Dianggap Hina Adat Manggarai, Foto Ini Jadi Viral

20
19280
Foto ini, yang memperlihatkan momen penerimaan tamu dengan tata adat Manggarai, yang tampaknya berlangsung di kantor bupati Manggarai menjadi viral di media sosial. (Foto: Ist)

Floresa.co – Sebuah foto penerimaan tamu dengan tata adat Manggarai, yang tampaknya berlangsung di kantor bupati Manggarai menjadi viral di media sosial, di mana muncul kecaman karena dalam foto tersebut tampak tua adat tidak dihargai.

Foto itu kini beredar di jaringan Facebook dan grup-grup Whats App.

Di dalamnya, tampak tiga orang tua adat duduk bersila di atas tikar, sementara Bupati Manggarai, Kamelus Deno dan wakilnya, Victor Madur bersama tiga orang tamu duduk di atas kursi.

Mereka pun tampak tidak memperhatikan tua adat, yang salah seorang di antaranya kelihatan sedang berbicara sambil mengangkat seekor ayam.

Foto itu mendapat beragam tanggapan, di mana Deno dan pejabat lainnya disebut memperlihatkan contoh buruk dan tidak menunjukkan atensi terhadap adat Manggarai.

Pemilik akun Chelluz Pahun, salah satu yang mengunggah foto tersebut di Facebook memberi keterangan, “Seperti Relasi hamba dgn Tuan. Adat manggarai tu gini ya?”

Sementara Jovially Satriano Valentino menulis, “Adat jaman now. NEKA BE’ WA ATA, BETAT’ ITE.” (Tidak boleh orang lain [duduk] di bawah, Anda [duduk] di atas)

Terhadap postingan di akun milik  Hieronimus Marus Jehani, yang bertanya, “apakah benar adat Manggarai seperti ini,” pemilik akun Nasri Jimi berpendapat, mestinya semua yang ada dalam ruangan itu sama-sama duduk di atas tikar.

“Sy rasa tuan rumah nya yg bertanggung jawab. Kalo memang mau ikut adat atau mau disetarakan ya harus siapin tikar,” tulisnya.

Sementara itu, pemilik akun Frans Dancung menyatakan, “melihat foto ini dan mencoba menganalisanya saya berani mengatakan SANGAT tidak mencerminkan sesuai adat Manggarai aslinya. SANGAT MEMALUKAN.”

“Bupati sebagai kepala daerah dan sebagai tokoh Manggarai bahwa nilai nilai adatistiadat dan tatacara adat Manggarai mestinya harus dijaga dan memelihara kelestarian nya agar generasi kita bisa menirunya. Karena bagaimanapun walaupun kita dijaman moderen ini kita semua asalnya dibesarkan sesuai ajaran adat istiadat kita manggarai,” tambahnya.

Mengomentari perdebatan tentang peristiwa dalam foto itu, Pastor Vinsensius Darmin Mbula OFM, imam kelahiran Benteng Jawa, Kabupaten Manggarai Timur mengatakan, apa yang ditunjukkan oleh Deno dan wakilnya bersama para pejabat lain memang tidaklah elok dan memperlihatkan bentuk perendahan terhadap kultur, kearifan lokal.

“Dari segi cara duduk, tampak para pemegang kekuasaan itu tidak menaruh perhatian pada apa yang sedang disampaikan tua adat,” katanya.

“Dengan bersikap demikian, mereka juga tidak menunjukkan kepada tamu bagaimana praktek keramahtamahan dalam adat Manggarai,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, pemerintah mestinya menjadi teladan dalam menghargai adat istiadat.

“Apalagi, alasan mereka menyambut tamu itu adalah memperlihatkan kekayaan budaya Manggarai. Bagaimana mungkin mereka kemudian malah tidak menghargainya,” tegas imam Fransiskan yang juga Ketua Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK) ini.

Sementara itu, merespon kritik publik, Deno mengatakan, berterima kasih dan menyebut itu, “karena kecintaan kita bersama akan budaya Manggarai demi perbaikan ke depan.”

“Semangatnya budaya Manggarai. Semangat budaya Manggarai yang sama itulah juga mestinya menjadi dasar nilai dalam bertutur, memilih diksi untuk mengungkapkan pikiran kita tentang apa saja. Karena itulah, kita bisa menilai yang berbicara itu orang tahu adat (Manggarai)  atau sebaliknya tidak tahu budaya,” kata Deno dalam pernyataannya yang dikirim di salah satu grup Whats App.

Ia menambahkan, dirinya teringat tulisan Herbeth Feith, yang menyebut, kualitas orang diukur dari ucapanya, dari kata-kata atau diksi yang digunakan waktu berbicara atau yang dituangkan dalam bentuk lain seperti tulisan.

Namun, dalam pernyataannya itu, ia tidak menjelaskan alasan pengaturan posisi duduk yang tampak dalam foto tersebut, hal yang menjadi salah satu fokus pertanyaan banyak pihak.

ARL/Floresa

Baca klarifikasi lengkap Pemkab Manggarai terkait foto ini di sini: Pemkab Manggarai Klarifikasi Foto Ritus Penerimaan Adat yang Viral

20 Komentar

  1. kalau mengaku diri sebagai ‘mendi’ maka akan menjadi ‘mendi benaran.
    sudah saatnya untuk tingkatkan harkat ‘mbaru gendang’ beserta adat istiadatnya, ‘weku wai rentu sa’i’ bukan wéku wa’i ndogét riti’.

  2. Pejabat sperti ini patut dipertanyakan kwalitasnya!!!!!!!!!sangat tdk pantas seorang pemimpin melakukan sperti ini.

  3. Kebenaran dari budaya dalam kontex aksi menurut saya ialah terjadi atas kesepakan bersama dalam suatu komunitas/ masyarakat dan dilaksanakan secara turun temurun. Nah pertanyaan saya, apakah kesepakan para leluhur kita, kalau kembali pada peristiwa ini, apakah dibenarkan menurut norna norma kesepakatan leluhur kita?

  4. Budaya adalah napas dari kehidupan tak menghargai dan tak punya budaya berarti benda mati..

    Ite ca tana congka sae,lonto cama padir wai rentu sai,,reje lele

  5. Su gguh sangat di luar dugaan,
    Sikap pemimpin yg menunjukan kesombonganx ini terhadap rakyat sendiri.terhadap orang2 yg lebih tua yg mana dia bisa jadi pemimpin karena didikan dri or g yg lebih tua..ini sangat melecehkan Adat istiadat di manggarai,bukan hnya adat Agama juga.

  6. miris skali gmbar diatas.. mrka sbuk masing2 sdngkan, pra tua adat semntara berbicara.. bgmna org lain bisa menghargai kalo tuan rumah sja tdk menghargai.. berikan contoh yg kurang baik.. seperti bukan org manggarai sj..

  7. Sebenarnya dia belom bisa jadi seorang pemimpin jika adat istiadat manggarai belom bisa memahami sebetulnya.
    Ini tandanya bahwa anak manggarai Sebagai pemimpin yang memimpin masyarakatnya di luar jalur istiadat manggarai.
    Untuk jadi seorang pemimpin di suatu daerah paling tidak harus memahami yang namanya adat.
    Sebab jika sejalan dengan adat maka apapun projek untuk kedepanya pasti berjalan dengan lancar dan sangat berkesan

  8. Seharusx sebagai seorg pemimpin mmberikan contoh yang baik… apakah ad manggarai kita seprti ini?? Sy sbgai mhasiswa dan masyarkt mnggrai sngat kecwa trhadap sikap buruk dr fto trsbut dimna tua adat bgtu tdk dihrgai sbgai msyrkt mnggrai saya bnar2 kecwa atas prilaku buruk yg tdk pntas untk di publikasikn..

  9. Saya putra Manggarai,sangat tidak setuju menyikapi sifat buruk para pemimpin Manggarai.
    Semoga kejadian ini menjadi cambuk bagi para pemimpin agar tidak menganggap dan memandang budaya Manggarai sebelah mata, apapun jabatannya.

  10. Sangat miris kalau masalah ini di biarkan ,Bupati manggarai Deno kamelus seolah acuh tak acuh dengan budaya dan mengajarkan tidak benar pada generasi penerus manggarai, harus cepat disikapi.

  11. Apa perlu sompo wa mai nggolo mai lami ta ite.
    Kudut senget koe tegi dami sot wa mai..

  12. Emang bangga gaw . . .ngo eta kantor bupati kaling nggo kaut tiba d cai eta . . . .sedih lelon ew ema.

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini