Mgr Paskalis: Paskah Mesti Jadi Momentum Membangun Kultur Kehidupan

0
318
Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM Uksup Bogor saat memberikan sambutan dalam pembukaan Rapimnas Pemuda Katolik di Bogor, Jumat, (27/10/2017).

Floresa.co – Uskup Bogor, Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM menegaskan, Paskah mesti menjadi momen bagi umat Katolik untuk membangun kultur kehidupan.

Hal itu, kata dia, tampak dalam sejumlah tindakan, termasuk berbagi kasih, memberi kesempatan kepada orang lain berkembang, menaruh perhatian terhadap orang sakit dan membangun kembali relasi kasih dalam keluarga.

“Paskah memberitakan kepada kita bahwa di tengah-tengah kegelapan, sesuatu yang baru selalu muncul dalam kehidupan dan cepat atau lambat menghasilkan buah. Betapapun gelapnya segala sesuatu, kebaikan selalu muncul kembali dan menyebar,” ungkapnya dalam surat Gembala Paskah 2018, yang dikutip Katoliknews.com.

“Yang penting kita menyadari bahwa kita berjuang bersama dan mengikuti Kristus. Itulah optimisme manusia yang percaya pada kekuatan Terang Sejati, Tuhan kita Yesus Kristus. Kita mesti bisa mengalahkan egoisme atau penyembahan diri kita,” lanjut Mgr Paskalis.

Dalam suratnya itu yang dipublikasi di website resmi keuskupan, ia juga mengajak umat untuk “merayakan Paskah sebagai peristiwa kebangkitan komitmen iman Katolik dan komitmen kebangsaan.”

“Paskah adalah momentum untuk mempembaharui semangat hidup dalam lingkungan keluarga, sekolah, gereja, tempat kerja dan negara. Manusia Paskah adalah manusia yang mau mengalami kebangkitan semangat hidup. Jadilah manusia yang penuh semangat, antusias dan optimistis,” kata uskup asal Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat ini.

“Bangkitlah dari manusia yang ragu, takut dan putus asa menjadi manusia yang penuh kasih dan pengharapan dalam iman kepada Allah. Jadilah orang Katolik yang sungguh juga berperan aktif dalam upaya menjaga, merawat dan menyelamatkan tanah air Indonesia. Inilah ciri utama manusia Paskah,” tegasnya.

Ia mengingatkan, dunia kita sekarang ini ditandai oleh pesimisme, fatalisme, hoax, perjuangan dari kesulitan-kesulitan hidup dalam keluarga dan masyarakat.

Kultur kematian seperti keraguan, putus asa, ketakutan, kebencian, dendam, pembunuhan hak dan kebebasan, primordialisme kesukuan, fanatisme agama, dan narkoba, jelas dua, juga tengah menggerogoti kemanusiaan kita.

“Dalam situasi yang seolah gelap dan tak ada harapan seperti ini, peristiwa Paskah menjadi sebuah oase di tengah kegersangan pengharapan,” katanya.

Kebangkitan Paskah, jelasnya, bukanlah peristiwa masa lalu, yang sudah lewat.

“Peristiwa itu tetap mengandung kekuatan yang menghidupkan, yang meresapi dunia hingga kini. Ketika segala hal tampak mati, tanda-tanda kebangkitan tiba-tiba muncul. Ini adalah daya kekuatan yang tidak dapat ditolak,” ungkapnya.

Menjadi manusia Paskah, kata dia, ditandai ole adanya antusiasme menatap kehidupan, sebagai medan berbagi kasih, berbagi penghiburan dan berbagi semangat, mengalahkan segala pengaruh dari hal-hal yang memandulkan kasih dan mematikan semangat berjuang, juga ketamakan akan materi, yang mematikan semangat berbagi.

ARL/Floresa

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini