyatakan keheranan, karena berdasarkan informasi yang mereka peroleh, ada saksi di TKP yang mengatakan, mereka baru mengetahui jika korban terkena peluru karena hasil rontgen.

“Lalu, kenapa mereka lari ketika korban terjatuh. Pernyataan saksi itu diduga di-setting oleh oknum tertentu sebagai alibi untuk menutupi jejak pelaku,” katanya.

Yos meyakini, aparat yang ada di TKP pada saat ini tidak mungkin tidak mengetahui sumber suara tembakan dan pelaku penembakan. 

Suasana di Kampung Carep, Kelurahan Carep, Kecamatan Langke Rembong saat jenazah Ferdinandus Taruk, korban penembakan, tiba pada Senin siang, 9 April 2018. (Foto: dok)

“Kalau dia tidak tahu, tidak mungkin dia lari dan mengamankan diri pada saat korban terjatuh,” katanya.

Ia menyatakan, lambannya pengungkapan kasus ini menimbulkan kecemasan sekaligus kecurigaan “bahwa ada persengkokolan dan konspirasi oknum tertentu dalam kasus penembakan ini,” lanjut Yos.

Ia menyatakan, jika kasus ini tidak tuntas, “keluarga cemas akan terjadi hal serupa terhadap pihak lain, baik di Karot maupun di wilayah lain di Manggarai.”

“Tentu saja, kami mengapresiasi langkah yang sudah dilakukan polisi. Tapi, kami berharap, kasus ini bisa berakhir dengan tuntas,” katanya.

EYS/FND/ARJ/ARL/Floresa

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini