Antar Ferdi ke Pemakaman, Beberapa Kali Ibu Monika Pingsan

0
2784
Suasana di Kampung Carep, Kelurahan Carep, Kecamatan Langke Rembong saat jenazah Ferdinandus Taruk, korban penembakan, tiba pada Senin siang, 9 April 2018. (Foto: dok)

Ruteng, Floresa.co – Monika Ngunur, ibu dari Ferdinandus Taruk (24) – korban penembakan di Manggarai – tidak kuat saat mengantar anaknya ke peristirahatan terakhir, Senin siang, 9 April 2018.

Dalam perjalanan menuju pemakaman umum di Kampung Carep, Kelurahan Carep, Kecamatan Langke Rembong, yang merupakan kampung asal mendiang ayah Ferdi, Ibu Monika beberapa kali pingsan.

“Di kuburan, ia (juga) sempat lemas,” kata Yos Syukur, kerabat korban.

Ibu Monika, kata Yos, juga sempat pingsan saat jenazah anaknya tiba di rumah, Minggu malam, usai proses otopsi di RSUD Ben Mboi, Ruteng.

Menurutnya, Ibu Monika tidak mampu menghadapi kenyataan anaknya meninggal dengan cara sadis.

”Ferdi merupakan tulang punggung bagi keluarga. Ia menggantikan peran ayahnya yang telah meninggal dunia beberapa tahun silam,” katanya.

“Keluarga sangat kehilangan sosok Ferdi,” lanjut Yos.

Isak tangis keluarga mengiringi pemakaman korban, sejak Misa arwah yang dipimpin oleh Pastor Adri Nahal, OFM di rumah duka di Karot.

Usai Misa, ratusan orang ikut menuju Carep. Iring-iringan kendaraan roda dua dan roda empat membuat warga sepanjang jalan yang dilalui berhamburan keluar rumah.

Sesampai di Carep, jenazah sempat disemayamkan di rumah keluarga untuk menjalani ritual adat. Isak tangis keluarga juga pecah menyambut jenazah Ferdi.

Usai ritual adat, jenazah kemudian ditandu menuju pemakaman.

Ferdi dimakamkan di samping makam mendiang ayahnya, Paulus Jehana.

Ferdi ditembak pada Selasa malam, 27 Maret 2018, saat ia sedang nongkrong bersama sejumlah rekannya, juga seorang polisi di Sondeng, Kelurahan Karot.

Dari penuturan para saksi mata, Ferdi sedang dalam posisi berdiri saat tiba-tiba ia terjatuh dan darah mengalir dari kepalanya.

Sempat dirawat di RSUD Ben Mboi Ruteng, sambil menanti keadannya membaik, untuk kemudian dioperasi di RS Sanglah, Denpasar, Bali, ia kemudian meninggal dunia pada 7 April 2018.

Atas desakan keluarga, polisi kemudian melakukan otopsi pada 8 April, untuk mengangkat proyektil di kepala Ferdi.

Hingga kini, kasus ini masih ditangani polisi. Rencananya, Rabu esok, proyektil akan dibawa ke Denpasar, Bali untuk diperiksa di laboratorium forensik.

Kepala Satuan Reskrim Polres Manggarai, AKP Wira Satria Yudha sempat menyebutkan bahwa proyektil tersebut berbahan kuningan.

Namun, ia tidak menyebutkan info rinci terkait kemungkin senjata apa yang menggunakan proyektil itu.

EYS/ARL/Floresa

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini