Penjelasan di Fanpage Facebook @humaspromanggarai. (Foto: Ist)

Floresa.coPemerintah Kabupaten Manggarai memberi klarifikasi terkait foto ritus penerimaan tamu dengan tata adat Manggarai yang viral di media sosial dan menuai banyak komentar bernuansa kecaman.

Klarifikasi itu disampaikan pada Rabu, 14 Maret 2018 dalam Fanpage Facebook @humaspromanggarai, yang dikelolah oleh Bagian Humas dan Protokol Setda Manggarai.

Dalam klarifikasi tersebut dijelaskan bahwa foto yang viral itu sebelumnya dipublikasi di Fanpage tersebut.

“Foto ini diabadikan…ketika Pemerintah Kabupaten Manggarai menerima kunjungan Sekertaris Dirjen PDTU (Pengembangan Daerah Tertentu) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI, Aisyah Gamawati dan rombongan pada hari Senin, 12 Maret 2018,” demikian penjelasan di Fanpage tersebut,

Tim sempat menyinggung berita yang dipublikasi Floresa.co terkait foto tersebut dan menyebut Fanpage mereka juga “mendapat banyak ‘inbox’ berisi permintaan klarifikasi dan penjelasan.”

BACA: Dianggap Hina Adat Manggarai, Foto Ini Jadi Viral

Mereka menjelaskan, terkait viralnya foto itu, Kabag Humas dan Protokol bersama seluruh staf sudah menemui Bupati, Kamelus Deno dan Wakil Bupati Victor Madur.

Dalam pertemuan tersebut, kata mereka, Deno menjelaskan bahwa posisi duduk seperti dalam foto itu itu tidak dimaksudkan untuk meremehkan atau menghina – sebagaimana ditulis Floresa.co – terhadap adat istiadat Manggarai.

Inilah foto yang menjadi bahan perbincangan di media sosial. Di dalamnya, tampak tiga orang tua adat duduk bersila di atas tikar, sementara Bupati Manggarai, Kamelus Deno dan wakilnya, Victor Madur bersama tiga orang tamu duduk di atas kursi. Mereka pun tampak tidak memperhatikan tua adat, yang salah seorang di antaranya kelihatan sedang berbicara sambil mengangkat seekor ayam.

“Desain ruangan serta situasi dan kondisi lainnya menjadi alasan ritus penerimaan adat di Aula Nuca Lale Kantor Bupati Manggarai dilakukan dalam tata posisi demikian,” demikian penjelasan tim, mengutip keterangan Deno.

Dijelaskan juga bahwa tua adat yang dilibatkan dalam acara itu memahami kondisi dimaksud.

Klarifikasi itu juga mengutip pernyataan Deno yang mengatakan, pihaknya sudah menanyakan kepada pada tua adat, apakah posisi duduk sebagaimana dalam foto itu dimungkinkan.

“Mereka bilang bisa. Maka, itu dilakukan,” demikian kata Deno. “Kita tidak melaksanakannya atas keputusan sendiri. Tua Adat kita libatkan,” lanjutnya.

Penyelenggaran acara itu di Aula Nuca Lale bermaksud untuk menunjukkan kepada tamu bahwa orang Manggarai sangat menghargai tamu, demikian menurut Deno.

Dijelaskan juga bahwa ruangan Aula Nuca Lale didesain mirip seperti Mbaru Gendang, lengkap dengan siri bongkok dan artefak kebudayaan, yang bertujuan memudahkan pemberian penjelasan kepada para tamu tentang rumah adat Manggarai.

“Ruangan ini selalu dipakai untuk menerima para tamu daerah,” demikian menurut tim Humaspro, sambil menambahkan bahwa pelaksanaan ritus penerimaan tamu adalah bagian dari upaya promosi budaya dan bentuk penghargaan pemerintah pada adat istiadat Manggarai.

Tim Humaspro juga menegaskan lagi sikap Bupati dan Wakil Bupati Manggarai terhadap reaksi netizen, yang berterima kasih atas adanya kritikan dan saran.

Deno juga mengungkapkan, “Jika harus diperbaiki (terkait posisi seperti di dalam foto yang dianggap melecehkan adat), kita akan perbaiki.”

Namun, Deno juga mengingatkan, semangat budaya Manggarai mestinya juga menjadi dasar nilai dalam bertutur dan memilih diksi untuk mengungkapkan pikiran.

“Di titik itulah kita bisa menilai yang berbicara itu orang yang tahu adat atau tidak,” katanya, sambil menyebut prinsip kritik dan saran dalam semangat budaya Manggarai yaitu kritis, santun dan berorientasi pada perbaikan dan kebaikan bersama.

Sementara itu, terkait sikap Victor Madur, dalam klarifikasi itu dijelaskan bahwa menurutnya, tidak setiap ritus adat “Tuak Curu” dan “Manuk Kapu” yang melibatkan bupati dan wakil bupati atau tamu dilakukan dalam posisi seperti di dalam foto yang menjadi viral itu.

“Di tempat lain, pada acara lain, posisinya lain. Poinnya adalah pada nilai inti acara tetap dalam semangat budaya Manggarai,” tuturnya.

Klarifikasi itu juga mengutip pernyataan Tua Golo Tenda, Agustinus P. Baruk, yang menerangkan bahwa  posisi tamu pada ritus demikian sesungguhnya fleksibel.

“Tamu duduk di kursi itu fleksibel karena kita tidak menerima dia di rumah adat, tetapi di kantor. Apa yang dilakukan selama ini tidak ada masalah. Yang paling penting bupati menjelaskan kepada tamu tentang ritual itu,” jelasnya.

Menurutnya, setelah ritus dilakukan, bupati memberi penjelasan tentang bagaimana sesungguhnya ritus dalam adat Manggarai.

“Bupati menjelaskan kepada tamu, jika diterima di rumah adat maka tamu juga menggunakan songke,” tutur Agustinus.

Baruk juga menyampaikan bahwa berbagai komentar yang muncul terkait foto itu menjadi masukan bagi pelaksanaan ritus serupa di kemudian hari.

Menurutnya, bagian terpenting dalam ritus itu adalah kata-kata yang disampaikan oleh yang membawakan ritus adat.

“Kita meminta roh untuk menjaga tamu yang hadir, mengamankan tamu,” tuturnya.

Menurut Tim Humaspro, dalam setiap ritus penerimaan tamu, bupati dan wakil bupati Manggarai selalu menyampaikan penjelasan terkait makna dan tata cara ritus tersebut.

“Dalam berbagai kesempatan, kepada para tamu dijelaskan bahwa tuak putih dalam kendi, dan ayam putih melambangkan ketulusan dan kegembiraan dari pemerintah dan masyarakat atas kehadiran tamu. Sedangkan topi dan selendang menandakan bahwa para tamu telah menjadi bagian dari orang Manggarai,” demikian penjelasan mereka.

Mereka juga menyatakan, terkait posisi tamu di foto tersebut yang disebut tidak menghargai ritus adat, karena diianggap sedang “main hape”, sesungguhnya tamu tersebut sedang mendokumentasikan ritus adat yang baru pertama kali mereka saksikan.

“Hal ini disampaikan juga oleh Sekjen PDTU dalam sambutannya, sebagaimana terdokumentasi dalam video Humas dan Protokol Setda Kabupaten Manggarai,” demikian penjelasan tim.

Pantauan floresa.co, klarifikasi tersebut segera mendapat tanggapan beragam dari netizen.

Klarifikasinya sdh pas dan memuaskan,” tulis pemilik akun Apolinarius Rokefeler Soleman.

Namun, ada juga yang mengkritik penjelasan tersebut.

Penjelasan lengkap tetapi masih menyisakan tanya. Kalau sifatnya fleksibel apa bisa dimungkinkan juga petoroknya menggunakan kursi?,” komentar pemilik akun Ronald Adipati.

“Bang keta tema kursi telu’n kudut ata tua so ko,” tulisnya lagi dalam Bahasa Manggarai, yang secara harafiah berarti, apakah memang tidak ada kursi untuk ketiga tua adat dalam foto itu.

“Bukankah lebih elegan jika term fleksibel itu diartikan dengan duduk sejajar dikursi? Mengapa harus menerjemahkan fleksibel dengan tikar? Kalau diberikan kursi, sy yakin tua adatnya mau juga e,” komentar Ronald.

Pemilik akun Petrus Agus menyatakan,Seperti apapun penjelasan klo memang dilihat dari posisi duduk tidak etis dari sisi adat.”

ARL/Floresa