Kerabat Korban Penembakan Pertanyakan Penjelasan Kapolres Manggarai

1
2008
Yos Syukur, kerabat korban kasus penembakan di Sondeng, Kelurahan Karot, Kabupaten Manggarai. (Foto: Ist)

Floresa.co – Pihak keluarga korban penembakan di Kabupaten Manggarai mempertanyakan penjelasan Kapolres AKBP Cliffry S Lapian terkait keberadaan salah seorang polisi di lokasi saat peristiwa terjadi.

Lapian mengatakan dalam wawancara dengan Floresa.co, memang ada satu orang polisi yang ikut nongkrong dengan korban pada Selasa tengah malam, 27 Maret 2018, saat  kejadian penembakan warga bernama Ferdinandus Taruk (27), warga Sondeng, Kelurahan Karot, Kecamatan Langke Rembong.

BACA: 

  1. Warga di Manggarai Ditembak Tengah Malam, Peluru Masih Bersarang di Kepala

  2. Kapolres Manggarai Akui Ada Polisi di Lokasi Penembakan Warga

Menurutnya, polisi itu sedang menjalani tugas jaga di wilayah Karot dan tidak sedang memegang senjata.

Yos Syukur, kerabat korban menyatakan mengapresiasi kejujuran Kapolres terkait keberadaan polisi tersebut.

Namun, ia menyangsikan benar tidaknya polisi tersebut tidak membawa senjata api, sebagaimana disampaikan Kapolres Lapian.

“Apakah mungkin aparat itu tidak membawa senjata dalam menjaga Kamtibmas (keamanan dan ketertiban masyarakat). Menjaga Kamtibmas tentu ada alat pendukung, antara lain senjata,” katanya.

“Kalau pihak aparat yang ada di TKP tidak bersenjata, berarti ada pihak ketiga atau penembak misterius yang sengaja menciptakan teror dan horor di Kelurahan Karot,” lanjut Yos.

Ia juga menjelaskan, informasi yang diperolehnya, polisi yang berada di lokasi itu bukan Bintara Pembina Kamtibmas di wilayah Kelurahan Karot.

Ia juga menyayangkan tindakan polisi itu, yang menurut dia, berdasarkan keterangan para saksi, malah ikut lari setelah terjadi tembakan.

“Apakah aparat itu tidak mengetahui sumber suara tembakan? Mengapa aparat ikut berlarian bersama saksi ketika korban terkena tembakan?

“Kepanikan aparat dan saksi menguatkan dugaan bahwa saudara kami ditembak dari jarak dekat dan mereka mengetahui siapa pelakunya,” tegasnya.

Ia pun meragukan penjelasan Kapolres yang menyatakan, penembakan dari jarak jauh.

”Kalau melihat hasil rontgen, peluru yang ada di kepala korban, kami masyarakat biasa hanya menduga kalau penembakan saudara kami ini dari jarak dekat,” katanya.

Ia menyatakan, mereka tidak menuduh siapapun, sambil menanti proses yang dilakukan polisi.

“Kami mengpresiasi tahapan yang sudah dilewati oleh Polres Manggarai dalam mengusut kasus ini”, tegasnya.

“Kami mendesak agar mereka secepatnya menangkap pelaku penambakan saudara kami,” lanjutnya.

Ferdinand Ambo/ARL/Floresa

1 Komentar

  1. Apakah pada saat kejadian, polisi yang sedang nongkrong bersama korban memakai seragam dinas??
    Kalau tdk memakai seragam dinas, saya pikir sebagai manusia biasa wajarlah kalau ia lari, toh siapa manusia yang tidak takut peluru??
    Kalau ia memakai pakaian dinas dan membawa senjata (yang tentunya juga sudah diajarkan pada saat mengikuti pembinaan dan pelatihan di akademi kepolisian), maka kasian sekali mental dan kapasitas aparat keamanan kita. .

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini