Dandim Manggarai: Anggota Saya Tidak Pegang Senjata

0
4317
Ini adalah hasil rontgen yang memperlihatkan proyektil di dalam kepala Ferdinandus Taruk, warga Sondeng, Kelurahan Karot, Kabupaten Manggarai, yang menjadi korban penembakan pada 27 Maret 2018. (Foto: dok)

Ruteng, Floresa.co – Pelaku penembakan yang menewaskan Ferdinandus Taruk di Sondeng, Kelurahan Karot, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai pada 27 Maret 2018 lalu belum terungkap.

Belum diketahui apakah pelaku merupakan masyarakat sipil atau aparat bersenjata seperti tentara, polisi, atau Brimob.

Namun Komandan Kodim (Dandim) 1612/Manggarai, Letkol CZI Hartanto, yang ditemui Floresa.co usai menghadiri rapat paripurna di DPRD Manggarai pada Rabu, 25 April 2018 siang memastikan bahwa proyektil yang menewaskan korban tidak bersumber dari senjata anggotanya.

“Kalau di Kodim saya, tidak ada satu pun anggota yang pegang senjata. Ketika memegang senjata, pada saat latihan menembak saja,” ujar Hartanto.

“Senjata, sehari-hari itu di gudang semua. Termasuk saya. Pernah lihat saya pegang senjata? Tidak pernah. Karena saya anggap, daerah sini tidak ada yang perlu saya takuti,” lanjutnya.

Ia mengungkapkan alasan senjata anggotanya dikumpulkan di gudang. “Semua wilayah Manggarai, Manggarai Timur, sampai Manggarai Barat, semuanya aman. Di wilayah ini tidak ada yang perlu ditakuti,” ujarnya.

Ia juga memastikan bahwa saat terjadinya peristiwa penembakan terhadap korban, tak ada satu pun anggotanya yang bersenjata. “Jangankan saat peristiwa, saat ini pun bisa dicek. Tidak ada satu pun anggota saya pegang senjata,” katanya

Ia juga menjelaskan, setiap senjata yang dikeluarkan dari gudang untuk digunakan oleh anggotanya wajib ia ketahui. “Kalau senjata keluar itu minimal atas perintah saya. Pasti sepengetahuan saya senjata itu keluar,” katanya.

Memegang senjata tanpa sepengetahuan dan perintah pimpinan, apalagi jika menggunakan senjata untuk tujuan di luar perintah pimpinan, konsekwensinya sangat tinggi.

“Jadi tidak mungkin anggota saya memegang senjata. Karena konsekuensinya tinggi sekali. Konsekuensi kalau mereka melakukan sesuatu di luar perintah saya, itu dengan pemecatan,” katanya.

“Saya sebagai Dandim di sini menjamin tidak ada anggota saya yang memegang senjata,” lanjut Hartanto.

Fredy ditembak saat sedang nongkrong bersama teman-temannya di daerah Sondeng. Hingga ia meninggal pada 8 April 2018, peluru masih bersarang di kepalanya. Dan, atas desakan keluarga, dilakukan proses otopsi untuk mengangkat peluru itu.

Polisi masih menyelidiki kasus ini dan menunggu hasil pemeriksaan jenis peluru di laboratorium forensik Denpasar, Bali.

EYS/ARL/Floresa

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini