Pementasan seni dalam acara pembuka Festival Komodo di Labuan Bajo, ibukota Kabupaten Manggarai Barat, Senin, 5 Maret 2018. (Foto: Aidin)

Labuan Bajo, Floresa.co – Festival Komodo kembali diselenggarakan tahun ini di Labuan Bajo, ibukota kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Festival yang bertujuan memperkuat daya tarik wisata di NTT ini berlangsung sejak Senin, 5 Maret hingga Sabtu, 10 Maret mendatang.

Tempat penyelenggaraannya berbeda dari tahun sebelumnya. Jika tahun 2017 berlangsung di Batu Cermin, kini diselenggarakan di Lapangan Kampung Ujung, tempat yang dekat dengan pusat wisata kuliner, salah satu tempat yang paling digemari wisawatan asing di Labuan Bajo.

Berdasarkan pantauan Floresa.co,  acara pembukaan pada Senin berlangsung meriah. Menjelang pembukaan pada pukul 16.00, 20 stand yang berada di keempat sisi Lapangan Kampung Ujung sudah terisi.  Di sana ditawarkan aneka produk makanan, berbagai jenis tenunan, kerajinan dan minuman.

Ada juga stand komunitas peduli lingkungan yang menampilkan berbagai kegiatan kreativitas dan kerajinannya, termasuk stand Trash Hero yang bekerja sama dengan organisasi peduli lingkungan World Wildlife Fund (WWF) dan komunitas anak muda Labuan Bajo. Mereka memajangkan aneka hasil karya hasil daur ulang sampah.

Dari komunitas ini, beberapa anak mengenakan seragam kuning dan mengalungi identitas “polisi sampah”. Mereka berjalan keliling sambil membawa karung dan cekatan saat melihat sampah.

Selain stand, yang paling menarik perhatian adalah panggung utama yang berada di sebelah selatan lapangan. Seperangkat alat band sudah tersedia di atas panggung dengan suara yang begitu menggelegar.

Di depannya, berjarak sekitar tiga puluh meter, terdapat kemah bagi para tamu undangan yang menampung hingga sekitar 300 orang. Kursi yang dilapisi kain dominan putih dan merah sudah tersusun rapi.

Acara Pembukaan

Sekitar pukul 16.00, rombongan bupati dan wakil bupati bersama rombongan tiba di lapangan Kampung Ujung. Didahului pawai keliling kota dan mengarak beberapa patung komodo, mereka kemudian memasuki lapangan dengan menunggang kuda, berjalan keliling menyapa warga yang sudah hadir.

Acara lain pada pembukaan itu antara lain perarakan patung komodo sembari menari-nari, perkenalan paguyuban-paguyuban, pementasan tarian tradisional dari beberapa daerah, perkenalan hampir semua dinas di pemerintahan Mabar dan perkenalan pelaku usaha pariwisata.

Sebagai penanda acara pembuka pula, ada tarian massal yang menghadirkan sekitar ratusan siswi sekolah menengah. Dengan mengenakan seragam adat Manggarai, berupa  “bali-belo”, rok songke, atribut seperti selendang, menari di depan panggung utama.

Di bagian akhirnya, tarian ini juga berkolaborasi dengan kelompok Teater “Merah Putih”. Beberapa orang berlumuran lumpur dengan wajah bercatkan merah dan putih, beraksi di atas panggung.

Sembari meliuk-liuk di atas panggung, mereka diiringi lagu “Di Bawah Tiang Bendera” yang diselingi lagu Manggarai. Beberapa pemusik tampak siaga di atas panggung dengan seruling, gendang, gong, gitar dan tabuhan drum.

Sebagai acara pembuka, gerakan teaterikal ini menyedot perhatian penonton. Mereka saling tarik-menarik tali yang meliliti tiang bendera. Sesekali tampak kasar dan menghentak, sesewaktu tampak lembut dan halus.

Tiang bendera yang dipegang oleh seorang gadis yang mengenakan busana lengkap adat Manggarai teroleng kesana-kemari, bahkan sesewaktu seolah hampir jatuh.

Salah seorang penari yang ikut tampil dalam acara pembuka. (Foto: Floresa)

Di akhir teater, pekikan “Indonesia” berulang-ulang, disambut tepuk tangan meriah dari hampir semua penonton.

Target

Penyelenggaraan Festival Komodo tak terlepas dari promosi Labuan Bajo sebagai salah satu destinasi wisata.  Promosi tidak lain berkenan dengan keberadaan komodo, satwa langka yang mendunia dan keindahan wisata bahari, wisata alam serta kekayaan budaya di Mabar dan NTT umumnya.

Meskipun Taman Nasional Komodo sudah terbentuk sejak tahun 1980, namun perkembangan sektor pariwisata di NTT baru terjadi belakangan di era desentralisasi dan kian melejit pada pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Sejumlah kebijakan Jokowi telah mendongkrak pariwisata sejak terpilih menjadi presiden pada tahun 2014. Beberapa di antaranya adalah ia mengunjungi Labuan Bajo pada akhir tahun 2015 sekaligus meresmikan Bandara Internasional Komodo, menetapkan Labuan Bajo sebagai salah satu dari 10 destinasi prioritas tahun 2016, merencanakan pembangunan Badan Otorita Pariwisata (BOP), pembangunan infrastruktur pariwisata serta promosi yang masif.

Ia juga menetapkan 169 negara bebas visa kunjungan ke Indonesia dan menghapuskan regulasi Clearance and Approval for Indonesia Territory (CAIT) Kapal Wisata Asing secara elektronik atau E-CAIT. CAIT  merupakan perizinan yang wajib dimiliki oleh kapal asing sebelum memasuki wilayah perairan Indonesia. Hal itu memudahkan kapal cruise mengakses wilayah perairan Indonesia.

Dari upaya-upaya ini, ditargetkan jumlah kunjungan mencapai 500 ribu pada 2019 dan investasi sebesar Rp 16 trilliun. Artinya, melalui promosi besar-besaran, perbaikan infrastruktur, dan sejumlah kemudahan bagi wisatawan, jumlah wisatawan bisa naik sebanyak 5 kali lipat dari jumlah kunjungan tahun 2015 yakni sekitar 90 ribu kunjungan.

Tidak heran, upaya promosi antara lain melalui penyelenggaran Festival Komodo, yang rutin diadakan setiap tahun dan tahun ini merupakan yang kedua.

Untuk penyelenggaraan event ini, pemerintah menggelontorkan dana Rp 1, 5 milliar.

Gregorius Afioma/ARL/Floresa