Wae Ara, sekitar 200 meter arah timur dari Jembatan Wae Naong di perbatasan Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur. Di sini, belum ada jembatan, sehingga kendaraan yang melintas harus melewati kali. (Foto: dok.)

Benteng Jawa, Floresa.co – Ruas jalan Pagal – Wae Naong – Benteng Jawa merupakan salah satu jalan alternatif yang menghubungkan Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Manggarai Timur di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di ruas jalan itu terdapat Jembatan Wae Naong, yang terletak di antara Kecamatan Cibal, Manggarai di bagian barat dan Kecamatan Lamba Leda, Manggarai Timur, di bagian timur.

Perjalanan dari Pagal, ibukota Kecamatan Cibal hingga perbatasan di Wae Naong terasa nyaman. Meskipun harus menyusuri jalan yang meliuk-liuk dengan tikungan yang cukup tajam serta jurang yang curam pada salah satu sisi serta tebing pada sisi yang lainnya, namun kondisi jalan yang sudah beraspal membuat pengguna jalan menikmati kenyamanan perjalanan.

Namun tidak demikian ketika melewati jembatan Wae Naong dan memasuki wilayah Desa Tengku Lawar, Kecamatan Lamba Leda.

Pantauan Floresa.co pada Minggu, 4 Maret 2018, sekitar dua ratus meter dari jembatan, masih terlihat lapisan aspal, meskipun kondisinya sudah rusak parah. Perjalanan pun mulai memacu adrenalin.

Semakin jauh dari batas kabupaten hingga kampung Kenca, Desa Lamba Keli, kondisi jalan tampak semakin buruk. Tampak jalan sepanjang kurang lebih tiga kilometer belum tersentuh aspal. Pada banyak titik, lapisan batuan sudah terbongkar dari badan jalan.

Lapisan batu putih yang saat itu diterpa hujan menjadi sangat licin. Roda kendaraan semakin sulit melintasi jalan tersebut. Sesekali harus berhenti, mundur untuk ambil ancang-ancang sebelum tancap gas. Kendaraan roda empat harus menggunakan derek untuk bisa menaklukkan medan jalan yang ekstrim itu.

Tak hanya itu, medan jalan berupa tanjakan curam dengan kelokan tajam karena harus melintasi wilayah yang terjal di bagian barat wilayah Kecamatan Lamba Leda.

Camat Lamba Leda, Aleksius Raman, mengatakan jalan tersebut merupakan jalan alternatif untuk keluar wilayah itu.

“Kami kalau ke Ruteng lebih cepat lewat Wae Naong, terus ke Cibal. Kondisi jalan di seberang sungai Wae Naong juga bagus sehingga mayoritas warga yang bepergian ke Ruteng melewati jalan itu,” ujarnya.

Warga Lamba Leda, Robertus Ombe mengaku kondisi jalan tersebut kerap mencelakai pengguna jalan.

“Beberapa hari lalu, kami lewat jalan itu. Dua motor yang kami gunakan rusak karena terseret di batu putih yang licin,” ujar Robertus.

Ia berharap, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur bisa mengalokasikan anggaran untuk pengaspalan jalan tersebut agar memudahkan warga bepergian dari dan menuju wilayah Lamba Leda.

Keluhan terkait rusaknya jalan tersebut juga sempat disampaikan oleh Pastor Vinsensius Darmin Mbula OFM, imam asal Benteng Jawa, ibukota Kecamatan Lamba Leda yang kini menetap di Jakarta.

BACA: Lewat Video, Pastor Ini Minta Pemkab Matim Bangun Jembatan di Wae Ara

Saat ia berlibur ke kampung halamnnya pada Januari lalu, ia sempat merekam sebuah video saat ia berada di Wae Ara, kali yang terletak sekitar 200 meter arah timur Jembatan Wae Naong.

Hingga kini, tidak ada jembatan di kali itu itu, yang membuat kendaraan yang melintas harus masuk ke dalam kali.

EYS/ARL/Floresa