Para siswa di SMP Negeri 10 Lamba Leda mengikuti pelajaran di bawah pohon kemiri, karena tidak ada ruang kelas, sejak sekolah itu berdiri pada 2013. (Foto: Floresa)

Benteng Jawa, Floresa.co – Lima tahun tidak memiliki gedung sejak sekolah diresmikan oleh Pemkab Manggarai Timur (Matim), peserta didik di SMP Negeri 10 Lamba Leda masih terlunta-luntah untuk bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM).

Kini, sekolah itu memanfaatkan gedung milik PAUD Meni Jaya untuk menjadi ruang kelas dan rumah Posyandu sebagai kantor sekolah.

Namun, hanya ada satu kelas yang bisa tertampung di gedung PAUD, yaitu kelas IX dengan jumlah siswa 49 orang.

Sebagian  para peserta didik di sekolah yang terletak di Desa Goreng Meni itu mengikuti pelajaran setiap hari di bawah pohon kemiri, yakni kelas VII dengan jumlah siswa 29 orang dan kelas VIII dengan jumlah siswa 35 orang.

Seperti disaksikan Floresa.co, Senin, 5 Maret 2018, sepintas terlihat, KBM di bawah pohon rindang yang terdapat di samping gedung PAUD itu tampak unik dan menyenangkan. Siswa dan guru tidak terpaku dengan pemandangan yang tertutup di dalam ruangan.

Namun, kondisi tersebut sangat tidak nyaman bagi para siswa dan guru.

Pagi-pagi, para siswa bergegas ke tempat berlangsungnya KBM, usai upacara bendera.

Masing-masing siswa membawa kursi plastik yang diamankan di gedung PAUD, lalu menyusunnya di belakang bangku-bangku kayu yang masih berjejer di bawah pohon.

Kondisi tanah yang tidak rata membuat mereka harus menempatkan batang pisang di kaki meja dan kursi agar posisi meja dan kursi menjadi rata dan sedikit memberikan kenyamanan saat mereka duduk dan menulis.

Kemudian, beberapa siswa menggotong papan tulis sebagai perlengkapan KBM.

Untuk kelas VII, papan tulis langsung disandarkan pada pohon kemiri setelah diletakkan di atas sebuah meja kayu. Sedangkan untuk kelas VIII, papan tulis harus ditongkatkan menggunakan kayu. Setelah semuanya disiapkan, guru-guru pun memulai pelajaran.

Semakin lama, matahari beranjak meninggi. Suhu panas pun kian terasa bagi siswa yang posisi duduknya diterpa sinar matahari. Untuk menghindari panas, beberapa siswa harus memindahkan meja dan kursinya ke tempat yang teduh.

“Sekolah di luar ruangan ini tidak nyaman karena panas matahari. Kadang-kadang ada ranting pohon yang jatuh, kena kami. Kami tidak bisa konsentrasi mengikuti pelajaran,” tutur Geronsius Suparman, salah seorang siswa kelas VIII.

Selain itu, siswa juga terganggu ketika ada warga yang melintas. Kebetulan di sekitar tempat belajar siswa terdapat jalan yang digunakan warga untuk pergi ke kebun.

Di bawah pohon tersebut, juga terdapat banyak serangga seperti nyamuk yang kerap kali menggigit siswa dan guru.

Kondisi paling sulit ketika tiba-tiba hujan turun.

Mengangkat kursi, aktibitas rutin para siswa sebelum dan sesudah jam sekolah. (Foto: Floresa)

“Kalau hujan turun, kami terpaksa menghentikan pelajaran. Kami harus mencari teduhan. Setelah hujan berhenti baru kami bisa melanjutkan pelajaran,” kata Lusia Tuti, guru Mata Pelajaran Matematika.

“Tapi kalau hujan tidak berhenti, terpaksa kami pulangkan siswa,” lanjutnya.

Diabaikan

Sekolah ini, yang resmi beoperasi sejak tahun 2013 memang sejak awal tidak memiliki gedung.

Meski dengan fasilitas yang serba minim itu, kehadirannya disambut antusias oleh warga setempat.

Pasalnya, sebelumnya, mereka harus menempuh jarak yang lumayan jauh untuk bisa pergi sekolah ke Benteng Jawa, ibukota Kecamatan Lamba Leda, di mana terdapat salah satu SMP yang dikelola oleh Keuskupan Ruteng, yakni SMP Katolik Santo Paulus.

Jarak tersebut ditempuh selama lebih dari satu jam saat pergi dan lebih dari dua jam saat pulang. Kondisi jalan sudah diaspal dan separuhnya baru dilapisi batu. Namun, medan jalan sangat sulit, di mana banyak terdapat tikungan.

Perjalanan mendaki dari wilayah Desa Goreng Meni menuju Benteng Jawa membuat mayoritas anak usia SMP di desa itu harus putus sekolah.

“Karena untuk ke sekolah, (anak-anak) kami harus melewati medan jalan yang sulit hingga menghabiskan waktu tempuh lebih dari dua jam jalan kaki,” kisah Aleksius Talis, Kepala Desa Goreng Meni. 

Dengan hadirnya SMP 10 Lamba Leda sejak lima tahun lalu, kata dia, dampaknya sangat terasa.

“Selama lima tahun terakhir, tak ada lagi anak putus sekolah. Anak-anak yang tamat SD dengan mudah melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP karena tak harus pergi jauh lagi ke Benteng Jawa,” lanjut Aleksius.

Namun, kata dia, hadirnya sekolah yang telah menamatkan 79 alumnus ini tidak cukup.

Ketidaan gedung, jelasnya, membuat suasana belajar mengajar sangat memprihatinkan.

Pihak sekolah, masyarakat, dan pemerintah Desa Goreng Meni hingga Camat Lamba Leda sudah berkali-kali memperjuangkan agar mereka bisa mendapat gedung.

Mulai Musrenbang tahun 2013 sampai 2018, mereka mengusulkan hal ini sebagai salah satu agenda prioritas untuk diakomodir dalam APBD Manggarai Timur.

Namun, nyatanya, dalam anggaran tahun ini, tak ada alokasi untuk pembangunan gedung SMP itu.

Padahal, kata Robertus Ombe, ketua komite sekolah, warga telah menyediakan lahan seluas satu hektar dari lahan umum untuk membangun sekolah tersebut.

“Kami tidak mengerti juga dengan kebijakan pemerintah daerah. Sekolah negeri, tetapi tidak ada gedung. Kenapa sampai begini?” katanya.

Aleksius Rahman, Camat Lamba Leda berjanji akan terus berupaya agar harapan warga dan pihak sekolah bisa terpenuhi.


“Tentu kami terus berharap agar Pemkab Manggarai Timur mencari solusi agar bisa mengatasi kondisi ini,” kata Aleksius.

EYS/ARL/Floresa